Breaking News:

Barita Riau

Politisi PKS Riau Sebut Masyarakat Mulai Kesulitan Beli Makan Dampak Kenaikan BBM

Ketua Fraksi PKS DPRD Riau Markarius Anwar meminta agar mahasiswa tidak boleh bersikap netral

Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Ariestia
Istimewa
Ketua Fraksi PKS DPRD Riau Markarius Anwar meminta agar mahasiswa tidak boleh bersikap netral dalam menyikapi kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi, karena harus berpihak kepada masyarakat. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Ketua Fraksi PKS DPRD Riau Markarius Anwar meminta agar mahasiswa tidak boleh bersikap netral dalam menyikapi kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi, karena harus berpihak kepada masyarakat.

Hal ini disampaikan Bendahara DPW PKS Riau ini dalam Focus Group Discusion (FGD) yang ditaja oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Akbar Riau.

"Mahasiswa tidak boleh netral, mahasiswa harus berpihak, tapi berpihak kepada rakyat. Dengar aspirasi dan jeritan masyarakat untuk disuarakan,”ujar Markarius saat didaulat sebagai narasumber.

Diskusi yang bertajuk “Membongkar Persolan Dibalik Kenaikan Harga BBM” ini, Markarius Anwar menegaskan agar mahasiswa tidak apatis terhadap keresahan dan jeritan masyarakat Indonesia, khususnya Riau.

Dirinya pun mengapresiasi acara yang digelar BEM STIE Akbar Riau itu, termasuk aksi unjuk rasa mahasiswa yang menolak kenaikkan BBM.

"Ini acara bagus, mimbar bagi mahasiswa untuk berdiskusi mengkaji persoalan yang ada dan menghasilkan solusi. Saya apresiasi mahasiswa yang mau meluangkan waktu untuk berorganisasi, berkecimpung dengan kegiatan sosial. Ini penting untuk mempertajam pengetahuan kita dan bekal di tengah masyarakat setelah lulus kuliah,"ujar Markarius.

Pada FGD itu, Markarius Anwar menyampaikan sikap PKS jelas, satu-satunya partai yang tegas menolak kenaikkan BBM bersubsidi.

"Sikap PKS ini bukan tiba-tiba, tapi saat wacana kenaikkan saja sudah kami tolak, bahkan saat era Presiden SBY PKS juga menolak, walau saat itu tergabung dalam kabinet,"jelasnya.

Dikatakannya, banyak faktor yang menjadi pertimbangan mengapa Partai PKS menolak kenaikkan harga BBM. Diantaranya ialah, saat ini harga minyak dunia turun, tapi pemerintah malah menaikkan harga BBM.

Kemudian, secara umum tingkat kemiskinan masyarakat masih tinggi, inflasi dari tahun ke tahun luar biasa naiknya, dan salah satu yang memicu inflasi adalah naiknya harga BBM.

“Hasil kajian kami, setiap Rp1.000 rupiah kenaikkan BBM maka akan terjadi inflasi sebesar 1,3 persen. Misal, sebelumnya dexlite harganya Rp9.500 hari ini naik sampai Rp17.900, kenaikkannya hampir Rp10.000, berarti ada 13 % ancaman kenaikkan inflasi tahun ini. Itu satu contoh saja yang kita hitung dari BBM non subsidi, kalau kita hitung lagi dari yang subsidi berapa persen lagi kenaikkannya,"ujarnya.

Apalagi, dua tahun rakyat terpukul pandemi, ekonomi mereka tertatih-tatih untuk bangkit kembali. Beberapa waktu yang lalu, rakyat terpukul akibat kenaikan harga minyak goreng. Belum selesai harga minyak goreng melonjak, harga telur ikut meroket.

Rumah tangga di seluruh Indonesia akan semakin sulit jika harga BBM bersubsidi naik. Kalau BBM bersubsidi ikut naik, harga secara keseluruhan akan naik secara signifikan. Sangat mungkin akan terjadi efek domino di sektor lainnya.

"Dari itu, PKS memandang, kebijakan menaikkan BBM hari ini tidak tepat dilakukan. kemandirian ekonomi masyarakat belum stabil, sehingga efeknya terlalu besar,"ujar Anggota DPRD Riau Dapil Siak-Pelalawan itu.

Dampak kenaikkan BBM ini pun ia saksikan langsung di tengah-tengah masyarakat. Markarius menceritakan beberapa pekan yang lalu ia ditelpon oleh tim di Dapilnya, mengabarkan di pinggiran Sungai Siak ada beberapa keluarga yang sudah 2 hari tidak punya beras untuk dimakan, terpaksa makan ubi seadanya.

"Banyak juga keluarga yang saya temui cuma mampu makan satu kali sehari. Karena gaji kepala keluarga dari perusahaan tidak naik, sementara pengeluaran rumah tangga untuk membeli bahan pokok naik akibat dampak kenaikkan BBM, sehingga gajinya tidak mencukupi kebutuhan keluarga,"ujarnya.

“Kejadian seperti ini baru saya temui di periode ini, yang sebelumnya tidak pernah saya temukan. Sangat terasa dampak kenaikkan BBM ini, ekonomi masyarakat semakin sulit, yang sebenarnya itu adalah tanggung jawab pemerintah,"ujarnya lagi.

Melihat kondisi di lapangan tersebut, Markarius langsung ambil inisiatif membuat program Sembako Darurat khusus di Dapilnya.

"Memang bantuan kami tidak banyak, tapi sedikit mengurangi beban. Ibarat gunung es, yang terlihat sedikit, tapi sesungguhnya masih banyak lagi masyarakat yang mengalami nasib serupa. Semoga pemerintah bisa segera mengentaskan permasalahan ini," lanjutnya menegaskan. (Tribunpekanbaru.com/Nasuha Nasution)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved