Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Jawa Tengah Legenda Gunung Merapi tentang Perapian untuk Menempa Keris Sakti

cerita rakyat Indonesia adalah cerita rakyat Jawa Tengah yakni legenda Gunung Merapi tentang perapian untuk menempa keris sakti.

Penulis: pitos punjadi | Editor: Nolpitos Hendri
capture Google Earth
Cerita Rakyat Jawa Tengah Legenda Gunung Merapi tentang Perapian untuk Menempa Keris Sakti 

TRIBUPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kali ini cerita rakyat Indonesia adalah cerita rakyat Jawa Tengah yakni legenda Gunung Merapi tentang perapian untuk menempa keris sakti.

Konon pada zaman dahulu, di sebuah hutan belantara di Pulau Jawa tampak kepulan asap putih yang membelah hutan nan rindang hingga ke angkasa.

Asap putih tersebut berasal dari tungku perapian untuk peleburan besi tradisional yang berada disebuah pondok kayu sederhana.

Terlihat dua lelaki paruhbaya tengah sibuk menempa sebuah pusaka.

Mereka bernama Mpu Rama dan Mpu Pamadi yang sudah sangat terkenal akan kesaktiannya seantero negeri, bahkan para dewa mengakui kesaktian dari dua mpu tersebut.

Sementara itu di tempat lain ada dua dewa dari kayangan yang bernama Bathara Narada dan Dewa Penyarikan tengah sibuk memeriksa sebuah gunung di sisi selatan pulau Jawa.

Gunung tersebut bernama Gunung Jamur Dipa.

Keris yang ditempa Mpu Rama dan Mpu Pamadi telah selesai dibuat.

Keris tersebut memancarkan aura yang begitu hebat.

Bathara Narada dan Dewa Penyarikan kembali ke kayangan untuk melaporkan hasil dari pengamatannya kepada Bathara Guru.

Dia berkata: bagaimana hasil dari penyelidikan yang kalian lakukan di Gunung Jamur Dipa.

Setelah kami memeriksa Gunung Jamur Dipa akhirnya semua menjadi jelas.

Keberadaan gunung tersebut mengakibatkan pulau Jawa miring keselatan.

Jadi sudah seharusnya Gunung Jamur Dipa harus dipindahkan kedaratan rendah sebelah utara pulau Jawa.

Apakah kalian sanggup untuk melaksanakan tugas yang berat ini, tanyanya.

Sebelah utara Gunung Jamur Dipa terdapat sebuah daratan rendah berupa hutan belantara, sehingga dapat dipindahkan ditempat itu.

Akan tetapi, terdapat dua mpu sakti yang sedang membuat keris yang menempati hutan tersebut.

Baiklah, jika seperti itu aku perintahkan kepada kalian berdua Bathara Narada dan Dewa Penyarikan untuk memerintahkan kedua mpu tersebut segera berpindah.

Berangkatlah Bathara Narada dan Dewa Penyarikan menuju hutan tempat dimana kedua mpu tersebut berada.

Sesampainya dipondok tersebut Mpu Rama dan Mpu Pamadi mempersilahkan kedua utusan kayangan tersebut.

Ada hajat apa wahai gusti ? sampai utusan dari kayangan turun ketempat ini ?

Adakah yang dapat hamba bantu ? Kedatangan kami kesini bermaksud untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada mpu.

Apakah permintaan itu ? Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.

Bathara Narada pun menjelaskan permintaan para dewa kepada kedua mpu tersebut.

Setelah mendengar penjelasan itu, keduanya hanya tertegun.

Mereka merasa permintaan para dewa itu sangatlah berat, maafkan hamba gusti.

Hamba bukannya bermaksud untuk menolak permintaan para dewa.

Tapi, perlu gusti ketahui, bahwa membuat keris sakti itu tidak boleh dilakukan sembarangan.

Termasuk berpindah-pindah tempat. Tapi Mpu?

Keadaan ini sudah sangat mendesak, jika Mpu berdua tidak segera pindah dari sini, pulau Jawa ini semakin lama akan bertambah miring.

Benar kata Dewa Penyarikan Mpu, Kami pun bersedia mencarikan tempat yang lebih baik untuk Mpu berdua.

Lalu dijawab lagi, maaf gusti, kami belum dapat memenuhi permintaan itu.

Kalau kami berpindah tempat maka keris yang kami buat ini tidak sebagus yang diharapkan.

Lagi pula masih banyak tanah datar yang lebih bagus untuk menempatkan Gunung Jamur Dipa itu.

Keteguhan hati kedua Mpu tersebut, Bathara Narada dan Dewa Penyarikan mulai kehilangan kesabaran.

Mereka terpaksa mengancam kedua Mpu tersebut agar segera pindah dari tempat itu.

Wahai Mpu Rama dan Mpu Pamadi, jangan memaksa kami untuk mengusir kalian dari tempat ini.

Kedua Mpu tersebut tidak takut, mereka siap bertarung demi mempertahan tempat itu.

Yang akhirnya terjadilah perselisihan di antara mereka.

Pertarungan sengit pun tak bisa terhindarkan. Bathara Narada menghadapi Mpu Rama.

Sedangkan Dewa Penyarikan bertarung melawan Mpu Pamadi.

Kedua Mpu tersebut tetap tidak gentar meskipun yang mereka hadapi adalah utusan para dewa.

Pertarungan sengit pun berlangsung hingga berhari-hari.

Tidak ada tanda-tanda siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

Namun, kedua Mpu yang dihadapi utusan dewa tersebut benar-benar sakti.

Sampai-sampai membuat Bathara Narada dan Dewa Penyarikan kalah dalam pertarungan sengit tersebut.

Memaksa mereka berdua kembali ke kayangan menghadap kepada Bathara Guru dengan tangan hampa.

Ampun Bhatara Guru, kami gagal membujuk kedua Mpu itu. Mereka sangat sakti mandraguna.

Mendengar laporan itu Batara Guru menjadi murka.

Dasar, memang keras kepala kedua Mpu itu, mereka harus diberi pelajaran, tidak ada jalan lain, Gunung Jamur Dipa harus segera dipindahkan meskipun akan menimpa kedua Mpu tersebut.

Dewa Bayu, segeralah kamu tiup Gunung Jamur Dipa itu.

Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Gunung Jamur Dipa hingga melayang layang di angkasa.

Kemudian jatuh tepat diperapian kedua Mpu tersebut.

Kedua Mpu yang berada ditempat itupun ikut tertindih oleh Gunung Jamur Dipa hingga tewas seketika.

Menurut cerita roh kedua Mpu tersebut kemudian menjadi penunggu gunung itu.

Sementara tungku perapian tempat keduanya membuat keris sakti berubah menjadi kawah.

Oleh karena kawah itu pada mulanya adalah sebuah perapian maka para dewa mengganti nama gunung itu menjadi Gunung Merapi.

Demikianlah tadi legenda gunung Merapi merupakan cerita rakyat yang sangat melegenda dari Jawa Tengah. sumber : Ihwal.id

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved