Breaking News:

Video Berita

VIDEO: Perusahaan Korea Diputus Bersalah Mencemari Lingkungan di Inhu, Dikenai Denda Rp 8 Miliar

Dalam putusan tersebut perusahaan asing tersebut dinyatakan bersalah karena telah melakukan pembiaran terhadap kebakaran lahan dan hutan

Penulis: Bynton Simanungkalit | Editor: didik ahmadi

TRIBUNPEKANBARU.COM, RENGAT-- Pengadilan Negeri (PN) Rengat memutus bersalah PT Gandaerah Hendana karena telah melakukan pencemaran lingkungan.

Dalam putusan tersebut perusahaan asing tersebut dinyatakan bersalah karena telah melakukan pembiaran terhadap kebakaran lahan dan hutan di dalam areal Hak Guna Usaha (HGU) sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem gambut.

Sidang yang digelar Rabu (10/11/2021) itu di pimpin oleh Hakim Ketua, Nora Gaberia Pasaribu dan dua Hakim anggota, Debora Maharani Manulang dan Moch Adib Zain.

Dalam putusannya, perusahaan tersebut dinyatakan bersalah melanggar Undang-undang 32 tahun 2009 tentang Pengendalian dan Perlindungan Lingkungan Hidup.

Oleh karena itu, perusahaan perkebunan kelapa sawit dikenakan pidana denda sebesar Rp 8 Miliar ditambah dengan biaya pidana tambahan sebesar Rp 200 Miliar lebih.

Perusahaan asing yang masuk dalam grup Samsung tersebut terbukti melakukan pembiaran terhadap kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di dalam areal HGU mereka pada September 2019 lalu.

Berdasarkan hasil perhitungan ahli, total luas lahan yang terbakar mencapai 580 hektar yang berlokasi di Desa Seko Lubik Tigo (Seluti) , Kecamatan Lirik, Kabupaten Inhu.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi api tersebut baru padam ketika hujan lebat turun tepatnya pada 24 September 2019, setelah hampir 21 hari api berkobar menghanguskan ratusan hektar lahan gambut tersebut.

Putusan tersebut didengar langsung oleh Direktur Utama PT Gandaerah Hendana, Jeong Seok Kang. Atas putusan tersebut, kuasa hukum pihak perusahaan masih menyatakan pikir-pikir.

Sementara itu, sebelumnya lembaga pemerhati lingkungan, Senarai mengatakan PT Gandaerah hampir tidak melakukan pemadaman sama sekali meski mengetahui terjadinya kebakaran.

Hal ini diungkapkan Jeffri Sianturo, koordinator Senarai.

Ia juga menyampaikan bahwa HGU Gandaerah terbakar 580 ha di Desa Seluti, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, selama 21 hari pada September 2019. "Di lokasi, tak tersedia segala macam sarpras untuk mencegah maupun mengendalikan kebakaran.

Bahkan tak ada perintah untuk memadamkan api oleh pimpinan perusahaan pada regu tanggap darurat," kata Jefri setelah mengikuti beberapa kali persidangan.

Jeffri juga mengungkapkan PT Gandaerah ingkar janji atas komitmen perlindungan lahan yang tertuang dalam dokumen lingkungannya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved