Breaking News:

Berita Kepulauan Meranti

Jembatan Saka Raja Desa Sesap yang Dibangun Ratusan Juta Kondisinya Parah, Kades Sebut Gegara Covid

Jembatan Saka Raja di Desa Sesap yang menlan biaya Rp 290 juta lebih kini tak terawat lagi. Kades setempat menyebut hal itu terkait Pandemi Covid-19.

Penulis: Teddy Tarigan | Editor: CandraDani
istimewa
Jembatan panjang Saka Raja yang berada di kawasan Mangrove Desa Sesap, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI -Destinasi wisata Jembatan panjang bernama Saka Raja yang berada di kawasan Mangrove Desa Sesap, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini terbengkalai dan kondisinya memprihatinkan karena rusak parah.

Panorama alam yang disajikan di sana cukup menyegarkan untuk ukuran di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Sayangnya, objek wisata yang dibangun oleh pemerintah Desa Sesap itu sekarang tidak seperti awalnya.

Sebab, tempat itu tak lagi dikelola dan dibiarkan terbengkalai. Penyebabnya, minimnya pengunjung yang datang ke sana.

Objek wisata tersebut dibangun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2020 lalu senilai Rp 290.927.000.

Jembatan dengan panjang mencapai 200 meter yang diresmikan 27 Agustus 2020 silam ini kondisinya sudah tidak terawat.

Kondisi terkini di lokasi tersebut dapat digambarkan dari pintu masuk yang rusak dan terkesan dibiarkan begitu saja, belum lagi pelantar banyak yang berlubang dan pagarnya banyak yang roboh.

Selain itu, kondisi gazebo dan tempat duduk yang kini kondisinya juga terlihat rusak.

"Kondisinya cukup memprihatinkan, padahal ini menarik bila dikelola dengan baik. Tapi ini sudah cukup lama terbiarkan dan tidak dirawat," kata salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kepala Desa Sesap, saat dikonfirmasi mengatakan destinasi wisata tersebut sudah sepi pengunjung sejak pandemi Covid-19.

Selain itu akses jalan yang masih berupa jalan tanah juga menjadi penyebab para wisatawan enggan berkunjung.

"Sudah sepi dan tidak ada pengunjung sejak pandemi Covid-19 melanda, selain itu jalan yang terkadang becek juga jadi penyebab pengunjung enggan kesini," kata Jumhari.

Ketika ditanyakan kondisinya yang tidak terawat, Jumhari mengatakan jika jembatan itu pengelolaannya diserahkan ke BUMDes dan Pokdarwis.

"Tidak dibiarkan, dan masih dirawat. Cuma kan untuk pengelolaannya kita serahkan ke BUMDes dan Pokdarwis, nanti dalam waktu dekat akan kita panggil lagi bagaimana komitmen mereka, mau dikelola atau mau ditarik," ungkapnya.

Saat ditanya apakah destinasi wisata tersebut sudah memberlakukan tiket masuk bagi para pengunjung, Jumhari berkilah jika dirinya belum mendapatkan laporan terkait hal itu.

"Sepertinya sudah, namun saya belum dapatkan laporan dari Pokdarwis nya. Nanti saya tanyakan lagi," pungkasnya.

( Tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved