Berita Siak
Ghatib Beghanyut, Ritual Tolak Bala dengan Doa yang Dirapalkan di Atas Kapal
Ritual tolak bala Ghatib Beghanyut ke-9 kembali digelar Pemkab Siak, Minggu (10/9/2023) malam.
Penulis: Mayonal Putra | Editor: Ariestia
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Ritual tolak bala Ghatib Beghanyut ke-9 kembali digelar Pemkab Siak, Minggu (10/9/2023) malam. Ritual ini diikuti oleh para pejabat, tokoh adat dan masyarakat Siak.
Jemaah Ghatib Beghanyut ini memulai kegiatan dari Masjid Sahabuddin, masjid yang dibangun di masa kesultanan Siak. Mereka memakai baju gamis serba putih.
Di masjid itu, jemaah terlebih dahulu melaksanakan salat isya berjemaah, lalu menggelar doa bersama. Kemudian mereka menyalakan obor bambu dan berjalan kaki menuju pelabuhan LLSDP, yang berjarak sekitar 300 meter dari masjid.
Saat berarak dengan membawa obor itu mereka melantunkan kalimat-kalimat tahlil. Ritual ini disebut ghatib tegak.
Sesampai di pelabuhan LLSDP tersebut, mereka maniki kapal fery dan sejumlah perahu nelayan. Wakil Bupati Siak Husni Merza dan sejumlah jajaran tampak duduk di bagian depan geladak kapal.
Seorang muazin tampil ke depan. Saat lantunan azan itu menggema di atas sungai Siak, kapal yang dinaiki bergerak perlahan mengikuti arus. Jemaah yang duduk teratur tampak khusuk mengikuti imam yang mulai merapalkan doa-doa tolak bala.
Tangan-tangan yang menengadah ke langit yang gelap, serta kepala yang tertunduk penuh harapan, jemaah meminta agar dijauhkan dari semua bala, penyakit, bencana, kemiskinan dan perpecahan.
Lebih 1 Km kapal itu hanyut dengan gema doa-doa dan kalimat-kalimat suci yang memecah kesunyian di tengah sungai. Kapal perlahan merapat ke pelabuhan sederhana di kampung Belantik.
Sesaat kapal bersandar di dermaga, imam menutup doanya. Jemaah mengusap muka sambil mengucapkan “amin”. Lalu mereka bersalaman.
Pelaksanaan ritual tolak bala ghatib beghanyutpun selesai. Ritual ini akan kembali digelar pada tahun depan, setiap bulan Safar.
“Atas kesepakatan bersama tokoh masyarakat mintanya bulan Safar,” begitu kata Wabup Siak Husni Merza saat ditanya alasan memilih bulan Safar ritual ini.
Husni menyebut, Ghatib Beghanyut merupakan ikhtiar dari masyarakat kabupaten Siak sejak dahulu, dengan mohon doa kepada Allah SWT, agar dijauhkan dari musibah dan wabah penyakit. Tradisi ini, sudah ada sejak zaman kerajaan Siak.
“Oleh Pemkab Siak tradisi ghatib beghanyut dijadikan event tahunan. Selain kita melestarikan tradisi yang baik dan pernah diwariskan oleh orang tua-tua kita, dan berharap kita semakin dekat ke pada Allah, dengan dekatnya kita kepada Allah, kita mohon Allah jaga negeri Siak dari musibah dan wabah penyakit,” urai Husni.
Husni menjelaskan Ghatib Beghanyut adalah kegiatan rutin tahunan yang telah berlangsung sebanyak sembilan kali. Tradisi ini dilaksanakan secara turun-temurun setiap tahun melalui serangkaian zikir, tasbih tahlil dan takbir yang dilakukan dengan berhanyut di Sungai Siak menggunakan beberapa sampan dan kapal ferry.
“Alhamdulillah, kita masih menjaga tradisi Ghatib Beghanyut, semoga terjaga dan lestari zaman ke zaman, karena Beghanyut (berhanyut) dari hulu ke hilir sungai Siak, berharap doa terkabul dan amal ibadah diterima dan dijauhkan dari berbagai musibah penyakit dan peristiwa buruk yang telah melanda di tengah-tengah masyarakat kita, keberkahan untuk masyarakat dan negeri kita, Aamiiin Yaa Rabbal Alamin," kata Husni.
Kegiatan tradisi keagamaan ini diselenggarakan oleh Pemkab Siak dengan biaya APBD Siak 2023. Tradisi ini juga didukung kaum adat, tokoh masyarakat dan tokoh adat Melayu di luar kabupaten Siak. (tribunpekanbaru.com/mayonal putra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Ghatib_Beghanyut_Ritual_Tolak_Bala_dengan_Doa_yang_Dirapalkan_di_Atas_Kapal.jpg)