Pantun Melayu
4 Pantun Melayu Nasihat, Jaga-jaga Pegang Perangai
Pantun melayu bisa menjadi media penyampaian nasihat karena pantun membudaya di masyarakat Indonesia.
TRIBUNPEKANBARU.COM - Pantun melayu bisa menjadi media penyampaian nasihat karena pantun membudaya di masyarakat Indonesia.
Pantun melayu terdiri dari empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (pola ab-ab),
Biasanya, tiap baris terdiri atas empat perkataan.
Dua baris pertama disebut sampiran, sedangkan dua baris berikutnya disebut isi pantun.
Hubungan antara sampiran dan isi bukan hanya dalam tataran makna, tapi juga bunyi.
Dalam kehidupan masyarakat Melayu sehari-hari, pantun merupakan jenis sastra lisan yang paling populer.
Penggunaannya hampir merata di setiap kalangan: tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya miskin, pejabat-rakyat biasa dan sebagainya.
Pantun melayu pada masyarakat Melayu mengalir berdasarkan tema apa yang tengah diperbincangkan.
Bahkan ketika seseorang mulai memberikan pantun, maka rekan lainnya berbalas dengan tetap menjaga tali perbincangan.
Akhirnya terciptalah momen berbalas pantun.
Dalam interaksi pantun berbalas ini berlatar belakang pada situasi formal maupun situasi informal.
Pada situasi formal contohnya ketika meminang atau juga membuka sebuah pidato.
Sedangkan pada situasi informal contohnya saat sedang berbincang antar rekan sebaya.
Pantun melayu adalah genre sastra tradisional yang paling dinamis, karena dapat digunakan pada situasi apapun.
Karena itu tidak pandang latar belakang apapun, pantun dapat digunakan baik untuk anak-anak, orang muda maupun orang tua.
Isi pantun pun bermacam-macam sesuai fungsinya.
Tak jarang pantun melayu berfungsi sebagai media penyampaian nasihat dengan cara yang halus dan sopan.
Sehingga orang jadi lebih terbuka menerima nasihat.
Berikut contoh pantun nasihat:
Tegak tegak cocokkan pancang
Pasang bendera bunyikan tabuh
Agak agak mengatai orang
Biar cidera tidak tumbuh
Balai selasa kambang pelangai
Ke seberang jalan indera pura
Jaga-jaga pegang perangai
Seberang laku jangan sahaja
Encik sholeh menikam pari
Bilakan tumbuh padi di kota
Akhir menyesal di kemudian hari
Takkan sungguh bagai dikata
Yang merah hanya basa
Yang kurik hanya kundi
Yang indah hanya bahasa
Yang baik hanya budi
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/kata-pantun-melayu.jpg)