Breaking News:

Berita Pelalawan

Dalam Sebulan 2 Pekerja HTI PT Peranap Timber Diserang Harimau, Legislator Pelalawan Ini Geram

Wakil Ketua Pelalawan, Faizal M.Si yang geram atas insiden ini minta pihak PT Peranap Timber agar segera mengevakuasi semua pekerja di lokasi tersebut

Penulis: johanes | Editor: CandraDani
istimewa
Harimau sumatera kembali menyerang pekerja perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Pelalawan, Sabtu (3/9/2022) malam pekan lalu. Lokasinya berdekatan dengan kejadian serangan harimau pada 19 Agustus lalu di konsesi PT Peranap Timber. (Ist) 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN- Konflik harimau sumatera dengan pekerjaan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Peranap Timber di Kabupaten Pelalawan terlah terjadi satu bulan.

Bahkan dua orang karyawan telah meejadi korban keganasan binatang buas itu.

Hal ini membuat Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pelalawan, Faizal M.Si geram terhadap perusahaan.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pelalawan, Faizal M.Si.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pelalawan, Faizal M.Si. (Tribunpekanbaru/Faizal)

Seharusnya PT Peranap Timber bersama perusahaan vendornya belajar dari pengalaman agar tidak terulang lagi serangan harimau kepada para pekerja pemanen dan perawatan hutan akasia miliknya.

"Seharusnya sejak serangan pertama yang menewaskan pekerja bulan lalu, semua karyawan dievakuasi dulu. Ternyata tidak dan terjadi lagi serangan kedua. Ini yang membuat kita geram," kata Faizal M.Si kepada Tribunpekanbaru.com, Kamis (8/9/2022).

Waka ll DPRD Pelalawan ini kembali mengingatkan perusahaan HTI PT Peranap Timber agar segera mengevakuasi semua pekerja yang masih berada dalam satu hamparan di lokasi kejadian.

Para pemanen, perawat, hingga penumbang kayu akasia bisa dipindahkan ke tempat yang lebih aman sampai kondisi darurat ini berakhir.

Sehingga tidak ada lagi serangan lanjutan dari harimau sumatera dan korban luka maupun jiwa tak terjadi lagi.

Politisi Partai PAN Pelalawan ini mengimbau perusahaan fokus dalam penanganan konflik bersama tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang sudah ada di lokasi.

Apabila satwa liar bernama latin Panthera Tigris Sumatrae itu ditangkap serta dipastikan tidak ada lagi, barulah operasional di Desa Serapung Kecamatan Kuala Kampar dan Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk bisa dilanjutkan.

"Jangan sampai produksi atau operasional lebih penting dibandingkan nyawa manusia. Tolong evakuasi dulu pekerja dari tempat itu. Kalau tidak, bisa terulang lagi," beber Legislator asal Pangkalan Kerinci ini.

Dikatakannya, jika perusahaan hanya berharap binatang buas itu tidak menyerang lagi, hal itu sama saja pasrah dengan keadaan.

Pasalnya areal konsesi PT Peranap Timber merupakan habitat dari Si Belang untuk berkembang biak.

DPRD berharap perusahaan menuruti usulan dari BKSDA dan pemerintah daerah dalam penanganan konflik harimau dengan manusia yang kerap muncul di Pelalawan.

(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved