Breaking News:

Video Berita

VIDEO: Hindari Serangan Harimau, Petugas Pasang Terpal Hitam di Barak Pekerja HTI di Pelalawan

Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau masih melakukan mitigasi dan penanganan konflik Harimau sumatera dengan pekerja Hutan Tanaman Indus

Penulis: johanes | Editor: David Tobing

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau masih melakukan mitigasi dan penanganan konflik Harimau sumatera dengan pekerja Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Peranap Timber di Kabupaten Pelalawan hingga Kamis (8/9/2022)

BKSDA Riau bersama manajemen PT Peranap Timber serta pekerja melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi terjadinya serangan harimau kepada pekerja Kemabli. Setelah dua serangan yang terjadi dalam satu bulan terakhir. BKSDA Riau meminta pihak perusahaan vendor PT RPM maupun pemilik HTI PT Peranap Timber meningkatkan pengamanan karyawan di sekitar barak pekerja.

Saat ini camp atau tempat tinggal telah dipagar menggunakan terpal berwarna hitam mengelilingi semua barak. Tujuannya untuk menghalangi pandangan harimau sumatera ketika mendekati barak. Biasanya hewan karnivora itu keluar mencari mangsa pada sore hingga malam serta subuh menjelang pagi hari.

"Terpal hitam dari plastik itu bisa menghambat pandangan dan ruang gerak harimau sumatera ke arah barak pekerja," beber Kepala Balai Besar KSDA Riau, Genman S Hasibuan melalui Kabid Wilayah l Andri Hansen Siregar kepada tribunpekanbaru.com, Kamis (8/9/2022).

Para pekerja juga diimbau agar tidak keluar camp sendirian pada malam hari. Kemudian meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar camp serta memasukan hewan peliharaan ke dalam kandang agar tidak mengundang harimau datang untuk memangsanya. Areal di sekitar barak juga dibersihkan supaya penglihatan lebih terang.

"Sampai saat ini sudah ada 10 kamera trap yang kita pasang di dua lokasi serangan yang merupakan satu hamparan," kata Andri Hansen.

Tim BKSDA Riau turun ke lokasi setelah menerima informasi harimau sumatera kembali menyerang pekerja perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Pelalawan, Minggu (4/9/2022) lalu. Lokasinya berdekatan dengan kejadian serangan harimau pada 19 Agustus lalu. Serangan pertama pada 19 Agustus dan serangan kedua pada 3 September masih berada dalam hamparan yang sama. Terletak di areal HTI milik PT Peranap Timber yang beroperasi di Desa Serapung Kecamatan Kuala Kampar berbatasan dengan Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti.

Kebetulan TIm BKSDA saat itu masih berada di lokasi serangan pertama untuk mitigasi dan penanganan konflik. Pada serangan pertama korban seorang perempuan pekerja HTI bernama Seha Sopiana Manik (44) yang meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Sedangkan serangan Si Belang yang kedua kemarin melukai pekerja HTI pria bernama Nihar (41). Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan dan mengalami sejumlah luka cakaran dari Kucing Besar itu.

"Setelah turun ke lokasi serangan kedua kemarin, tim langsung memasang kamera trap di empat titik," tutur Andri Hansen.

Andri Hansen menerangkan, saat kamera jebak yang dipasang di lokasi serangan kedua itu diperiksa, akhirnya gambar individu harimau yang berkeliaran dapat terekam. Pihaknya belum mengindentifikasi binatang buas yang tertangkap kamera itu baik ciri-ciri fisik, motif belang yang dimiliki, hingga ukuran badannya. Tim baru mengetahui jenis kelamin satwa langka itu merupakan betina dan usia menginjak dewasa.

Pihaknya belum bisa memastikan jika Si Belang yang terekam kamera merupakan pelaku penyerangan terhadap korban Nihar yang terluka dan korban Seha yang meninggal dunia. Bisa saja pelakunya merupakan individu yang berbeda dan salah satunya harimau yang terekam tersebut. Bahkan ada juga kemungkinan jika Kucing Oren yang terekam itu sama sekali bukan pelaku dalan dua konflik yang terjadi sebulan terakhir di konsesi HTI PT Peranap Timber Desa Serapung Kecamatan Kuala Kampar.

"Itu belum bisa kita pastikan lagi. Butuh identifikasi dari tim dan mitigasi yang lebih dalam lagi. Yang pastinya sosialisasi terus dilakukan di lapangan," paparnya.

Hasil rekaman kamera trap akan dipelajari kembali oleh tim untuk mengambil tindakan selanjutnya dalam penanganan konflik harimau sumatera dengan manusia yang sudah berkepanjangan di Landscape Semenanjung Kampar itu.

(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved