Breaking News:

Pantun Melayu

3 Pantun Melayu Penutup Acara, Jemari Disusun Maaf Dipinta

Menutup kegiatan majelis alangkah lengkap rasanya bila diakhiri dengan pantun melayu.

Editor: Ariestia
Istimewa
Menutup kegiatan majelis alangkah lengkap rasanya bila diakhiri dengan pantun melayu. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Menutup kegiatan majelis alangkah lengkap rasanya bila diakhiri dengan pantun melayu.

Kegiatan atau acara menjadi lebih menarik karenanya.

Pantun melayu bukan sekadar permainan kata yang dilengkapi dengan rima dan irama.

Namun pantun melayu juga rangkaian kata-kata yang memiliki makna.

Pantun melayu dapat menggambarkan maksud orang yang menuturkannya.

Biasanya pantun melayu terdiri dari sampiran pada bait pertama dan kedua.

Sedangkan di bait bait ketiga dan keempat adalah isinya.

Pantun melayu merupakan karya sastra asli dan sudah menjadi identitas diri masyarakat Melayu sejak zaman dahulu kala.

Pantun melayu tidak terikat oleh batasan usia, jenis kelamin, stratafikasi sosial.

Tak mengherankan bila pantun melayu digunakan di berbagai kegiatan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang Melayu.

Termasuk dalam pertemuan majelis.

Bukan hanya pada pembukaan acara majelis, pantun melayu juga disampaikan saat penutupan acara.

Berikut contoh pantun melayu sebagai penutup acara dikutip https://www.academia.edu:

Banyak keluk ke penarik,

Keluk tumbuh pohon kuini;

Nan elok bawalah balik,

Nan tak elok tinggallah di sini.

==========================

Bunga dedap di atas para,

Anak dusun pasang pelita;

Kalau tersilap tutur bicara,

Jemari disusun maaf dipinta.

==========================

Pohon berangan tempat bertemu,

Girangnya rasa si anak dara;

Baliklah tuan membawa ilmu,

Binalah bangsa bangunkan negara.

(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved