Breaking News:

Tak Perlu Khawatir Vaksin, Satgas Covid-19 Riau Maksimalkan Vaksinasi Siswa dan Guru

Bahkan masih ada 60 ribuan siswa yang belum divaksin. Begitu juga dengan guru di Riau, ternyata juga banyak yang belum divaksin.

Penulis: Ilham Yafiz | Editor: Ilham Yafiz
Tribun Pekanbaru/Mayonal Putra
Seorang pelajar menerima suntik vaksin dari petugas medis di Kabupaten Siak 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Kasus Covid-19 di Provinsi Riau mulai melandai, vaksinasi terhadap masyarakat terus ditingkatkan.

Vaksinasi juga menargetkan siswa dan tenaga pengajar, atau guru.

Ini dilakukan karena capaian vaksinasi untuk kalangan pelajar di Riau masih rendah.

Bahkan masih ada 60 ribuan siswa yang belum divaksin. Begitu juga dengan guru di Riau, ternyata juga banyak yang belum divaksin.

"Iya, masih ada 60 ribuan siswa sma sederajat dan 1200an guru di Riau yang belum divaksinasi," kata Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Riau, dr Indra Yovi, Selasa (14/12‎/2021).

Juru Bicara (Jubir) Penanganan Satgas Covid-19 Riau dr Indra Yovi.
Juru Bicara (Jubir) Penanganan Satgas Covid-19 Riau dr Indra Yovi. (Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir)

Yovi mengingatkan kepada dinas pendidikan‎ agar menjadikan persoalan ini sebagai catatan yang harus segera diselesaikan. Sebab saat ini sekolah tatap muka terbatas sudah mulai dijalankan. Sehingga dibutuhkan capaian vaksinasi yang tinggi agar tidak terjadi kluster di lingkungan sekolah.

"‎Ini menjadi pekerjaan rumah, terutama teman-teman di Dinas pendidikan, dan Dinas kesehatan untuk mempercepat vaksinasi para siswa dan guru agar mereka tidak terpapar oleh covid-19," katanya.

Yovi mengungkapkan, ada banyak penyebab masih rendahnya vaksinasi di kalangan siswa dan guru. Namun pihaknya banyak mendapatkan laporan ada siswa yang tidak divaksin dengan alasan yang tidak jelas.

Misalnya, ada guru yang menyampaikan kepada siswanya bahwa siswa yang bersangkutan tidak bisa divaksin karena alasan kesehatan. Padahal yang bersangkutan belum dilakukan pemeriksaan oleh tim medis.

"Jadi mereka ini ada yang tidak mau divaksin dengan alasan bukan medis, misalnya sakit a, sakit b, sakit c, dan itu yang ngomong gurunya, itu tidak benar, karena yang bisa menyatakan seseorang boleh atau bisa tidak bisa divaksin itu adalah petugas medis, dokter, kalau menyimpulkan sendiri tanpa ada pemeriksaan medis, itu belum tentu betul," ujarnya.

Yovi menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap vaksinasi. Sebab jika hasil pemeriksaan menyatakan pasien tidak layak untuk disuntik vaksin, petugas tidak akan menyuntikkannya.

"Jadi kalau pun ada maslaah medis, periksakan dulu ke yang berkopenten, kalau memang ada masalah nanti akan diberikan surat keterangan, karena vaksin bukan buat pemeritah, vaksin itu buat kita semua, buat anda, buat keluarga anda," kata ‎Yovi tegas.

( Tribunpekanbaru.com )

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved