Breaking News:

Islamofobia di Prancis Semakin Menggila, Anti-Islam Bom Masjid Dengan Molotov

CCMTF menekankan bahwa serangan itu terkait langsung dengan Islamofobia, yang menjadi lebih jelas dengan pemilihan presiden

Penulis: Budi Rahmat | Editor: Guruh Budi Wibowo
Istimewa
ILUSTRASI Islamofobia di negara barat 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Islamofobia di Prancis semakin tak terkendali. Pada Jumat (6/5/2022) pagi, kelompok anti-Islam di negri mode itu membom sebuah masjid dengan molotov di Kota Metz.

Masjid yang dikelola oleh Persatuan Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB) itupun terbakar.

Ali Durak, presiden Asosiasi Masjid Pusat DITIB Metz, mengatakan kepada Anadolu Agency (AA) bahwa serangan itu terjadi menjelang pagi hari.

Menyoroti bahwa bom molotov telah melekat pada jendela masjid, Durak mengatakan bahwa bagian luar masjid telah sangat rusak dan jendela-jendelanya terbakar, tetapi menambahkan bahwa masjid telah diselamatkan dari kebakaran total pada saat-saat terakhir. .

"Kami tidak menyangka ini karena kami bukan perkumpulan yang introvert. Kami adalah perkumpulan yang melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang Prancis di sini. Selain kegiatan keislaman, kami juga bekerja sebagai organisasi amal," katanya seperti dilansir dari Daily Sabah.

Durak mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya sebuah masjid diserang di kota Metz dan mencatat bahwa pejabat dari kotamadya menghubungi asosiasi tersebut, termasuk walikota.

Komite Koordinasi Asosiasi Muslim Turki (CCMTF) di Prancis merilis sebuah pernyataan yang menggarisbawahi bahwa ide-ide anti-Muslim, rasis dan xenofobia sedang meningkat di negara itu dan komunitas Muslim telah menjadi target.

CCMTF menekankan bahwa serangan itu terkait langsung dengan Islamofobia, yang menjadi lebih jelas dengan pemilihan presiden, namun, Muslim di Prancis telah terpapar selama bertahun-tahun.

Serangan itu bertepatan dengan peningkatan serangan Islamofobia dan penutupan tempat ibadah, terutama masjid, di negara itu baru-baru ini, katanya.

Pengurus masjid telah menyerukan agar para pelaku serangan ditemukan sesegera mungkin.

Sebelumnya, permintaan perwakilan paguyuban untuk memasang kamera keamanan di dalam dan sekitar masjid ditolak kantor gubernur tanpa alasan.

Walikota Metz François Grosdidier mengutuk serangan itu, yang dia gambarkan sebagai Islamofobia, dan mengeluarkan pesan solidaritas.

Menyatakan bahwa serangan itu "merusak semangat kota di mana toleransi berlaku," Grosdidier mengatakan kota itu akan mengadakan rapat umum solidaritas pada Sabtu siang waktu setempat untuk mengutuk kejahatan tersebut.(Tribunpekanbaru.com).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved