Minggu, 19 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Viral Tiktok Samurai Gulung: Apa Itu Samurai Gulung? Cek Penjelasan Roll Samurai di Sini

Apa Itu Samurai Gulung yang viral Tiktok: Penjelasan Roll Samurai yang merupakan senjata dari Jepang

Penulis: | Editor: Firmauli Sihaloho
ist
Penjelasan Roll Samurai atau Samurai Gulung yang Viral Tiktok 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Apa Itu Samurai Gulung yang kini viral Tiktok?

Arti Samurai Gulung atau yang sering disebut Roll Samurai.

Belakangan ini viral sebuah pedang yang bisa digulung atau disebut sebagai Samurai Gulung atau Saurai King Roll.

Samurai Gulung atau Samurai King Roll ini merupakan pedang samurai peninggalan jepang.

Pedang Jepang, atau umumnya disebut Katana, dikenal sebagai senjata tajam jenis pedang terbaik di dunia.

Melansir TribunJogja.com Sejarah pedang Jepang atau Katana ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kaum Samurai (ksatria) pada masa kuno.

Periode terbaik pembuatan pedang Jepang ada pada masa Kamakura (1185-1392).

Samurai Gulung atau Samurai King Roll

Masyarakat Indonesia saat ini masih marak dibisniskan samurai roll atau sabuk/selendang, dipastikan secara sejarah tidak ada kaitannya dengan pedang Jepang atau Katana.

Katana dibuat menggunakan bahan dasar satetsu atau tamahagane atau disebut juga permata baja.

Pembuatan tamagahane bahan Katana ini dilakukan tradisional dengan pembakaran di tungku nonstop selama minimal tiga/empat hari.

Bijih besi pilihan itu akan dipakai para pembuat Katana.

Sebilah Katana terbaik bisa memakan waktu pembuatan sampai tiga sampai enam bulan, melibatkan ahli penempa, pengasah, pembuat sarung pedang, pengukir dan pembuat hiasan pedang.

Karena bahannya baja, pedang itu tidak mungkin bisa dilipat atau digulung.

Pedang Samurai pun yang asli hanya dibuat di Jepang, oleh para empu didikan khusus sekolah pembuatan pedang di negeri Sakura.

Pembuatan Samurai Gulung

Proses pembuatan Katana mengutip laporan kontributor khusus Tribun di Jepang, Richard Susilo, diawali menempa bahan pilihan yang disebut Katanakaji.

Penempaan menggunakan palu 8 kilogram berulangkali dan bergantian.

Pedang yang selesai ditempa membentuk pedang yang baik, ditandai dengan clay dan batubara serta bubuk polish agar nantinya bisa mengkilat.

Pekerjaan pelapisan ini termasuk ke mata pedang yang dilakukan tipis saja.

Sedangkan di bagian badan pedang pelapisan itu juga dengan menandai pedang berdesain bergelombang yang dinamai Hamon.

Hamon akan muncul lebih jelas saat proses penggosokan. Lalu dibakar sedikit lagi, didinginkan.

Setelah itu proses kedua disebut Togishi yaitu mempertajam pedang dan memoleskan polish supaya mengkilat.

Upaya ini menurut Shinichi Fukutake, ahli togishi Jepang, dilakukan berkali-kali dengan menggunakan tujuh batu pengasah khusus dan berbeda.

Proses pengasahan ini sampai 12 langkah termasuk hazuya, jizuya, nugui dan sebagainya.

Untuk pedang sepanjang 70 cm membutuhkan sekitar 80-100 jam pengasahan atau polishing sehingga pedang menjadi berkilau indah dan tajam.

Begitu tajamnya sampai kain sutera yang sangat tipis pun dengan mudah terbelah hanya karena tersentuh pedang samurai tersebut.

Proses ketiga yaitu Shiroganeshi yaitu melindungi pedang agar tidak berkarat tidak rusak, dengan melapisi logam pada bagian jembatan antara badan pedang dan lokasi tangan untuk memegang pedang.

Kishino mengungkapkan menggunakan sekitar 20 alat untuk membuat pelindung pedang tersebut dan proses pembuatannya selama 12 jam.

Kemudian memasuki proses keempat yaitu Sayashi atau pembuatan sarung pedang dari kayu.

Lama pembuatan bisa antara 4 sampai 5 hari menurut Saburo Ishizaki, ahli pembuat kayu sarung pedang.

Menurut Teruhito Kishino, ahli pelapis sarung pedang, dilanjutkan proses Nurishi yaitu melapisi sarung pedang dengan cat polish dan bisa berlangsung sekitar 2-3 bulan.

Pengecatan sarung pedang dilakukan sekitar 10 kali hingga sarung pedang tampak mengkilat.

Proses ke-6 adalah Chokinshi atau mengukir bagian tubuh pedang oleh ahlinya bernama Shigetsune Katayama.

Untuk mengukir tubuh pedang itu Katayama menggunakan 200 alat pemahat.

Namun biasanya ahli yang sudah senior menggunakan 2.000 alat pengukir atau 10 kali lipat lebih banyak hingga sangat halus ukirannya.

Proses ke-7 yang terakhir dinamakan Tsukamakishi yaitu pembuatan hiasan pada bagian pegangan pedang.

Paling sulit perajutan khusus model berlian yang disebut Jabaramak.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved