Breaking News:

Utang Indonesia Semakin Menumpuk, Pemerintah Klaim Masih Aman

Utang Indonesia hingga Oktober 2022 sudah mencapai Rp 7.496,70 triliun. Sangat fantastis dan terbesar dalam sejarah berdirinya negara Indonesia

tangkap layar youtube
Utang Indonesia Semakin Menumpuk, Pemerintah Klaim Masih Aman 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Setiap tahun utang Indonesia bukannya berkurang, malah bertambah. Hingga Oktober 2022, utang Indonesia mencapai Rp 7.496,70 triliun.

Hal itu berdasarkan data dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Besarnya utang Indonesia tentunya berdampak pada beban negara.

Posisi utang pemerintah tersebut setara 38,36 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Meski begitu, pemerintah mengklaim jika rasio utang ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio utang terhadap PDB pada periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat mencapai 39,69 persen.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 7.420,47 triliun, utang pemerintah pada Oktober 2022 mengalami peningkatan secara nominal.

“Terdapat peningkatan dalam jumlah nominal dan rasio utang pada akhir Oktober 2022 jika dibandingkan dengan bulan lalu,” seperti dikutip dari buku APBN KITA Edisi November 2022, Minggu (27/11/2022).

Meskipun demikian, pemerintah mengklaim peningkatan tersebut masih dalam batas aman, wajar, serta terkendali diiringi dengan diversifikasi portofolio yang optimal.

Pemerintahan Jokowi pun berkomitmen untuk terus mengelola utang dengan hati-hati.

Untuk menjaga akuntabilitas pengelolaan utang, pemerintah akan selalu mengacu kepada peraturan perundangan dalam kerangka pelaksanaan APBN, yang direncanakan bersama DPR, disetujui dan dimonitor oleh DPR, serta diperiksa dan diaudit oleh BPK.

Berdasarkan jenisnya, utang pemerintah didominasi instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai 88,97 persen dari seluruh komposisi utang akhir Oktober 2022. Sementara berdasarkan mata uang, utang Pemerintah didominasi oleh mata uang domestik (Rupiah), yaitu 70,54 persen.

Langkah ini menjadi salah satu tameng pemerintah dalam menghadapi volatilitas yang tinggi pada mata uang asing dan dampaknya terhadap pembayaran kewajiban utang luar negeri. 

Dengan strategi utang yang memprioritaskan penerbitan dalam mata uang rupiah, porsi utang dengan mata uang asing ke depan diperkirakan akan terus menurun dan risiko nilai tukar dapat makin terjaga.

Sementara itu, kepemilikan SBN saat ini didominasi oleh perbankan dan diikuti Bank Indonesia, sedangkan kepemilikan investor asing terus menurun sejak tahun 2019 yang mencapai 38,57 persen, hingga akhir tahun 2021 tercatat 19,05 persen, dan per 14 Oktober 2022 mencapai 14 persen.

Hal tersebut menunjukkan upaya pemerintah yang konsisten dalam rangka mencapai kemandirian pembiayaan dan didukung likuiditas domestik yang cukup.

Meski demikian, dampak normalisasi kebijakan moneter terhadap pasar SBN tetap masih perlu diwaspadai.

(*)

Sumber: Kontan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved