Breaking News:

Harga Sawit di Riau

Harga TBS Sawit di Bawah Harga Disbun, Apkasindo Kampar Minta Sanksi Ditegakkan

Apkasindo Kampar minta sanksi ditegakkan karena TBS sawit masih dibeli PKS dengan harga di bawah yang telah ditetapkan Disbun.

Penulis: Fernando Sihombing | Editor: Ariestia
Istimewa
Apkasindo Kampar minta sanksi ditegakkan karena TBS sawit masih dibeli PKS dengan harga di bawah yang telah ditetapkan Disbun. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Apkasindo Kampar minta sanksi  ditegakkan karena TBS sawit masih dibeli PKS dengan harga di bawah yang telah ditetapkan Disbun.

Harga beli Kelapa Sawit di Kampar belum memenuhi penetapan Dinas Perkebunan Riau, Selasa (24/5/2022). Sementara Gubernur Riau sudah mengeluarkan edaran soal sanksi.

Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kampar, Helkis mengakui terjadi kenaikan harga beli di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sejak larangan ekspor minyak goreng dan bahan bakunya dicabut serta mulai berlaku Senin (23/5/2022).

"Hari ini masih rata-rata di bawah harga Disbun," ungkapnya Selasa sore. Menurut dia, kenaikan harga antara Rp. 50 sampai Rp. 60 per kilogram.

Ia mengatakan, harga beli dibedakan jenis kebun. Ada Pemasok Buah biasa dan ada dari kebun mitra. Harga beragam mulai Ep. 2.240 hingga Rp. 2.350.

Ia mendukung ancaman sanksi kepada pabrik yang dikeluarkan Guberbur melalui Surat Edaran. Ia mengapresiasi penerapan sanksi bagi pabrik yang membeli sawit petani di bawah harga Dinas Perkebunan.

"Memang harus seperti itu pemerintah melindungi rakyatnya, kami berharap jika PKS tidak komitmen sanksi itu benar-benar harus diterapkan," tandasnya.

Sebelumnya, Anas, seorang pemasok Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit ke pabrik di wilayah Kecamatan Tapung, mengaku pergerakan harga masih lambat.

Dibukanya keran ekspor tidak serta merta membuat harga naik signifikan.

"Ada kenaikan harga. Tapi belum signifikan. Hari ini naik cuma 50 sampai 100 perak," katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Senin.

Menurut dia, berbeda ketika larangan ekspor diberlakukan. Harga di pabrik langsung anjlok sebelum larangan tersebut mulai resmi berlaku.

Pencabutan larangan ekspor juga diumumkan beberapa hari sebelum resmi berlaku.

Tetapi tidak serta merta membuat harga beli pabrik naik signifikan.

"Pas larangan waktu itu diumumkan, harga langsung turun jauh. Sekarang sudah dicabut, naiknya cuma sedikit," ujarnya.

Ia mengakui, pergerakan harga memang sudah mulai naik sebelum Senin (23/5/2022). Ia menyebutkan, harga beli TBS petani masih sekitar Rp. 2.500.

Menurut dia, petani masih memantau pergerakan harga di Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Sebagian petani menahan penjualan hasil panen dengan harapan kenaikan harga lebih terasa di hari kedua larangan ekspor dicabut, Selasa (24/5/2022).

"Harapannya besok sudah naik banyak. Kita lihat malam ini," ujarnya. Ia berharap harga sawit segera membaik yang mencapai di atas Rp. 3.000 per kilogram seperti larangan ekspor diberlakukan.

Senada dikemukakan Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kampar, Helkis. "Rata-rata naik 80 sampai 100," katanya.

Menurut dia, kenaikan harga Rp. 80 sampai Rp. 100 hanya dirasakan petani swadaya yang sudah bermitra dengan PKS. Harga hampir di angka Rp. 2.200. "Kalau petani swadaya yang tidak bermitra tentu lebih rendah lagi," katanya.

Ia mendapati ada pabrik yang masih membeli murah sawit petani. Apalagi terhadap pabrik yang sudah bermitra dengan petani. Ia meminta Disbun mengevaluasi pabrik tersebut.

Jauh berbeda dengan TBS dari kebun plasma. Ada pabrik yang bahkan membeli sawit dari kebun binaannya sesuai harga penetapan Dinas Perkebunan Riau yakni, di atas Rp. 3.100 per kilogram untuk kelompok usia tanam 10-20 tahun. (Tribunpekanbaru.com/Fernando Sihombing)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved