Breaking News:

Berita Riau

Harimau Terkam Bocah 12 Tahun di Area PT MSK Inhil, Diduga Pemicunya Akibat Hal Ini

Berkurangnya populasi babi hutan secara drastis di Kecamatan Gaung Inhil sebagai makanan Harimau diduga jadi pemicu Harimau nekat menyerang manusia.

Penulis: T. Muhammad Fadhli | Editor: CandraDani
Istimewa
Seorang bocah perempuan berinisial MS (12) diterkam harimau sumatera sehingga meninggal dunia, Minggu (31/10/2021). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, GAUNG – Konflik antara hewan buas yaitu harimau sumatera dan manusia kembali terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), tepatnya di Desa Teluk Kabung, Kecamatan Gaung.

Seorang anak berusia 12 tahun berinisial MS menjadi korban serangan harimau sumatera dalam peristiwa yang terjadi di area penanaman PT. Mutiara Sabuk Khatulistiwa (MSK), Minggu (31/10/12).

Berbagai dugaan penyebab munculnya si belang pun terkuak setelah terjadinya peristiwa naas ini, satu di antaranya adalah tidak lagi tersedia makanan bagi si belang.

Berkurang bahkan habisnya populasi Babi yang biasanya menjadi buruan utama untuk di mangsa si belang tidak lagi ada di sekitar wilayah hutan Kecamatan Gaung.

Penyebab habisnya populasi babi di hutan Gaung ini pun masih menjadi misteri masyarakat setempat, mulai dari dugaan terkena penyakit hingga sebab lainnya yang masih tidak diketahui pasti hingga saat ini.

Baca juga: VIDEO: Bocah 12 Tahun Tewas Diterkam Harimau di Areal HTI PT MSK di Inhil Riau

Baca juga: Gadis 12 Tahun di Inhil Diseret Harimau Saat Tidur Bersama Orangtuanya di Tenda Terpal

Seorang bocah perempuan berinisial MS (12) diterkam harimau sumatera sehingga meninggal dunia, Minggu (31/10/2021).
Seorang bocah perempuan berinisial MS (12) diterkam harimau sumatera sehingga meninggal dunia, Minggu (31/10/2021). (Istimewa)

Banyak Babi Hutan Mati Mendadak, Diserang Virus?

Bahkan Kepala Desa (Kades) Teluk Kabung, Kecamatan Gaung, Fakhruddin, juga tidak mengetahui pasti sebab musabab hilang hama babi ini dari hutan Desa Teluk Kabung dan sekitarnya.

Menurutnya, saat ini di desa tidak pernah lagi melihat jejak babi hingga di 30 batang parit yang ada. Hal serupa juga terjadi di desa tetangga seperti Simpang Gaung, Pungkat hingga Rambaian dan sekitarnya.

“Kalau daerah kita tak ada, betul itu, memang heran saya. Menurut informasi babi itu banyak kena penyakit, banyak yang mati gitu aja. Orang meracun tidak ada, macam banyak kenak virus, tiba–tiba udah jumpa itu sudah mati saja,” ungkap Fakhruddin kepada Tribun Pekanbaru, Kamis (4/11/21).

Menurutnya lagi, fenomena habisnya populasi babi ini sudah terjadi selama 6 bulan terakhir hingga saat ini tidak seekor pun babi yang terlihat oleh masyarakat.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved