Breaking News:

Buat Pemeluk Hindu Mualaf, Seorang Pendeta di India Ditangkap Polisi

Nasib umat Kristen di nagara India sungguh mneggenaskan. Negara mayoritas beragama Hindu itu menangkap pendeta yang buat seorang Hindu mualaf

GETTY IMAGES via capture BBC
Kelompok Hindu radikal di India tolak pindah agama 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Seorang pendeta di India ditangkap polisi setelah membuat seorang pria yang awalnya beragama Hindu Mualaf.

Pendeta yang bernama Somu Avaradhi didakwa pasal tentang "menghina perasaan agama dari kelas mana pun".

Di India, pendeta gereja dan imam masjid bisa ditangkap karena membimbing seorang beragama Hindu menjadi Kristen maupun Islam.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Minggu di bulan Oktober 2021 saat  Somu Avaradhi memulai aktifitasnya sebagai pendeta yang memimpin ibadah minggu di gerejanya di kota Hubballi di negara bagian Karnataka, India selatan. 

Saat masuk gereja , Somu terkejut mendengar lantunan lagu religi agama Hindu menggema di gerejanya. 

Dia pun langsung menelepon polisi untuk mengamankan para perusuh tersebut.

Tiba-tiba, orang-orang yang dikertahui dari kelompok Hindu radikal tersebut memperkusinya dan menuduhnya telah memaksa seorang pria Hindu untuk masuk agama Kristen.

Polisi yang dihubungi Somu pun menangkapnya.

Somu pun menghabiskan 12 hari di penjara sebelum dia dibebaskan dengan jaminan.

Kasus Somu bukanlah kasus yang mengejutkan, sebuah laporan oleh Evangelical Fellowship of India (EFI) mencatat 39 kasus ancaman atau kekerasan terhadap orang Kristen dari Januari hingga November tahun ini di Karnataka.

Ini termasuk dugaan serangan terhadap pendeta oleh anggota kelompok Hindu sayap kanan, dan bahkan kasus di mana mereka dilaporkan secara fisik mencegah mereka mengadakan kebaktian.

Umat  Kristen adalah minoritas kecil di India yang mayoritas beragama Hindu.

Frekuensi, kata perwakilan Kristen, telah meningkat sejak Oktober, ketika Partai Bharatiya Janata (BJP), yang berkuasa di Karnataka dan juga secara nasional, mengatakan sedang mengerjakan undang-undang "kuat" terhadap konversi agama di negara bagian tersebut.

Para kritikus telah menggambarkan rancangan undang-undang saat ini sebagai "kejam", termasuk hukuman penjara hingga 10 tahun bagi mereka yang dinyatakan bersalah mengubah orang lain dengan "pemaksaan", metode "penipuan" atau pernikahan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved