Breaking News:

Beralih dari Batu Bara: Indocement Membangun Peradaban & Menjaga Keberlangsungan

di Indonesia, batu bara masih menjadi pilihan utama beberapa industri sebagai sumber bahan bakar. Mulai dari pembangkit tenaga listri

Indocement
Seremonial pengiriman pertama RDF sebagai bahan bakar alternatif untuk Indocement pada 23 Juni 2022 di ITC Cempaka Mas. Acara ini dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Direktur Indocement, Troy D. Soputro, dan petinggi dari salah satu perusahaan developer terkemuka di Indonesia 

 “You cannot claim to be green while your plans and projects undermine the 2050 net-zero target and ignore the major emissions cuts that must occur this decade.  OECD countries must phase out coal by 2030, and all others by 2040,”

Penegasan di atas disampaikan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres dalam pertemuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2022 di Jenewa, Swiss.

Dia mengatakan semangat go green hanya menjadi wacana semata jika pembangunan yang dilakukan masih belum memperhatikan faktor lingkungan. Salah satunya Ia menghimbau agar negara-negara di dunia menghentikan penggunaan batu bara.

Sementara di Indonesia, batu bara masih menjadi pilihan utama beberapa industri sebagai sumber bahan bakar. Mulai dari pembangkit tenaga listrik, industri baja, produksi pupuk pertanian, industri semen dan lain sebagainya.

Adapun temuan British Petroleum pada tahun 2021, menyebut Indonesia menempati posisi ketujuh di dunia sebagai negara yang paling banyak memanfaatkan batu bara.

Menyadari hal itu, pemerintah Indonesia kini gencar mengkampanyekan pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan keberlangsungan lingkungan melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Batu bara dalam kaitannya dengan lingkungan, diyakini membawa sejumlah dampak negatif yang tertuang dalam berbagai hasil riset.

Maka tak heran, Sekjen PBB menaruh perhatian lebih terhadap penggunaan batu bara ini. Sebab, batu bara tidak hanya merusak lingkungan, melainkan ikut mengancam kehidupan manusia.

Seperti laporan Badan Energi Internasional (IEA) pada tahun 2021. IEA menyebut bahwa bahan bakar fosil batu bara menyumbang 44 persen dari total emisi CO2 global.

Sementara untuk kesehatan manusia, IEA mengambil contoh polusi yang dihasilkan dari pembakaran batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Hasil pembakaran ini menghasilkan zat berbahaya, seperti NOx dan SO2. Kemudian berkontribusi dalam pembentukan hujan asam dan polusi PM2.5.

Masyarakat ilmiah dan medis telah mengungkap bahaya kesehatan akibat partikel halus (PM2.5) dari emisi udara tersebut. Seperti peningkatan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan.

Komitment Indocement sebagai Industri Hijau

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebagai produsen semen terbesar di Indonesia saat ini terus menjaga komitmen sebagai industri hijau yang mengutamakan lingkungan. Bahkan, komitmen itu sudah dibangun sejak tahun 2005.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved