Breaking News:

Belum Optimalnya Kegiatan Car Free Day Dalam Mengubah Perilaku Berkendara Masyarakat di Pekanbaru

Di Kota Pekanbaru dimana kegiatan ini justru mendorong banyak pengunjung untuk menggunakan kendaraan bermotor menuju kawasan CFD.

Editor: M Iqbal
istimewa
Ade Wahyudi, ST, MT, Dosen Fakultas Teknik UIR 

Belum Optimalnya Kegiatan Car-Free Day Dalam Mengubah Perilaku Berkendara Masyarakat di Kota Pekanbaru

Oleh Ade Wahyudi, ST, MT

Dosen Fakultas Teknik UIR

SELAMA sepuluh tahun terakhir, berbagai kota-kota di negara berkembang, seperti di Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan hal ini berdampak terhadap peningkatan permasalahan transportasi dan lingkungan perkotaan (Farda & Balijepalli, 2018).

Bertambahnya jumlah penduduk secara langsung akan berpengaruh terhadap jumlah pergerakan dan peningkatan permintaan akan kendaraan bermotor. Akibatnya, jika hal ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas transportasi umum, infrastruktur pejalan kaki, dan regulasi yang tepat, tentunya hal ini akan menimbulkan Gridlock Situation di masa mendatang (Carrier et al., 2014).

Kota pekanbaru merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang mengalami permasalahan transportasi yang cukup rumit. Secara administrasi, Kota Pekanbaru merupakan ibukota dan sekaligus pusat kegiatan wilayah utama di Provinsi Riau yang melayani berbagai kegiatan perdagangan dan jasa bagi kabupaten sekitarnya.

Namun, tidak meratanya persebaran pusat-pusat pertumbuhan dan tidak terintegrasinya pusat-pusat pelayanan kegiatan dengan jalur transportasi menjadi salah satu penyebab tingginya penggunaan kendaraan bermotor di Kota Pekanbaru. Berdasarkan data statistik tahun 2021, sebesar 87, 35 persen atau sebesar 770.846 jumlah kendaraan yang digunakan oleh masyarakat Kota Pekanbaru per harinya (Kota Pekanbaru Dalam Angka, 2021).

Dalam upaya mengurangi permasalahan polusi udara dari kendaraan bermotor, Pemerintah Kota Pekanbaru telah menerapkan hari bebas kendaraan bermotor (car-free day) sejak tahun 2012 pada hari Minggu Pukul 06.00 – 09.00 WIB dengan tujuan agar masyarakat mampu secara perlahan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, dan beralih ke transportasi umum, bersepeda, dan berjalan kaki (active transportation mode).

Pada dasarnya, Car-free day merupakan sebuah skema manajemen rekayasa lalu-lintas dengan cara menutup beberapa ruas jalan selama waktu tertentu, sehingga para pengguna jalan tidak dapat melintasi jalan tersebut selama kegiatan ini berlangsung (Leo et al., 2017).

Selama kegiatan ini berlangsung, interaksi dan komunikasi antar pengunjung akan terbentuk karena hanya pejalan kaki dan pesepeda yang diperbolehkan berada di kawasan car-free day. Kegiatan ini juga dapat menciptakan berbagai macam gerakan sosial, lingkungan, olahraga, seni dan ruang terbuka publik bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan (Kanaf & Razif, 2010).

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved