Breaking News:

Membangun Ketahanan Energi, Mewujudkan Indonesia Bebas Emisi

pemanfaatan EBT ini juga menjadi wujud nyata Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945

TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Kasubdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Edi Wibowo (kiri) memperlihatkan bahan bakar biodiesel pada acara Sosialisasi Pemanfaatan Biodiesel 20 persen (B20) di PT Pertamina Cabang Bandung, Jalan Wirayudha, Kota Bandung, Kamis (4/2/2016). Bahan bakar yang emisi gas buangnya (CO, NOx, dan HC) lebih rendah dibandingkan B0 (solar) itu mulai 1 Januari 2016 sudah ada di seluruh SPBU Jawa Barat. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pemerintah menargetkan Indonesia bakal mencapai Net-Zero Emissions pada tahun 2060. Untuk mencapai itu, pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) mesti terus diupayakan.

Sebab, EBT diyakini menjadi solusi atas tantangan sumber energi di masa depan. Disamping itu, innovasi pada bidang ini juga dapat menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pertamina sebagai BUMN yang mengelola penambangan minyak dan gas bumi di tanah air menyadari tantangan itu dan menjawabnya dengan berbagai innovasi. Menariknya, innovasi itu memanfaatkan alam geografis Indonesia. Sehingga, bahan bakunya tidak sulit didapatkan dan berasal dari dalam negeri.

Seperti pengembangan tumbuhan alga sebagai sumber energi baru. Siapa sangka, tumbuhan yang berlendir ini bisa menggantikan minyak bumi. Untuk menjumpai tumbuhan ini, juga tidak lah terlalu sulit di Indonesia.

Sebab, pertumbuhan Alga begitu cepat di daerah yang beriklim tropis. Oleh sebab itu, ledakan populasinya kerap dianggap masalah karena menganggu pemandangan.

Tetapi kini, jenis bahan bakar nabati yang dijuluki sebagai Biofuel Generasi Ketiga atau Blue Energy itu, berhasil disulap Pertamina melalui pengembangan fasilitas 5000 liter microalga photobioreactor. Proyek itu kini bersiap untuk mencapai skala komersial budidaya dan produksi pada tahun 2025.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan bahan mikroalga merupakan salah satu sumber daya energi terbarukan yang potensial di Indonesia. Mengingat, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lautan yang luas.

Selain itu mikroalga merupakan bahan baku independen yang tidak berkaitan dengan kebutuhan pangan dan kebutuhan lahan yang luas.

"Seperti kita tahu, dunia saat ini sedang ada di masa transisi energi. Pertamina pun tidak berdiam diri, namun kami juga melakukan langkah-langkah nyata untuk aktif terlibat dalam pengembangan energi terbarukan, dan salah satunya adalah energi berbahan mikroalga ini,” kata Dia.

Melansir Oilgae.com, alga bisa menghasilkan hingga 10 ribu galon per acre. Sementara Kedelai biasanya menghasilkan kurang dari 50 galon minyak per acre dan tumbuhan rapa seperti Bunga Matahari hanya menghasilkan kurang dari 130 galon per acre.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved