Breaking News:

Ragam Upaya Inovatif Kabupaten Rokan Hulu dalam Program Pencegahan Stunting

Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan Kabupaten Rokan Hulu berhasil menurunkan angka stunting hingga sebesar 25,8 persen

Editor: Ariestia
Istimewa
Ragam upaya inovatif Kabupaten Rokan Hulu dalam program pencegahan stunting 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Kabupaten Rokan Hulu merupakan salah satu kabupaten yang masuk dalam 100 Kabupaten/Kota lokus prioritas percepatan penurunan stunting tahun 2018 dengan angka stunting sebesar 59,1 persen (Riskesdas 2013).

Sementara itu, angka stunting Provinsi Riau sebesar 36,8 persen yang berarti angka stunting Kabupaten Rokan Hulu masih di atas angka stunting provinsi.

Pada tahun 2021, hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan Kabupaten Rokan Hulu berhasil menurunkan angka stunting hingga sebesar 25,8 persen dan Provinsi Riau sebesar 22,3 persen.

Walaupun masih lebih besar dari angka provinsi, tetapi ada penurunan yang signifikan dibandingkan tahun 2013. Dengan masuknya Kabupaten Rokan Hulu ke dalam 100 Kabupaten/Kota lokus prioritas tahun 2018, Pemerintah Daerah Rokan Hulu segera menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 24 Tahun 2018 tentang Penurunan Kekurangan Gizi Kronis. Kebijakan ini menjadi payung hukum bagi daerah untuk merespon angka stunting di Kabupaten Rokan Hulu.

Upaya-upaya Pemerintah Daerah seperti intervensi spesifik dan sensitif terus diterapkan hingga level desa. Dinas Kesehatan terus berkoordinasi dengan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar berada di “kapal” yang sama dalam percepatan penurunan stunting.

Bappeda dalam hal ini menjadi leading sector merangkul OPD-OPD terkait untuk duduk bersama sebagai Tim Percepatan Penurunan Kekurangan Gizi Kronis dengan menentukan rencana-rencana aksi apa yang akan dilakukan di masyarakat. Dinas Kesehatan melalui program intervensi gizi spesifik terus digalakkan seperti pemberian makanan tambahan hingga pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada ibul hamil dan remaja.

Selain itu, Pemda juga mengajak berbagai pihak swasta untuk berkontribusi dalam penanganan stunting di level desa. Beberapa bantuan yang sudah diberikan seperti penyediaan makanan balita di posyandu, bantuan air bersih, bantuan makanan pendamping ASI dan alat-alat kesehatan.

Di lain sisi, menurut Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) TPPI Kabupaten Rokan Hulu, 70 persen dari 139 desa sudah menerapkan Electronic Human Development Worker (eHDW).

Dengan adanya eHDW, desa dapat melakukan pemantauan atas kegiatan-kegiatan terkait stunting seperti intervensi sensitif dan spesifik di tingkat desa. Selain itu, ada beberapa inovasi yang diciptakan seperti Alarm 49, Odong-Odong Posyandu, GERMITAK (Gerakan Minum TTD Serentak), CETAR (Cegah dan Tangani Anemia Remaja), dan Wisuda Posyandu.

Program-program inovasi ini dinilai sangat membantu di masyarakat untuk mengajak para ibu yang memiliki anak usia 0-24 bulan (khususnya) untuk pergi ke posyandu.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved