Breaking News:

CARUT MARUT Karantina Covid di Indoneisa: Diskriminasi, Menunggu Lama & Menginap di Parkiran

Oleh karenanya, bagaimana mendapatkan fasilitas karantina yang memadai di tengah arus masuk dari luar negeri. 

WARTA KOTA/ NUR ICHSAN
Bandara Soekarno Hatta, Tangerang belum lama ini. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Bukan hanya satu-dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang kesal dengan layanan karantina terpusat yang disediakan pemerintah.

Sejumlah WNI mengkritik layanan karantina yang disediakan oleh pemerintah.

Clara Monolga, mahasiswi yang baru pulang dari Jerman mengaku mengalami diskriminasi karantina.

"Bagi para WNI yang mau pulang dekat-dekat ini dan akan dikarantina di wisma. Siapkan kesabaran banyak karena sekarang lagi banyak penumpukan bus di depan karantina Pasar Rumput," curhat Clara dikutip Tribun Network dari Backpacker Internasional, Senin (20/12/2012).

Ia bercerita dibuat lama menunggu tanpa kepastian oleh petugas layanan karantina.

Clara tiba di Bandara Soekarno-Hatta tanggal 15 Desember 2021 pukul 14.30 WIB.

Lama menunggu, ia barulah dibawa ke tempat karantina menggunakan bus pukul 18.45 WIB.

Artinya, empat jam lebih Clara digantung karena cukup banyak WNI yang kembali ke Indonesia.

Sesampainya di parkiran, para WNI tidak bisa langsung turun karena menunggu kesediaan kamar.

"So semalaman kami ada delapan bus yang menginap di parkiran wisma. Bus saya berada di posisi kedua," tukasnya.

Ia tidak mengetahui pasti total ada berapa bus yang mengular karena info yang didapat dari petugas bahwa kamar karantina penuh.

Fasilitas karantina dari pemerintah ini gratis tanpa biaya sepeserpun sehingga harus bergantian.

Riza Nasser, satu di antara WNI yang menjalani karantina sempat ditawari karantina berbayar di hotel.

Karantina di hotel nyaman, tanpa harus mengantre tetapi harga yang ditawarkan relatif mahal Rp8,2 juta.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved