Breaking News:

Video Berita

VIDEO: Baznas Siak Beli 12 Ekor Sapi Terjangkit PMK untuk Penerima Zakat, Dua Ekor Mati

Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas Siak Kecamatan Kandis, Bukhori kepada media membenarkan adanya program bantuan sapi kepada mustahik.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: David Tobing

SIAK - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) kabupaten Siak beraninya membeli 12 ekor sapi tanpa dokumen ternak.

Walhasil, sehari setelah dibagikan ke mustahik atau penerima zakat, sapi-sapi tersebut diketahui positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan.

Dari 12 ekor sapi tanpa dokumen ternak tersebut dilaporkan mati sebanyak 2 ekor. Para medis dan dokter hewan dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak) Siak dibuat sibuk menangani permasalahan tersebut.

Drh Ari Akhdan Ruska Putra, petugas dari Diskannak Siak mengatakan, 12 ekor sapi itu dibagikan pihak Baznas Siak ke wilayah kecamatan Kandis, yaitu di kampung Pencing Bekulo dan Sungai Gondang. Sapi itu tiba pada Rabu (24/8/2022) malam. Sapi -sapi itu langsung diantar ke mustahik.

“Pada hari Kamis (25/8) lalu kami menemukan ada tanda klinis lesi berupa lepuh di bagian mulut dan luka di bagian kaki sapi tersebut,” kata drh Ari Akhdan Ruska Putra, Senin (29/8/2022).

drh Ari menceritakan, awalnya pihaknya mendapatkan laporan dari peternak bahwa ada sapi yang sakit. Terkait ada sapi dari luar masuk ke Siak pihaknya tidak mendapat laporan dari pihak balai karantina.

“Padahal saat ini PMK tengah mewabah dan seharusnya tidak ada ternak yang masuk dari luar apalagi dari daerah tertular, kecuali dari daerah bebas. Itupun harus disertai dokumen,” kata dia.

Ari memastikan, masuknya sapi dari luar yang dibeli Baznas Siak tidak berdasarkan koordinasi. Bahkan masuknya sapi juga tidak diketahui dan dokumen ternak juga tidak ada sama sekali.

Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas Siak Kecamatan Kandis, Bukhori kepada media membenarkan adanya program bantuan sapi kepada mustahik.

Secara jujur ia mengatakan, 12 sapi itu berasal dari kabupaten Kampar yang dipasok melalui agen.

"Ya, kami sudah mencoba mencari sapi di sekitar Kecamatan Kandis, tetapi tidak dapat, makanya kami mencoba membeli sapi di Kabupaten Kampar,” katanya.

Bukhori juga mengatakan, sapi yang dibelinya tersebut memang tanpa dokumen.

Tidak ada surat keterangan kesehatan hewan dari tempat asalnya. Tidak ada surat izin pengeluaran ternak oleh pejabat dari daerah sapi berasal. Bahkan ia mengakui tidak pernah berkoodinasi dengan Diskannak Siak dalam hal pembelian sapi ini.

"Memang iya kami akui tidak berkoordinasi dulu dengan dinas soal bantuan sapi ini, khilaf kami," kata dia.

Awalnya dia juga kaget dan bingung karena sapi terlihat sehat saat dibeli, namun sehari setelahnya sudah menunjukkan gejala klinis. Terhadap kasus ini, Bukhari menyampaikan pihaknya akan segera melapor ke pedagang karena sapi yang diserahkan sakit bahkan ada yang telah mati.(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved