Breaking News:

BNN Gerebek Pabrik Ekstasi di Pekanbaru

Rumah Industri Ekstasi Mini di Pekanbaru Beroperasi Sejak September, Sehari Hasilkan 300 Butir Pil

Rumah industri atau pabrik mini pembuatan pil esktasi di Kota Pekanbaru yang digerebek tim dari BNN RI, diketahui sudah beroperasi sejak September

Penulis: Rizky Armanda | Editor: Nurul Qomariah
TRIBUNPEKANBARU.COM/DODI VLADIMIR
Deputi Pemberantasan BNN RI, Irjen Pol Kenedy saat memegang barang bukti narkotika jenis ekstasi saat ekspos kedai pempek yang jadi pabrik pembuatan narkotika jenis pil ekstasi di Jalan Hangtuah, Pekanbaru, Rabu (26/10/2022). Tribunpekanbaru.com/Doddy Vladimir 


TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Rumah industri atau pabrik mini pembuatan pil esktasi di Kota Pekanbaru yang digerebek tim dari Badan Narkotika Nasional ( BNN) RI, diketahui sudah beroperasi sejak September 2022.

Lokasi yang digerebek yakni sebuah kedai pempek di Jalan Hangtuah Ujung, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Kedai bernama Pempek Cekput ini, diketahui hanya menjadi kedok tersangka dalam menjalankan bisnis haramnya.

Lokasi ini digerebek tim BNN pada Selasa (25/10/2022) kemarin.

"Jadi ini sudah beroperasi sejak September, sehari bisa menghasilkan 300 butir pil ekstasi. Kita masih mencari beberapa orang DPO dari Bengkalis," kata Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Kenedy, didampingi Direktur Intelijen BNN Brigjen Pol Ruddi Setiawan, Direktur Psikotropika dan Prekusor BNN Brigjen Pol Sabaruddin Ginting, serta Kepala BNNP Riau, Brigjen Pol Robinson DP Siregar, saat ekspos kasus, Rabu (26/10/2022).

Kenedy melanjutkan, kasus yang diungkap pihaknya ini, terindikasi masih ada kaitannya dengan kasus yang diungkap 3 bulan lalu di daerah Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Kenedy menyebut istilah clandestine laboratory mini bagi lokasi yang digerebek ini.

Maksudnya, ini merupakan laboratorium gelap dalam produksi narkoba dalam skala kecil. Dimana, para tersangka masih menggunakan alat manual.

"Ini laboratorium untuk membuat ekstasi," ucap Kenedy saat ekspos kasus di lokasi penggerebekan.

Pengungkapan ini bermula dari hasil penyelidikan tim BNN RI.

Di mana sudah beberapa waktu belakangan, tim intens melakukan pemantauan dan mengumpulkan informasi.

"Kita lakukan penyelidikan terhadap informasi itu, tepatnya pada Selasa kemarin, jam 13.30 WIB kita melakukan Raid Planning Execution (penggerebekan/penangkapan, red) di lokasi,” jelasnya.

“ Ternyata benar adanya terdapat clandestine laboratory. Ini masih manual dilakukan. Namun luar biasa sekali, sudah ribuan yang diproduksi," imbuhnya.

Dalam penggerebekan ini, petugas mengamankan dua tersangka. Mereka adalah Ikun Iman Santoso (33) dan Herman (54).

Dari hasil pengungkapan tersebut lanjut dia, selain dua tersangka, pihaknya juga mengamankan barang bukti berupa dua plastik bening berisi ekstasi berlogo minion dengan jumlah 2.385 butir atau dengan berat bruto sekitar 950 gram.

Barang bukti ini sudah dilakukan tes oleh petugas Laboratorium Forensik Polda Riau dan dinyatakan positif narkotika jenis ekstasi.

Tim BNN juga menyita bahan-bahan pembuat narkotika, handphone, serta kendaraan milik tersangka.

Atas perbuatannya, kedua tersangka diancam Pasal 114 ayat (2) Jo pasal 132 ayat (1) subsidair Pasal 113 ayat (2) Jo pasal 132 ayat (1) lebih subsidair Pasal 112 ayat (2) Jo pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup.

( Tribunpekanbaru.com / Rizky Armanda )

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved