Breaking News:

Harga Sawit di Riau

Penyebab Harga Sawit di Riau Anjlok Diungkap Gubernur Riau Syamsuar, Berharap Ini dari Pusat

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar berharap pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan baru untuk menyelamatkan petani saat harga sawit anjlok

Penulis: Syaiful Misgio | Editor: Nurul Qomariah
TRIBUNPEKANBARU.COM/SYAIFUL MISGIO
Gubernur Riau Syamsuar ungkap penyebab harga sawit di Riau anjlok dan berharap ada kebijakan baru dari pusat untuk menyelamatkan petani sawit. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Harga sawit di Riau anjlok beberapa waktu belakangan.

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar berharap pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan baru untuk menyelamatkan petani sawit di Indonesia khususnya di Riau. Sebab saat ini harga sawit di Riau anjlok terus.

Bahkan sudah di bawah Rp 1.000 per kilogramnya. Padahal sebelumnya harga sawit di Riau sempat menyentuh di harga Rp 4 ribu per kilogramnya.

"Persoalan harga sawit sudah kita sampaikan ke pemerintah, ke pak presiden, kita tunggulah, mudah-mudahan ada kebijakan baru, sebab kalau tidak ada perubahan kebijakan, harga sawit ini akan terus turun," kata Gubernur Riau Syamsuar, Rabu (13/7/2022).

Gubernur Riau Syamsuar mengungkapkan, harga sawit di Riau anjlok terjadi sejak adanya larangan ekspor oleh presiden Jokowi.

Akibat larangan ekspor minyak sawit dan turunannya tersebut harga sawit langsung anjlok. Sehingga terjadi gejolak ditengah masyarakat.

Meski saat ini keran ekspor CPO sudah dibuka, ternyata tidak serta merta membuat harga sawit membaik kembali. Justru sebaliknya, harga sawit terus turun.

Gubernur Riau Syamsuar mengungkapkan, anjloknya harga sawit disebabkan karena kapal-kapal yang membawa CPO untuk dibawa ke luar negeri saat ini tidak ada lagi di Indonesia.

Kapal-kapal ini sudah kontrak dengan perusahaan-perusahaan yang ada di luar negeri khususnya di Malaysia.

Kapal -kapal ini terpaksa harus menjalin kerjasama dengan perusahaan di Negara tetangga imbas dari larangan ekspor oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

Karena sudah dikontrak oleh perusahaan lain, maka kapal-kapal tersebut pun butuh waktu bisa beroperasi di Indonesia termasuk di Riau untuk membawa CPO ke luar negeri.

"Sekarang masalahnya ada di kapal, kemarin kan ada larangan eskpor, karena ekspor stop, kapal-kapal itu tidak masuk, meskipun sudah dibuka, kan tidak serta merta kapal - kapal itu langsung masuk ke sini, karena mereka sudah kerjasama dengan perusahaan lain. Terutama di negara Malaysia. Jadi untuk menarik kapal-kapal itu masuk lagi ke sini, itu butuh waktu," papar Gubernur Riau Syamsuar.

Namun kata Gubernur Riau Syamsuar, para petani sawit sebenarnya bisa mencari jalan lain untuk menyelamatkan buah sawit mereka agar tetap nilai jual.

"Sebenarnya, kalau masyarakat ngerti dan ada pihak yang bisa membantu, sawit busuk pun sebenarnya ada yang membeli, karena sawit brondolan itu bisa diolah menjadi biosolar dan itu diekspor juga, pajaknya lebih murah, kalau TBS kan pajaknya besar," katanya.

( Tribunpekanbaru.com / Syaiful Misgio )

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved