Breaking News:

Video Berita

VIDEO: Pasokan BBM Lancar dan Belum Ada Antrian Kendaraan di SPBU di Pelalawan

Isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar dan pertalite semakin berhembus kencang sejak pemerintahan pusat mengumumkan rencana kena

Penulis: johanes | Editor: David Tobing

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar dan pertalite semakin berhembus kencang sejak pemerintahan pusat mengumumkan rencana kenaikan. Bahkan dikabarkan harga BBM subsidi yang baru berlaku per 1 September besok.

Kenaikan biosolar dan pertalite semakin menghantui masyarakat luas di seluruh Indonesia, termasuk di Pelalawan. BBM jenis pertalite diperkirakan naik menjadi Rp 10.000 dari sebelumya Rp 7.650. Sedangkan Bharga baru biosolar dibandrol Rp 8.500 dari sebelumya hampir Rp 6 ribu.

Pantauan tribunpekanbaru.com di beberapa Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) di Kota Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan, kondisinya masih normal dan terkendali. Di SPBU Jalan Lintas Timur (Jalintim) Kota Pangkalan Kerinci, aktivitas pengisian BBM masih seperti biasa. Kendaraan yang mengkonsumsi pertalite mengantri dipompa pengisian. Stok pertalite juga masih aman dan belum ada kelangkaan jelang kenaikan harga.

"Stok pertalite masih aman bang. Pengiriman masuk terus. Cuman solar yang masih langka," kata seorang petugas pria pengisian pompa kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (31/8/2022).

Memang kendaraan yang mengisi solar masih mengular. Antriannya cukup panjang hingga ke badan jalan Jalintim yang tepat berada di tengah Kota Pangkalan Kerinci itu. Kondisi ini memang sudah terjadi sejak dua bulan terakhir. Sedangkan di SPBU Jalan Koridor Langgam Kilometer 5 masih sama. Belum ada penumpukan kendaraan di pompa pertalite. Antrian mobil tampak seperti hari-hari sebelumnya dan didominasi kendaraan pribadi jenis minibus. Sedangkan untuk solar tak ada aktivitas pengisian karena stok kosong.

Pemandangan serupa di SPBU Jalintim Kilometer 55 Pangkalan Kerinci. Kendaraan yang mengisi pertalite masih sepi, hanya satu atau dua kendaraan yang berfikiran. Namun untuk pengisian biosolar sesama sekali tidak berjalan karena stok habis.

"Harganya masih yang lama pak. Rencananya mau naik, tapi resminya dari pusat nanti pak," beber karyawan perempuan yang ada di pompa pertalite saat tribunpekanbaru.com mencoba mengisi BBM.

Kenaikan harga BBM subsidi jenis solar dan pertalite ini menjadi topik hangat di tengah masyarakat Pelalawan, sekaligus menjadi momok yang menakutkan. Bahkan sebagian besar warga kecewa dengan kebijakan pemerintah itu dan diluapkan di berbagai Media Sosial (Medsos). Banyak pihak memerkirakan kenaikan BBM akan memicu kenaikan semua barang-barang dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

"Kalau BBM jadi naik, pasti semua harga pada naik. Itu jelas dan sudah sering terjadi. Yang teraniaya masyarakat kecil," terang warga Pangkalan Kerinci Hendrikson Siregar (47).

Pemilik toko kelontong ini kecewa dengan keputusan pemerintah jika BBM dinaikan. Padahal untuk harga minyak saat ini, ia telah menghemat pengeluaran dalam menjalankan barang dagangannya ke warung-warung kecil menggunakan mobil pick up miliknya. Tentu ongkos transportasi akan meningkat dan seiring harga barang naik. Ia berharap pemerintah tak jadi menaikan harga BBM.

Warga lainnya, Yudi (37), berpendapat serupa. Ketika harga BBM naik, bahan pangan dan kebutuhan pokok pasti meningkat. Padahal peningkatan harga dalam satu bulan ini, khususnya telur hingga minyak goreng masih sangat terasa membebani. Apalagi pendapatan mereka sebagai pegawai honor sudah terukur.

"Saya cuman honorer, istri saya juga. Gaji kami setiap bulannya sudah jelas angkanya. Kalau kebutuhan naik lagi, makin pusing jadinya," pungkas honorer ini.

(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved