Breaking News:

Menko Airlangga Jabarkan Peran Sawit, Bantu Pemulihan Ekonomi hingga Kemandirian Energi

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, komoditas pertanian yang bertahan saat pandemi covid-19 adalah industri kelapa sawit

Editor: Rinal Maradjo
ISTIMEWA
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto 

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, salah satu komoditas pertanian yang mampu bertahan saat pandemi covid-19 adalah industri kelapa sawit. Hal itu terbukti dari kontribusinya terhadap PDB mencapai 3,5 persen.

“Salah satu komoditas pertanian yang mampu bertahan di masa pandemi covid-19 ini adalah kelapa sawit di mana industri kelapa sawit yang mempekerjakan 16,2 juta orang mempunyai capaian ekspor yang luar biasa sampai dengan Oktober kemarin,” kata Airlangga Hartarto dalam acara Pekan Riset Sawit Indonesia, Rabu (17/11/2021).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2021 mencapai USD 22,03 miliar.

Secara nasional kontribusi kelapa sawit mencapai 15,6 persen dari total ekspor non-migas.

Sedangkan kontribusi terhadap PDB mencapai 3,5 persen.

Dalam 2 tahun ini pandemi covid-19 telah berdampak terhadap perekonomian, dan sosial.

Namun, dia melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II dan III sudah masuk di jalur positif yaitu 7,07 persen (kuartal II) dan 3,51 persen (kuartal III).

Tentunya capaian tersebut tidak lepas dari upaya yang dilakukan pemerintah dalam penanganan dan pemulihan ekonomi nasional dengan kebijakan yang didorong oleh Presiden Joko Widodo yakni kebijakan gas dan rem.

Selain itu, kata Menko, Sawit juga ikut andil dalam upaya pemulihan ekonomi nasional yaitu sawit juga mendorong kemandirian energi, mengurangi emisi gas dan mengurangi impor daripada solar atau diesel sebesar Rp 38 triliun di tahun 2020, dan tahun ini diperkirakan penghematan devisanya dengan program B30 sebesar Rp 56 triliun.

“Program mandatori biodiesel B30 juga mendorong stabilitas harga sawit dan sawit masuk dalam Super Cycle dengan harga sebesar USD 1.283 per ton, dan sawit juga memberikan nilai tukar kepada petani dengan harga TBS yang juga relatif paling tinggi selama periode ini antara 2.800 sampai dengan 3000 per TBS,” ujar Airlangga Hartarto.

Adapun, Menko Airlangga menegaskan, peran riset dan teknologi menjadi sangat penting dan meningkatkan posisi tawar (bargaining position) suatu negara dan sektor sawit dengan didukung peningkatan penelitian pengembangan perlu untuk terus didorong, agar perkebunan sawit mempunyai daya saing dan menjaga kelestarian lingkungan.

Tentunya diperlukan proses perbaikan yang terus-menerus terutama dari hulu mulai dari perbaikan benih atau varietas , pupuk, alat mesin, budaya, dan cara-cara teknik panen sampai dengan Hilir pengembangan produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, memperluas pasar serta memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

“Pengembangan ini tentu membutuhkan kerjasama antar lembaga baik dari pemerintah, industri, serta stakeholder terkait,” pungkasnya. (RILIS)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved