Breaking News:

Berita Pelalawan

Harimau Pemangsa Sapi Warga di Perkebunan PT Serikat Putra Pelalawan Diduga dari Landscape Kerumutan

BKSDA Riau masih melakukan mitigasi atas serangan harimau sumatera terhadap seekor sapi milik warga di Pelalawan.

Penulis: johanes | Editor: Ariestia
Istimewa
Tim gabungan melakukan investigasi terhadap bangkai sapi yang dimangsa harimau sumatera di areal perkebunan kelapa sawit PT Serikat Putra di Desa Lubuk Raja, Kecamatan Bandar Petalangan, Kabupaten Pelalawan pada Senin (5/12/2022) lalu. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau masih melakukan mitigasi atas serangan harimau sumatera terhadap seekor sapi milik warga di Desa Lubuk Raja, Kecamatan Bandar Petalangan, Kabupaten Pelalawan hingga Rabu (7/12/2022).

Seekor sapi milik warga dimangsa Harimau sumatera pada Sabtu (3/12/2022) pekan lalu di Pondok lll perkebunan kelapa sawit milik PT Serikat Putra Desa Lubuk Raja, Bandar Petalangan. Pada tubuh sapi tersebut ditemukan bekas cakaran dan gigitan Si Belang. Bahkan di sekitar lokasi penemuan bangkai sapi didapati bekas kaki Si Belang. Sapi tersebut milik warga bernama Sami Toni Mustofa (34) yang tinggal di Desa Lubuk Raja.

"Ada 6 ekor sapi yang ditambat di kebun sawit PT Serikat Putra untuk mencari pakan di situ. Sepertinya pemiliknya tidak mengontrol ternaknya hingga dimangsa Harimau sumatera," ungkap Kepala BKSDA Riau, Genman Suhefti Hasibuan melalui Kabid Wilayah l Andri Hansen Siregar kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (7/12/2022).

Diduga binatang buas itu berjumlah satu individu yang menyerang sapi dewasa tersebut. Diperkirakan ukuran Si Belang cukup besar sebab mampu memangsa sapi yang besar dan menyeretnya hingga jauh dari lokasi penambatan di kebun sawit PT Serikat Putra. Bahkan tali tambat sapi tersebut sampai putus saat satwa langka itu memangsa ternak.

Tim BKSDA Riau yang turun melakukan investasi dan mitigasi memprediksi individu harimau yang berkeliaran di kebun sawit perusahaan itu berasal dari Landscape Kerumutan.

Pasalnya, ditarik garis lurus dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) ke hutan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan hanya berjarak sekitar 28 kilometer.

Kemudian ada hutan kecil di antara kebun sawit dan SM Kerumutan berupa kepungan Sialang. Selama ini diketahui SM Kerumutan menjadi habitat hewan karnivora itu ada ada beberapa individu yang mendiami hutan alami tersebut.

"Dari SM Kerumutan sampai ke lokasi dan ada juga hutan kepungan Sialang, dugaan kita itu daerah teritorial individu harimau. Karena wilayah jelajahnya cukup luas," tambah Andri Hansen.

Tim BKSDA Riau bersama perusahaan dan aparat setempat berencana akan memasang camera trap atau kamera jebak di titik perlintasan serta di sekitar lokasi serangan.

Untuk memantau individu harimau yang memangsa ternak tersebut dan dilakukan identifikasinya.

Namun kamera jebak BKSDA Riau masih digunakan di lokasi mitigasi lainnya di beberapa tempat. Sembari menunggu itu, perusahaan diminta untuk mencari kamera jebak lain untuk dipasang segera.

"Kita minta perusahaan juga mengusahakan kamera jebak, karena milik kita masih dipakai semuanya. Sejauh ini tim sudah memberikan edukasi dan sosialisasi," tandasnya.

Perusahaan disarankan untuk mengimbau pekerja agar berhati-hati dalam bekerja dan harus berkelompok ketika berada di areal perkebunan.

Tidak dibenarkan bekerja pada subuh atau malam hari karena di waktu itulah binatang bernama latin Panthera Tigris Sumatrae itu aktif mencari mangsa. Warga sekitar Desa Lubuk Raja juga diberikan edukasi serupa untuk mengantisipasi interaksi negatif antara manusia dengan harimau.

Papan pengumuman berisi peringatan daerah perlintasan harimau juga dipasang di beberapa titik untuk mengingatkan masyarakat maupun pekerja di sepanjang lintasan Si Belang.

"Kita ingatkan juga jangan sampai bertindak anarkis terhadap harimau tersebut, karena satwa itu dilindungi pemerintah," tegasnya. ( Tribunpekanbaru.com/ Johannes Wowor Tanjung)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved