Breaking News:

Berita Siak

Emak-emak di Siak Protes Cabai Sempat Tembus Rp 150 Ribu Per Kg, Pedagang Pasrah Mau Gimana Lagi

Melonjaknya harga cabai di Siak yang tembus Rp 150 ribu per Kg sempat diprotes emak-emak, pedagang pasrah

Penulis: Mayonal Putra | Editor: Nurul Qomariah
Tribunpekanbaru.com/Fernando Sikumbang
Ilustrasi. Emak-emak di Siak Protes Cabai Sempat Tembus Rp 150 Ribu Per Kg, Pedagang Pasrah. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Tingginya harga cabai di pasar -pasar di kabupaten Siak membuat emak-emak mengeluh.

Sejumlah pemilik warung pun mengeluhkan harga yang sempat naik hingga Rp 150 ribu per kilogram itu.

Pada Minggu (3/7/2022) di Pasar Raya Belantik Siak, harga cabai telah mengalami penurunan.

Namun masih dianggap sangat tinggi jika dibanding sebulan lalu.

“Minggu lalu harga cabai dari Bukittinggi Rp 150 ribu per kilogramnya, kemudian turun menjadi Rp 120 ribu per kilo dua hari lalu. Nah hari ini turun lagi jadi Rp 100 ribu per kilogramnya,” kata Hadi, penjual cabai dan sayuran di pasar itu.

Hadi mengatakan, melonjaknya harga cabai di pasar raya Siak memang sempat diprotes emak-emak yang menjadi pelanggannya.

Namun bagaimana lagi, kenaikan harga itu juga karena naiknya harga dari supplyernya.

“Kami sebagai pedagang tentu tidak mungkin jual rugi, pastilah jual untung. Jika harga naik dari distributor tentu harga jual kita juga naik,” kata dia.

Menurut Hadi, naiknya harga cabai sejak dua minggu belakangan dipicu oleh sedikitnya barang.

Pasalnya petani di Sumatera Barat banyak mengalami gagal panen.

Sementara itu pemilik warung makan juga masih mengeluh soal harga cabai. Warung makan di bilangan Turap, Kelurahan Kampung Rempak, Siak misalnya, menyebut kesulitan mengatur Harga Pokok Penjualan (HPP) dan menyesuaikannya dengan keuntungan.

“Amat sulit bagi kami untuk menaikkan harga jual per menu, dan amat sulit juga mengatur HPP pada setiap menu yang kami keluarkan,” kata Anto, pemilik warung makan tersebut.

Pada warungnya, hampir setiap menu makan menggunakan cabai untuk racikan bumbunya.

Cabai pada bumbu dan sambal setiap hidangan adalah andalannya.

“Sewaktu harga cabai Rp 150 ribu kemarin kami terpaksa menutup beberapa menu yang menggunakan banyak cabai, seperti menu ayam rica-rica, ayam dabu dan lain-lain,” kata dia.

Anto berharap pemerintah turun tangan dalam mengatasi kenaikan harga bahan pokok tersebut.

Jika tidak, imbasnya akan terus dirasakan oleh pemilik warung makan.

“Kita belum bisa mengganti rasa cabai dengan rasa saus sambal botolan, karena begitulah selera dan lidah customer rumah makan di Siak ini. Saya pikir di Riau atau Sumatera juga identik dengan rasa pedas,” kata dia.

( Tribunpekanbaru.com / Mayonal Putra )

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved