Breaking News:

Sungai Kampar Terancam, Kualitas Air Menurun dan Satwa Endemik Menghilang

Sungai Kampar hari ini mengalami sedimentasi dan tercemar. Kondisi itu dikarenakan oleh deforestasi, pertambangan pasir dan keramba ikan.

Penulis: Syahrul | Editor: Rinal Maradjo
tribunpekanbaru.com
Keramba apung di Danau PLTA Koto Panjang ikut berkontribusi atas pencemaran di Sungai Kampar 

PELAUT PORTUGIS Thomas Dias tak pernah membayangkan, jika saja dia berlayar di Sungai Kampar pada tahun ini.

Tentunya, kapal dagang Orange yang ia tumpangi bersama awak VOC tak akan pernah sampai ke Pagarayung, Sumatera Barat karena kandas di perairan salah satu sungai terbesar di Riau itu.

Sebab, sungai yang membelah sebagian daratan Riau itu, kini mengalami pendangkalan, akibat abrasi dan dan deforestasi.

Pada 1684 silam, Thomas Dias melakukan ekspedisi perdagangan. Dia menggunakan kapal Orange bermuatan sekitar 37 orang.

Ekspedisi ini menempuh jalur sungai dari Petapahan menuju Air Tiris di Kabupaten Kampar. Lama perjalanan memakan waktu tujuh hari.

Lalu dilanjutkan dengan perjalanan ke Pagaruyung di Sumatera Barat untuk berjumpa dengan raja-raja di sana.

Thomas Dias menggambarkan, perjalanan yang dia lalui, menembus hutan perawan dan sungai alami yang sangat dalam.

Gambaran itu ditulis dalam sebuah catatan perjalanan yang dihimpun oleh F.M Schnitger dalam bukunya Forgotten Kingdoms of Sumatra. 

Dias merupakan seorang pelaut pertama dari Eropa yang menyusuri sungai-sungai dari Johor, Malaka hingga ke pedalaman Sumatera.

Perjalanan itu dilakukan dengan menyusuri bagian tengah Sumatera melintasi daratan Riau hingga ke Sumatera Barat.

337 tahun setelah ekspedisi Thomas Dias itu, wajah Sungai Kampar berubah. Hutan perawan yang memagari lintasan sungai itu, kini tak ditemukan lagi.  Begitu pula dengan aliran air serta kedalaman sungai.

Air kotor dan sedimentasi (pendangkalan) akibat limbah dan pertambangan, kini jadi pemandangan biasa.

Hutan yang dulunya rimbun, sekarang beralih rupa jadi perkebunan. Deforestasi terjadi di mana-mana.

Kondisi itu berada pada posisi yang sangat riskan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved