Breaking News:

Tak Pernah Terlupakan, Ini Cerita Unik Warga Riau Saat Menanam Mangrove

Mangrove memiliki fungsi yang beragam, diantaranya mencegah terjadinya abrasi, intrusi air laut dan menjadi tempat berkembangbiaknya biota laut.

Editor: Ilham Yafiz
ISTIMEWA
Masyarakat sedang melakukan penanaman bibit mangrove di Desa Kepau Baru, Tebing Tinggi Timur, Kepulauan Meranti, Riau 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Mangrove memiliki fungsi yang beragam, diantaranya mencegah terjadinya abrasi, intrusi air laut dan menjadi tempat berkembangbiaknya biota laut.

Oleh karena itu, mangrove memiliki nilai ekonomi dan sosial. Mangrove juga disebut sebagai penyelamat bumi.

Pasalnya, mangrove mampu menyimpan karbon 4-5 lebih besar dari hutan tropis daratan, mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim dunia. 

Oleh karena itu, Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terbesar di dunia gencar melakukan percepatan rehabilitasi mangrove, termasuk yang diupayakan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). 

Adapun salah satu wilayah yang menjadi target rehabilitasi mangrove  BRGM adalah di Desa Kepau Baru, Tebing Tinggi Timur, Kepulauan Meranti, Riau. Program itu pun disambut warga dengan penuh semangat.

Bahkan, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Kepau Lestari Makmur, Licun bercerita ada momen unik yang tak akan pernah terlupakan, ketika dirinya dan warga bergotong royong menanam mangrove

“Namanya juga hutan kan banyak tawon, jadi saat kita akan menanam itu sempat dikejar-kejar bahkan disengat tawon. Untungnya tidak ada warga yang terluka, kami pun tetap semangat melanjutkan penanaman. Bahkan kami juga tak membunuh tawon-tawon tersebut dan membiarkannya hidup di alam,” ujar Licun sambil tersenyum saat bercerita terkait momen unik yang dialami kelompoknya saat menanam mangrove

Lebih lanjut Licun sampaikan, jika program rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh BRGM sangat membantu perekonomian warga, terutama bagi mereka yang mata pencahariannya sebagai nelayan ataupun buruh harian lepas. 

“Program ini tuh harus dimanfaatkan secara maksimal karena sangat membantu menyejahterakan warga. Kami sangat bersyukur, rezeki luar biasa ini bisa kami rasakan,” ungkap Licun. 

Sementara itu, Janter Pardede selaku Pendamping Desa Kelompok Tani Mangrove berharap, rehabilitasi mangrove di Desa Kepau Baru bisa mencegah terjadinya bencana alam. 

“Saya melihat rehabilitasi mangrove bisa melindungi desa ini dari abrasi. Soalnya sepanjang saya lihat selama 20 tahun, di mana per tahunnya ada enam meter yang habis atau hilang kena gelombang dan alam,” pungkasnya. 

Sejauh ini, capaian rehabilitasi mangrove di Desa Kepau Baru telah mencapai lebih dari 50% dari target sekitar 80 hektare.

Proses penanaman mangrove yang direncanakan selasai di akhir November 2021 ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu Kelompok Kepau Lestari Imanuel seluas 45 hektare dan Kelompok Kepau Lestari Makmur seluas 35 hektare. 

( Tribunpekanbaru.com )

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved