Breaking News:

Media Asing Soroti Anjloknya Harga Kelapa Sawit Petani Indonesia Usai Larangan Ekspor

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di tingkat petani anjlok disoroti media asing.

Penulis: Guruh Budi Wibowo | Editor: Ilham Yafiz
tangkapan layar Aljazeera
Media Asing Soroti Anjloknya Harga Kelapa Sawit Petani Indonesia Usai Larangan Ekspor. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di tingkat petani anjlok disoroti media asing.

Aljazeera memberitakan kekecewaan para petani Kelapa Sawit karena anjloknya harga TBS pasca Presiden Joko Widodo memutuskan untuk menutup keran ekspor Minyak Kelapa Sawit, CPO dan produk turunnanya, termasuk Minyak Goreng.

Dalam pemberitaannya Aljazeera mewawancarai sejumlah petani di Indonesia, di antaranya dari Riau, Jambi Kalimantan dan Kalimantan.

50 persen mata pencaharian petani telah hilang karena harga tandan buah segar dipangkas dan, pada saat yang sama, harga pupuk dan pestisida telah naik lebih dari 100 persen.

"Kami berharap harga tandan buah segar akan stabil dan terstandarisasi sesuai dengan upah minimum di setiap provinsi. Kita perlu memastikan bahwa semua orang mendapatkan harga yang layak," ujar Valens Andi Ketua Koperasi Perkebunan Kelapa Sawit Harapan Kalbar.

Pidato Presiden Jokowi yang akan memberlakukan pelarangan Eskpor CPO dan produk turunan langsung menyebabkan harga TBS anjlok.

"Kami sangat merasakan dampak larangan ekspor itu. Saat Jokowi berpidato pada 22 April untuk mengumumkan larangan tersebut, harganya langsung anjlok. Itu bahkan sebelum larangan itu mulai berlaku pada 28 April, dan setelah itu keadaan menjadi lebih buruk," tutur Iwan Himawan seorang petani Kelapa Sawit di Kalimantan Timur.

Gubernur Riau Kirim Surat ke Presiden

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar resmi mengirimkan surat ke presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar kebijakan aturan larangan ekspor ‎CPO ditinjau kembali. Seban sejak aturan tersebut diberlakukan membawa dampak yang kurang baik bagi para petani sawit.

"Kami telah mengirimkan surat ke pak presiden, intinya kami memohon kepada pak presiden agar larangan ekspor CPO dan turunannya dapat ditinjau kembali," kata Gubri saat memimpin rapat terkait anjloknya harga sawit di Riau bersama Forkopimda, para bupati dan Walikota serta petani dan asosiasi pengusaha kepala sawit di gedung daerah, Selasa (17/5/2022).

Gubri menegaskan, langkah tersebut diambil setelah pihaknya melakukan pemantuan langsung di lapangan, dan laporan dari kabupaten kota, termasuk aspirasi dari petani dan asosiasi pengusaha sawit.

"Pertimbanganya karena saat ini harga TBS (Tandan Buah Sawit) cederung menurun, kemudian tangki timbun CPO. Baik yang ada di PKS ‎(Pabrik Kelapa Sawit) maupun di tangki penampungan akhir diperkirakan hanya mampu menampung CPO sampai dua minggu kedepan," ujarnya.

Gubri mengungkapkan, aspirasi para bupati, walikota dan petani serta asosiasi pengusaha kelapa sawit tersebut sudah disampaikan ke presiden melalui surat resmi.

Pihaknya berharap dengan adanya surat permohonan tersebut, presiden dapat mengambil kebijakan yang terbaik untuk para petani sawit di Indonesia. Khususnya di Riau.

"Kita sudah mulai khawatir sekarang ini, karena sawit dari petani ‎itu tidak ada pembelinya. Makanya kami mohon, sekarang pak presiden lagi rapat di istana, termasuk membahas persoalan sawit ini. Mudah-mudahan beliau usulan kita ini diterima beliau dan kita lihat perkembangannya selama beberap ‎kedepan," katanya.

Namun sebelum ada kebijakan baru terbaru dari presiden, Gubri mengimbau kepada para bupati, walikota dan pengusaha kelapa sawit agar saling membantu. Sehingga tidak terjadi gejolak yang lebih luas lagi di Riau.

"Kami mohon para pengusaha kelapa sawit agar bisa saling membantu dan saling tolong menolong. Agar bisa membantu mengurangi kerisauan ‎para petani. Para bupati dan walikota, untuk mencermati kondisi ini, jangan sampai ada diantara warga kita yang tidak makan, malu kita, nanti bupati juga yang disalahkan kalau ada warga kita yang tidak makan," katanya.

( Tribunpekanbaru.com )

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved