Rabu, 29 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Menakar Pentingnya Pemerataan Akses Internet hingga ke Pelosok Negeri

Budi Arie menekankan pemerataan akses internet tidak hanya melalui pembangunan BTS, tetapi juga bisa menggunakan satelit.

Tayang: | Diperbarui:
kominfo.go.id
ILLUSTRASI BTS: Pemerataan akses internet di Riau mesti terus digesa agar potensi digitalisasi bisa dimaksimalkan hingga ke pelosok desa. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Provinsi Riau belum sepenuhnya terkoneksi internet. Terdapat 437 desa dengan status low signal yang tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota.

Mulai dari Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu, Bengkalis, Indragiri Hilir, Pelalawan, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Siak, Kuantan Singingi hingga Kepulauan Meranti.

Lalu diikuti 30 desa yang masih memerlukan pembangunan base transceiver station (BTS) dan infrastruktur jaringan.

Data ini terungkap saat kunjungan kunjungan kerja Menkominfo Budi Arie Setiadi ke Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis pada Agustus 2023 kemarin.

Budi Arie menekankan pemerataan akses internet tidak hanya melalui pembangunan BTS, tetapi juga bisa menggunakan satelit.

“Satelit SATRIA-1 berkapasitas 150 Gbps sudah berhasil luncurkan pada tanggal 18 Juni lalu, di Florida Amerika Serikat. Kini SATRIA-1 sedang menempuh jalur menuju orbit dan diproyeksikan akan mulai melayani lokasi blankspot pada akhir Desember 2023 mendatang,” kata Dia.

Satelit terbesar di Asia milik pemerintah Indonesia ini nantinya akan memperkuat jaringan internet dan layanan digital di 150 ribu titik terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Oleh sebab itu, Budi Arie menghimbau kepala desa yang hadir pada pertemuan itu untuk bersabar dan mempersiapkan rencana aksi digitalisasi.

Provinsi Riau terbilang cukup baik dalam memanfaatkan potensi digitalisasi. Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) mencatat Ibukota Pekanbaru sampai akhir 2021 masuk dalam 10 besar sebagai Kota dengan jumlah startup terbanyak.

Dari total 38 startup yang dilaporkan MIKTI, berdasarkan penelusuran tribunpekanbaru.com terdapat tiga startup asal Bumi Lancang Kuning yang bertahan dan eksis hingga sekarang.

Seperti Gamebrott, portal berita game yang didirikan oleh pemuda asal Pasir Pangaraian, Riau lulusan kampus UIN Suska, Rio Fernando. Gamebrott mendunia setelah pada tahun 2018 lalu diakuisisi oleh Hong Kong Esports Limited (HKEsports). Startup ini menyajikan beragam informasi video game dengan rubrik - rubrik informatif lainnya.

Kemudian pemuda asal kota Pekanbaru, Farly Nur Dewantara dengan platform Assist.id yang diluncurkan pada tahun 2019. Platform ini mendigitalisasi fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, klinik dan apotek.

Dengan Assist.id, pemilik fasilitas kesehatan dimudahkan dalam melakukan booking pasien, rekam medis, data stok obat, kasir pembayaran, laporan otomatis, manajemen staff dan lainnya. Assist.id kini sudah melayani lebih dari 950 Fasilitas Kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Terakhir startup Cowin milik Khairul Anwar Ade Saputra. Cowin adalah platform investasi yang mempertemukan peternak sapi di pedesaan dengan investor.

Cowin muncul akibat keresahan Khairul melihat banyak kandang sapi yang menganggur di desa (Kabupaten Kampar) karena ketiadaan modal. Sejak beroperasi tahun 2017, Cowin kini sudah memiliki 300 lebih investor dengan rata-rata penjualan sapi setiap bulannya mencapai 100 ekor.

Selain tiga startup di atas, diprediksi masih ada startup lainnya yang dalam tahap pengembangan. Namun yang perlu dicatat ialah bagaimana animo masyarakat di Riau memanfaatkan potensi ekonomi di era digitalisasi saat ini.

Menkominfo Budi Arie mengakui hal tersebut. Ia menuturkan sebanyak 2.656 orang talenta digital Provinsi Riau telah mengikuti pelatihan DTS  selama tahun 2022 dan 2023.

"Saya menyaksikan potensi UMKM dan Orang Muda Riau di dunia digital yang signifikan. Saya yakin warga Riau memiliki semangat juang yang tinggi untuk terus mengembangkan diri, makin unggul di era digital," katanya dalam dialog dengan masyarakat Riau di Gedung Daerah Balai Serindit Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, Riau, dikutip Minggu (27/08/2023).

Kunker Menkominfo ke Riau
Kunker Menkominfo ke Riau (istimewa)

Pulau Terluar di Riau Butuh Sentuhan Digitalisasi

Sebagai Pulau Terluar Indonesia, Kepulauan Meranti di Provinsi Riau membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dalam mempromosikan potensi daerah.

Salah satunya Kopi Liberika Meranti yang unik. Berbeda dari varian Robusta dan Arabika, Liberika Meranti dipanen dari lahan gambut di dataran rendah dengan ketinggian 2 Mdpl.

Akan tetapi, Kopi Liberika lebih banyak diekspor ke negeri Jiran Malaysia sementara kurang dikenal di Indonesia.

Padahal, International Coffee Organization (ICO) menyebut Indonesia menjadi negara dengan konsumsi kopi terbesar kelima di dunia pada 2020/2021. Jumlahnya sebanyak 5 juta kantong berukuran 60 kilogram..

“Berdasarkan cerita petani di sana, memang Kopi Liberika Meranti ini lebih banyak diekspor ke negeri tetangga. Karena peminatnya lebih banyak di sana dibanding kita yang di Indonesia,” kata Taufik, Pemilik Kopi Curah Pekanbaru yang fokus mengolah Liberika Meranti sejak tahun 2016.

Ia mengatakan Kopi Liberika Meranti membutuhkan bantuan segala pihak dalam bidang promosi agar mampu bersaing dengan varian Robusta dan Arabika.

Sebab, Liberika Meranti menawarkan rasa yang berbeda, perpaduan antara nangka, kopi dan coklat.

“Juga menjadi alternatif lain bagi penikmat kopi, karena varian ini dikenal memiliki tingkat keasaman dan kadar kafein yang tergolong rendah,” jelas Taufik.

Sementara Badan Pusat Statistik dalam laporan bertajuk Kabupaten Kepulauan Meranti Dalam Angka 2022, menyebut tanaman kopi ini menjadi salah satu unggulan warga selain Sagu, Kelapa, Karet dan Pinang. Tercatat luas lahan kopi sudah mencapai 2,24 ribu hektare pada tahun 2021.

Berkaca dari perkembangan teknologi saat ini, promosi Kopi Liberika Meranti untuk menjangkau pasar yang lebih luas sepertinya bukanlah sesuatu yang sulit.

Seperti menggunakan media sosial dan e-commerce sebagai alat promosi sekaligus memasarkan produk. Oleh sebab itu, kehadiran akses internet menjadi penting di Kepulauan Meranti.

( Tribunpekanbaru.com/ Firmauli Sihaloho)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved