Sabtu, 25 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Zombie Ternyata ada di Dunia Nyata, Jamur ini yang Menjadi Penyebabnya

Kedua jenis jamur yang baru ditemukan itu ditemukan pada spesies lalat C. tigrina dan C. testacea yang biasanya ada di Denmark.

SHUTTERSTOCK/Esteban Die Ros
Ilustrasi Zombie, Zombi, Mayat Hidup 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Zombie tidak hanya muncul di film horor saja. Ternyata, Zombie memang nyata adanya. Wabah Zombie ternyata berasal dari jamur dan akhirnya menular.

Namun, dalam peneelitian terbaru, virus tersebut  hanya akan menular pada jenis seranga lalat saja.

Jamur patogen seperti ini ditemukan jenis barunya yaitu Strongwellsea tigrinae dan Strongwellsea acerosa.

Kedua jenis jamur yang baru ditemukan itu ditemukan pada spesies lalat C. tigrina dan C. testacea yang biasanya ada di Denmark.

Meski demikian, tiga jenis jamur itu tidak menginfeksi manusia. Kasusnya baru ditemukan pada lalat dan membuatnya menjadi 'hidup' kembali seperti Zombie.

Pun, seandainya wabah Zombie benar-benar bisa menyerang manusia dan merebak, kita sudah ada protokolnya yang disiapkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Penelitian terbaru menemukan pengaruh yang unik pada E. muscae. Jamur patogen ini punya taktik untuk memastikan kelangsungan hidupnya.

Caranya, ia 'menyihir' lalat rumah jantan, kemudian mendorongnya untuk bersenggama dengan mayat (nekrofilia) lalat betina yang terinfeksi jamur.

Ketika jamur menginfeksi lalat betina dengan sporanya, jamur akan menyebar sampai inangnya perlahan-lahan dimakan hidup-hidup dari dalam.

Butuh sekitar enam hari untuk jamur bisa mengambil alih perilaku lalat betina.

Perlahan-lahan, lalat betina seperti mabuk, kemudian mati.

Pada titik ini, jamur melepaskan sinyal kimia yang disebut sebagai sesquiterpen untuk menggoda lalat jantan.

Temuan ini dipublikasikan di The ISME Journal 13 Juli 2022.

"Sinyal kimia bertindak sebagai feromon yang menyihir lalat jantan dan menyebabkan dorongan luar biasa bagi mereka untuk kawin dengan bangkai betina tak bernyawa," jelas salah satu peneliti Henrik De Fine Licht di dalam rilis. Dia adalah profesor di Department of Plant and Environmental Sciences, University of Copenhagen, Denmark.

Sinyal kimia yang dimaksud adalah hasil campuran kimia dari seskuiterpen yang mudah menguap, dan profil hidrokarbon kutikula inang alami pada mayat yang diubah oleh jamur.

Hal ini memunculkan wangi yang kuat untuk bisa menarik penjantan.

"Pengamatan kami menunjukkan bahwa ini adalah strategi yang sangat disengaja untuk jamur. Ini adalah ahli menipu ulung--dan ini sangat menarik," De Fine Licht berpendapat.

Dalam pengamatannya, lalat rumah jantan yang sehat merespon senyawa itu dan tertarik untuk kawin.

Ketika lalat jantan kawin dengan bangkai lalat betina, spora jamur pun menerpanya.

Secara otomatis, lalat jantan itu akan jadi Zombie dan nasibnya pun sama dengan lalat betina sebelumnya.

Sementara E. muscae bisa tetap melangsungkan kehidupannya.

Pengamatan ini diungkap oleh De Fine Licht dan rekan-rekan setelah mengamati lalat rumah di lab.

73 persen dari lalat jantan yang diamati, kawin dengan bangkai lalat betina yang terinfeksi jamur 25-30 jam sebelumnya.

Sementara ada 15 persen pejantan yang kawin dengan bangkai betina yang sudah mati selama tiga sampai delapan jam.

"Kami melihat bahwa semakin lama lalat betina mati, semakin memikat lalat jantan. Ini dikarenakan jumlah spora jamur meningkat seiring waktu, yang meningkatkan aroma yang menggoda," jelas De Fine Licht.

Para peneliti juga mengamati genetika jamur melalu pengurutan RNA, dan kebiasaan seksual lalat jantan.

"Lalat [adalah makhluk] tidak higienis dan dapat membuat manusia dan hewan sakit dengan menyebarkan bakteri coli dan penyakit apa pun yang dibawanya,” tuturnya.

“Jadi, ada insentif untuk membatasi populasi lalat rumah, di kawasan penghasil makanan misalnya.”(Tribunpekanbaru.com).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved