Berita Kampar
Dalami Penyebab Kerbau Mati Mendadak, Pemkab Kampar Datangkan Tim Laboratorium Veteriner Sumbar
Pemkab Kampar masih mendalami penyebab kematian Kerbau secara mendadak. Meski gejala klinisnya mirip wabah Kerbau ngorok
Penulis: Fernando Sihombing | Editor: Nurul Qomariah
TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar masih mendalami penyebab kematian Kerbau secara mendadak. Meski gejala klinisnya mirip wabah Kerbau ngorok.
Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) Kampar mendatangkan Tim dari Laboratorium pada Balai Veteriner Bukittinggi.
"Kita ingin memastikan penyebab pasti Kerbau mati mendadak. Oleh karena itu kita meminta bantuan dari Laboratorium Veteriner Bukittinggi," kata Kepala Bidang Keswan Kampar, drh. Deyus Herman kepada Tribunpekanbaru.com Rabu (7/9/2022).
Deyus mengatakan, Balai Veteriner (Bvet) Bukittinggi memiliki kualifikasi laboratorium Kelas I. Sehingga diharapkan lebih cepat dan akurat mengungkap penyebab pasti Kerbau mati mendadak.
Menurut dia, tim laboratorium akan mengambil sampel dari bangkai, dan hewan ternak Kerbau yang sakit. Lalu diteliti untuk mendapatkan data rill.
Jika benar Kerbau mati karena terserang wabah ngorok atau dalam bahasa latinnya dinamakan Septicaemia Epizootica (SE), maka tindakan yang akan diambil lebih tepat. "Memang gejala klinis seperti Kerbau ngorok. Tapi kita harus pastikan," tandasnya.
Deyus menambahkan, sekarang vaksin Kerbau ngorok sudah dimulai. Tetapi pemberian vaksin tidak diperbolehkan bagi Kerbau yang sedang sakit.
"Kerbau yang sakit, kita tangani dulu, diobati dulu sampai benar-benar sehat. Baru bisa divaksin," ujarnya.
Menurut dia, Disbunnak Keswan sedang menjalankan dua jenis vaksinasi. Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) sudah lebih dahulu berlangsung.
Sebelumnya Deyus meluruskan informasi yang menyebut ratusan Kerbau mati mendadak di Kampar. Ia memastikan tidak ada Kerbau mati massal. Kematian mendadak tidak sampai 10 ekor.
"Cuma ada 6 ekor mati mendadak, 7 ekor potong paksa," ungkap Deyus kepada Tribunpekanbaru.com, Senin (5/9/2022) lalu.
Fenomena ini terjadi di Desa Gunung Bungsu dan Desa Muara Takus Kecamatan XIII Koto Kampar serta Desa Tanjung Kecamatan Koto Kampar Hulu.
Adapun angka ratusan yang beredar, kata dia, lebih tepatnya terhadap aksi jual hewan ternak Kerbau secara massal. Masyarakat yang panik dan takut karena fenomena tersebut ramai-ramai menjual hewan ternaknya ke penampung.
Masyarakat terpaksa menjual dengan harga lebih murah. "Ada informasi yang beredar kalau penyakit yang mati mendadak itu, tidak ada obatnya. Ini yang keliru," kata Deyus.
Ia mengemukakan, dari pemeriksaan gejala klinis hewan disimpulkan bahwa Kerbau yang mati terserang Septicaemia Epizootica (SE) atau Kerbau ngorok. Penyakit ini disebabkan bakteri.
Menurut dia, berbeda dengan Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) yang disebabkan virus. Kerbau ngorok merupakan wabah yang rawan menyerang hewan ternak di sekitar aliran sungai.
"Peternak di sekitar aliran sungai perlu waspada. Di Kampar memang banyak peternak di sekitar aliran sungai," ujarnya.
Ia menambahkan, Kerbau ngorok merupakan wabah musiman. Siklus kemunculan wabah ini sekitar lima tahun sekali. Tetapi dapat diatasi dengan perawatan.
"Ini lah yang sedang kita sosialisasikan. Masyarakat kita beri edukasi. Bagaimana mengatasi wabah ngorok ini agar masyarakat tidak terlalu panik," tutur Deyus.
( Tribunpekanabru.com / Fernando Sihombing )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/heboh-begini-kronologinya.jpg)