Breaking News:

Berita Bengkalis

Desa Pangkalan Jambi Bengkalis Raih Penghargaan Nasional, Sukses Proklim

Rasa bangga tidak terkira dirasakan masyarakat Desa Pangkalan Jambi Kecamatan Bukit Batu Bengkalis karena bisa meraih penghargaan tingkat nasional.

Penulis: Muhammad Natsir | Editor: Ariestia
Istimewa
Kegiatan Proklim di Desa Pangkalan Jambi dilakukan masyarakat. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, BENGKALIS - Rasa bangga tidak terkira dirasakan masyarakat Desa Pangkalan Jambi Kecamatan Bukit Batu kabupaten Bengkalis karena bisa meraih penghargaan tingkat nasional.

Pasalnya kampung mereka tanggal 19 Oktober lalu dinobatkan mendapat penghargaan langsung dari Meteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI sebagai desa yang sukses dalam pengelolan program kampung lingkungan iklim (Proklim) tahun 2021 ini.

Upaya untuk mendapatkan penghargaan Proklim di bukan waktu yang singkat. Butuh waktu sekitar tiga tahun menyiapkan desa Pangkalan Jambi hingga sukses mendapatkan penghargaan dari Menteri LHK RI.

Hal ini diungkap Alpan Ketua Kelompok yang menginisiasi Desa Pangkalan Jambi menjadi Desa Proklim kepada tribun, Minggu (31/10) siang.

Menurut dia awalnya dirinya bersama kelompok Harapan Bersama yang dibentuknya ingin mengagas pelestarian lingkungan terutama dalam pelestarian mangrove dengan tujuan menyelamatkan desa dari abrasi.

Kelompok yang bergerak sejak tahun 2004 ini awalnya sempat gagal, mereka sebelumnya menargetkan bisa mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Kementerian LHK RI.

Namun niat tersebut tidak tercapai dan gagal karena upaya pelestarian mangrove dilakukan saat awal dahulu banyak yang tidak berhasil.

Kondisi ini tidak membuat Alpan dan kelompoknya patah semangat, mereka terus berupaya mencari jalan agar bisa berhasil dalam penanaman mangrove ini.

Awal menanam mangrove dilakukan secara swadaya dengan membeli bibit mangrove dari uang sumbangan anggota kelompok nelayannya.

Ketika menanam mangrove dari ratusan mangrove yang ditanam yang hidup paling banyak sekitar satu atau dua batang aja.

"Kita saat itu hampir frustasi dengan usaha yang kita lakukan, setiap tahun menanam hanya sebagian kecil yang berhasil tumbuh," Kata Alpan.

Perjuangan Alpan bersama kelompoknya ini kembali bersemangat setelah mendapat dukungan berbagai pihak pada tahun 2017 lalu.

Mulai dari dukungan pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup hingga dari pihak swasta melalui CSR dari Pertamina RU II Sungai Pakning.

Mereka mendapatkan bantuan berupa pelatihan pengembangan mangrove serta pembinaan langsung melalui program CSR Pertamina Pakning.

Dengan adanya bantuan dari pemerintah dan CSR Pertamina RU II Sungai Pakning upaya dilakukan lebih serius.

Kemudian hasilnya pun nampak mangrove yang ditanam saat itu mulai terus berkembang sampai hingga berhasil meluas secara berlahan.

Dari keberhasilan inilah terbesit niat untuk mengikuti program kampung iklim Kementrian Lingkungan Hidup RI.

Upaya pertama dalam menuju Desa Proklim, pihaknya terus mengembangkan pelestarian mangrove bersama kelompok, kali ini pelestarian tidak hanya fokus untuk penangana abrasi saja namun juga punya target untuk mengembangkan ekowisata.

Usaha saat itu juga sempat mendapatkan pandangan sebelah mata oleh sebagian masyarakat setempat. Karena sebagian masyarakat menilai apa yang mereka lakukan tidak akan berhasil.

"Awalnya kami sering dapat cemoohan kalau apa yang kami lakukan mustahil bisa berhasil," tambahnya.

Namun saat itu Alpan dan rekan rekan satu kelompoknya tidak mengambil pusing apa yang dikatakan orang lain.

Cemohan yang didapatkan dianggapnya sebagai dukungan atau motivasi agar lebih serius lagi.

"Kami terus saja berbuat dan berhasil tumbuh mangrove dibibir pantai selat Bengkalis desa Pangkalan Jambi bisa tumbuh besar. Bahkan luas tanaman mangrove sepanjang bibir pantai tersebut sekitar tiga hektare," terangnya.

Setelah penanaman berhasil barulah upaya membuat tempat wisata baru di areal mangrove dilaksanakan. Keberhasilan ini juga mengubah pandangan masyarakat setempat terhdap upaya Alpan bersama kelompoknya.

Dengan dukungan masyarakat ini Alpan membangun track jalan di area mangrove tersebut serta spot foto untuk tempat berwisata. Alhasil ekowisata ini mulai ramai di kunjungi di tahun 2019 kemarin, bahkan Gubernur Riau sempat datang ke desa mereka untuk melihat langsung ekowisata ini tahun 2020 lalu.

Selain ekowisata kelompok Harapan Bersama juga melakukan pengelolaan buah dan daun mangrove. Buah dan daun diolah menjadi makanan dan dijadikan oleh oleh khas dari Desa Pangkalan Jambi dan memiliki nilai ekonomi

"Hasil olahannya sekarang ada sembilan jenis diantaranya sirup kedabu dan Pedada, dodol pedada, keripik dan amplang serta beberapa produk lainya. Bahkan hasil olahan ini sempat menghasilkan omset sampai 30 juta perbulan sebelum pandemi kemarin. Namun sekarang 90 persen berkurang," terangnya.

Selain itu kegiatan lain yang menunjang keberhasilan meraih desa Proklim ini juga berkat adanya bank sampah di desa ini. Bank sampah menampung sampah dari masyarakat yang masih bisa didaur ulang ditukar dengan nominal uang.

"Bank sampah di sini sebenarnya sudah lama ada hanya saha baru beraktifitas aktif sejak tahun 2019 lalu. Alhamdulilah juga membantu penghasilan masyarakat di sini," terangnya.

Penilaian Desa Proklim tahun 2021 dilakukan langsung dilakukan dewan juri dari KLHK pusat. Penilaian dilakukan pada bulan September lalu secara online oleh dewan juri, berbagai pertanyaan disampaikan kepada pihaknya.

"Banyak hal hal penting terkait pelestarian, bank sampah dan termasuk ekowisata yang ditanyai dewan juri dan kita bisa penuhi semua. Alhamdulillah hasilnya kita mendapatkan penghargaan Proklim yang diberikan Menteri KLHK secara virtual tanggal 19 Oktober lalu," terangnya. (Tribunpekanbaru.com/Muhammad Natsir)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved