Breaking News:

Video Berita

VIDEO: Rusak, Kondisi Jembatan di Desa Bangko Rohil Sudah Memakan 2 Korban Jiwa

Kondisi jembatan Perbatasan Kepenghuluan Parit Aman dan Kepenghuluan Serusa Kecamatan Bangko sangat meresahkan masyarakat.

Penulis: T. Muhammad Fadhli | Editor: David Tobing

TRIBUNPEKANBARU.COM, BAGANSIAPIAPI – Kondisi jembatan Perbatasan Kepenghuluan Parit Aman dan Kepenghuluan Serusa Kecamatan Bangko sangat meresahkan masyarakat.

Lubang menganga sekitar 1 meter di tengah jembatan sangat membahayakan masyarakat atau pengendara yang melintasi jembatan tersebut.

Saat ini lubang tersebut di tutup sementara atau ditambal sementara dengan 2 plat besi agar kendaraan bisa melintas untuk melaksanakan aktifitas sehari – hari.

Masyarakat harus ekstra hati – hati saat melewati jembatan tersebut, karena hanya ditutup oleh plat yang bersifat sementara dan sangat berpotensi mencelakai masyarakat.

Namun plat besi ini menjadi masalah baru bagi masyarakat sekitar jembatan, karena menimbulkan polusi suara yang sangat mengganggu masyarakat saat plat tersebut di lindas oleh kendaraan, apalagi yang bertonase berat.

Menurut warga sekitar jembatan, bunyi yang ditimbulkan dari aktivitas sehari – hari lalu lintas kendaraan di jembatan tersebut terdengar hingga radius 500 meter, sehingga sudah sangat mengganggu masyarakat.

“Kapan lagi pak RT mau di perbaiki jembatan itu, warga sering bertanya kepada saya. Karena kalau kendaraan, apalagi truck colt diesel pengangkut sawit lewat dijembatan ini, bunyi luar biasa sekali,” ungkap Hariyanto, Ketua RT 14 RW 04, Kepenghuluan Parit Aman, Kecamatan Bangko kepada Tribun Pekanbaru, Selasa (20/9/2022) siang.

Apalagi jembatan ini berada di jalan poros utama penghubung Kecamatan Bangko yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Rohil menuju Kecamatan Sinaboi, otomatis lalu lintasnya sangat sibuk oleh lalu lalang kendaraan hingga malam hari.

“Bahkan sampai jam 1 malam truck pembawa sawit masih lewat jalan dan jembatan ini, apalagi lewatnya rombongan. Sangat mengganggu jam istirahat warga, apalagi malam itu lebih sunyi jadi sangat terdengar bunyinya, semua warga disini mengeluh,” tuturnya.

Rumah Hariyanto yang hanya berada sekitar 3 meter dari jembatan tersebut, membuatnya sangat mengingat dan menjadi saksi hidup setiap peristiwa di jembatan yang menurutnya dibangun sekitar tahun 2007, tepat di saat kelahiran anak kembarnya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved