Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Banyak Warga Enggan Divaksin, Kampar Harus Terapkan PPKM Level 3

Semua jenis vaksin, baik Sinovac, Astrazeneca hingga Pfizer aman digunakan untuk masyarakat Indonesia. Masyarakat tidak perlu memilih-milih vaksin

Tribunpekanbaru.com/Johannes Tanjung
Semua jenis vaksin aman untuk masyarakat Indonesia. Memilih-milih jenis vaksin malah membuat warga tertunda mendapatkan vaksin 
TRIBUNPEKANBARU.COM - Minat warga untuk mendapatkan vaksin di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau menurun. Hal itu membuat presentase vaksinasi di daerah tersebut rendah. 
Menurunnya minat warga untuk mendapatkan vaksin diakui oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kampar.
Dinkes Kampar melalui Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), Haryanto mengatakan presentase vaksinasi dosis pertama di Kabupaten Kampar hanya sebesar 24 persen. 
Rendahnya presentase vaksinasi menyebabkan daerah tersebut terpaksa kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3. 
Sebelumnya, daerah tersebut sempat menerapkan PPKM level 2.
"Ini adalah konsekuensi dari rendahnya presentase vaksinasi Covid-19. PPKM Level 2 bisa diraih jika capaian vaksinasi dosis pertama sudah melampaui 40 persen," ujar Haryanto, Rabu (21/10/2021).
Haryanto pesimis jika Kampar bisa mencapai vaksinasi sebesar 40 persen dalam satu bulan ini. 
Sebab, untuk mencapai 40 persen, Kampar harus mengejar kekurangan sebanyak 16 persen lagi atau sekitar 110.000 orang. 
"Setidaknya kami membutuhkan waktu selama 51 hari untuk mengejar target tersebut dengan catatan per hari harus memvaksin 3.000 orang," katanya.
Menurunnya minat warga Kampar untuk mendapatkan vaksin lantaran masuknya vaksin jenis baru. 
Selain Sinovac, Kampar juga menggunakan jenis vaksin Moderna, Astra Zeneca dan Pfizer.
Namun, vaksin baru masih asing di telinga warga Kampar. Warga lebih memilih menggunakan Sinovac.
''Jenis vaksin yang baru belum begitu diterima," kata Haryanto.
Kampar gencar menggunakan vaksin Pfizer lantaran daerah itu memiliki banyak stok vaksin jenis tersebut.
Apalgi daerah itu baru mendapatkan 95.000 dosis Pfizer untuk dosis pertama.
Selain stok Pfizer yang banyak, masa penyimpanan jenis vaksin tersebut juga tergolong singkat jika dibandingkan vaksin jenis Sinovac.
"Masa penyimpanan Pfizer hanya disarankan selama dua bulan saja," ujarnya. 
Minimnya literasi informasi soal vaksin
 
Minimnya minat warga Kampar untuk mendapatkan jenis baru ternyata disebabkan oleh informasi hoaks soal vaksin Pfizer dan Astra Zeneca yang mereka terima. 
Beberapa waktu lalu, banyak beredar soal isu negatif tentang efek samping jenis vaksin tersebut.
Selain itu, minimnya informasi terkait jenis-jenis vaksin yang digunakan di Indoneisa menjadi salah satu faktor warga menolak vaksin jenis lainnya.
Suryani, warga Desa Sahilan Darussalam, kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar mengaku menunggu vaksinasi massal yang menggunakan vaksin Sinovac. 
Ibu dua anak ini khawatir tubuhnya tidak bisa menerima efek samping dari vaksin selain Sinovac.
"Saya takut, katanya ada orang yang lumpuh setelah disuntik vaksin selain Sinovac," ujar Suryani. 
Suryani lebih percaya dengan Sinovac lantaran sudah banyak saudara dan teman-temannya yang tinggal di daerah lain telah mendapatkan vaksin tersebut dan mereka baik-baik saja tanpa mengalami gejala yang berlebihan.
Ia juga mengaku mendapatkan saran dari saudara dan teman-temannya tersebut untuk menghindari vaksin selain jenis Sinovac.
"Teman-teman dan saudara saya sudah membuktikannya, sebab itu saya percaya. Sedangkan vaksin jenis lain, belum ada teman dan saudara yang menerima vaksin ini. Saya jadi agak khawatir," ujarnya. 
Tak hanya Suryani, Rahdian, warga Desa Silam, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar juga mengalami kekhawatiran yang serupa. 
Pria 35 tahun itu ingin divaksin asal menggunakan jenis Sinovac. 
Menurut Rahdian, vaksin tersebut sudah terbukti aman. Jika pun ada efek samping, gejalanya pun tergolong ringan.
"Informasi yang gencar saat ini kan Sinovas aman, teman dan keluarga juga sudah membuktikan. Kalau vaksin jenis lain, saya belum tahu apakah aman untuk orang Indonesia," ujar Rahdian.
Semua jenis vaksin aman dan berkhasiat

Berbagai merek vaksin COVID-19 yang ada di Indonesia, mulai dari Sinovac, Moderna hingga Pfizer dipastikan aman dan berkhasiat untuk masyarakat.

Dilansir dari covid19.go.id, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate pernah mengatakan jika semua vaksin yang saat ini ada di Indonesia sudah melalui kajian dari BPOM dan sudah mendapatkan Persetujuan Penggunaan Dalam Kondisi Darurat Atau Emergency Use Authorization (EUA) serta selalu dilakukan pengawasan.

Pemerintah juga memastikan akan selalu mengawasi proses vaksinasi di seluruh Indonesia.

Saat ini terdapat enam merek vaksin yang tersedia di Indonesia, yaitu vaksin CoronaVac (vaksin jadi dari Sinovac), Vaksin COVID-19 (vaksin hasil olahan Bio Farma dengan bahan baku dari Sinovac) vaksin Astrazeneca, vaksin Moderna, vaksin Sinopharm, dan vaksin Pfizer. Semua vaksin ini dipastikan aman untuk masyarakat.

Oleh karena itu, Johnny meminta masyarakat tidak perlu berbondong-bondong mencari merek vaksin tertentu.

Menunda vaksinasi hanya karena merek akan membahayakan diri dan orang lain karena risiko sakit berat bila terkena COVID-19 akan semakin tinggi.

"Segera vaksin sebelum terlambat dan selalu disiplin protokol Kesehatan. Virus COVID-19 adalah ancaman yang nyata dan ada di mana saja. Vaksinasi penting untuk membuat diri kita terlindungi dan mengurangi risiko sakit berat apabila kelak terpapar COVID-19," tegas Menkominfo.

(*)
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved