Minggu, 3 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Meraup Cuan dari Budidaya Maggot, Pakan Ternak yang Bergizi

banyak riset yang menyebut kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena mengandung unsur nitrogen yang tinggi dan baik untuk meningkatkan ke

Tayang:
tribunpekanbaru/firmaulisihaloho
Yuliana, Pembudidaya Maggot di Pekanbaru sejak 2019. Maggot mengandung banyak gizi yang cocok dipakai sebagai pakan ternak. 

“Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts,” Winston Churchill

TRIBUNPEKANBARU.COM - Yuliana antusias memperlihatkan hewan ternaknya di Jalan Karya Bersama Kota Pekanbaru pada Kamis (18/4/2024) siang. Bagi sebagian orang, barangkali ternak Yuliana ini agak menggelikan.

Bentuknya mirip ulat. Berbuku dan berwarna coklat. Jumlahnya sangat banyak, bisa mencapai ribuan. Sekali genggam, ratusan ulat sepanjang 0,3 cm sampai 1,5 cm itu bergerak tak henti. 

Akan tetapi, banyak riset yang mengatakan hewan ternak ini memiliki kandungan protein yang tinggi bila dijadikan pakan ternak lainnya.

Kandungan proteinnnya berkisar 41 hingga 42 persen protein kasar dalam bentuk kering. Sementara jika dibandingkan dengan kandungan protein dalam pakan ikan umumnya berkisar antara 20 hingga 40 persen.

Lalu kandungan lemaknya juga tinggi, mencapai 5,9 persen yang sangat berguna bagi pertumbuhan hewan ternak.

Hewan tersebut adalah Maggot, sejenis larva dari lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF).

Yuliana memulai budidaya Maggot pada tahun 2018. Ide tersebut muncul tidak terduga saat Ia bersama suami mudik ke Pulau Jawa.

"Saat itu, saya melihat ada keluarga di sana membudidayakan maggot ini. Dia bilang maggot sangat bagus untuk pakan ternak. Nah, kebetulan saat itu kami punya beberapa hewan ternak seperti ayam dan bebek. Kami berpikir bagaimana kalau maggot ini dibudidayakan di Pekanbaru untuk hewan ternak kami. Lumayan juga untuk menekan biaya pakan yang setiap harinya mencapai Rp 50 ribu," terang Yuliana kepada tribunpekanbaru.com.

Sepulang dari Pulau Jawa, Yuliana dengan suami mencoba mengembangkan maggot. Bak pepatah yang mengatakan sesuatu itu butuh proses, Dia mengalami beberapa kali kegagalan.

Kurang lebih 10 bulan proses pengembangan maggot yang dilakukan Yuliana gagal. Banyak maggot yang mati karena penanganan yang kurang tepat.

Meski begitu, Yuliana tetap istiqomah. Pelajaran dari kegagalan yang dialami Ia catat dan diperbaiki.

Hingga lambat laun titik cerah itu mulai terlihat. Beberapa maggot Yuliana tumbuh baik dan siap panen setelah dikembangkan selama 15 sampai 19 hari.

"Setelah itu, banyak tetangga yang datang dan melihat maggot ini. Mereka heran apa benar ulat ini bisa dijadikan pakan ternak dan bahkan lebih bagus daripada pakan lainnya. Kami sudah membuktikannya, ayam dan bebek kami tubuhnya lebih besar dan lebih kuat. Begitu juga dengan beberapa tanaman pisang kami yang menggunakan pupuk dari kotoran maggot atau kasgot  tumbuh lebih baik dan berbuah lebat," papar Dia.

Sebagai informasi, banyak riset yang menyebut kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena mengandung unsur nitrogen yang tinggi dan baik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Seiring berjalannya waktu, informasi budidaya maggot Yuliana mulai tersebar dari mult ke mulut warga. Hingga menarik perhatian peternak ikan yang ingin membeli maggot Yuliana dalam jumlah besar.

Melihat prospek yang cukup menjanjikan, Yuliana dan suami sepakat untuk mengembangkan budidaya ini. Dengan modal seadanya, kandang maggot mulai ditata dan diperbesar.

"Pada tahun 2019, ada beberapa bagian kandang yang kurang. Lalu dengar kabar, untuk modal usaha kecil bisa mendapatkannya melalui Permodalan Nasional Madani atau PNM. Kala itu kami meminjam Rp 3 juta saja untuk menyokong pembuatan kandang. Seperti membuat pintu, dinding GRC, kelambu dan lainnya," tuturnya.

Kini, Yuliana rata-rata menjual 50 kilogram maggot setiap harinya dengan harga setiap kilogramnya Rp 8 ribu. Untuk pakan maggot, Yuliana menampung sampah dapur rumah tangga dari lingkungan tempat tinggalnya dan sampah dari beberapa perusahaan makanan.

Maggot disebut juga sebagai salah satu solusi mengatasi sampah. Sebab, proses penguraian bahan-bahan organik oleh Maggot cukup cepat, khususnya sampah sayuran dan buah. Dalam waktu 24 jam, 10.000 ekor Maggot BSF dapat mengurai 5 kg sampah organik.

Ibu empat dari empat anak ini menjelaskan pinjaman dari PNM sangat membantu mengembangkan usahanya tersebut. Terhitung, sudah berkali-kali Dia mengajukan kredit Ultra Mikro ini ke PNM.

Apalagi, dirinya kesulitan untuk mengakses pinjaman modal ke perbankan karena terkendala BI Checking.

“Beberapa tahun lalu, ada sepupu meminjam data saya untuk mengajukan kredit sepeda motor. Entah kenapa, kreditnya macet hingga sepeda motor itu ditarik. Imbasnya, data saya di perbankan jadi bermasalah hingga kini. Sejak saat itu, saya dan suami sepakat untuk menjalan budidaya ini perlahan saja dengan modal yang dikumpulkan. Apalagi tujuan awal kami memang budidaya ini untuk ternak sendiri,” tuntas Dia.

Pemimpin Cabang PNM Pekanbaru, Benny Satria Basri mengatakan penyaluran kredit Ultra Mikro di wilayah kerjanya yang meliputi Riau dan Kepulauan Riau terbilang meningkat setiap tahun.

“Kredit Ultra Mikro per 2023 desember jika dibandingkan tahun sebelumnya (year on year) tumbuh, baik dari jumlah nasabah juga total penyaluran. Sementara untuk tahun 2024 ini, kita ditargetkan menyalurkan kredit Ultra Mikro senilai Rp 2,4 Triliun dengan jumlah nasabah 410 ribu,” katanya kepada tribunpekanbaru.com, Jumat (19/4/2024).

Benny mengatakan kredit Ultra Mikro merupakan salah satu cara pemerintah untuk membantu para pelaku usaha yang berada di the bottom of pyramid.

Tidak hanya pembiayaan, katanya melanjutkan, pihaknya juga membantu usaha mikro ini secara sosial. Seperti menggelar pelatihan, bazar hingga pengurusan izin usaha.

Disamping itu, sejak Holding Ultra Mikro dilakukan bersama BRI dan Pegadaian tahun 2021, literasi keuangan masyarakat juga meningkat.

“Sebab, nasabah PNM otomatis memiliki buku rekening di BRI. Pencairan tidak lagi tunai, tapi langsung ke rekening mereka. Selai itu buku tabungannya berbeda, namanya Simpedes UMi yang tidak ada biaya bulanan dan administrasi,” singkatnya.

Pemimpin Cabang PNM Pekanbaru, Benny Satria Basri mengatakan penyaluran kredit Ultra Mikro di wilayah kerjanya yang meliputi Riau dan Kepulauan Riau terbilang meningkat setiap tahun.
Pemimpin Cabang PNM Pekanbaru, Benny Satria Basri mengatakan penyaluran kredit Ultra Mikro di wilayah kerjanya yang meliputi Riau dan Kepulauan Riau terbilang meningkat setiap tahun. (IST)

BRI mencatat hingga September 2023, jumlah debitur holding ini sudah mencapai 36,6 juta atau tumbuh 22 persen dari posisi September 2021.

Artinya BRI, Pegadaian dan PNM masih akan menjaring 8,4 juta debitur ultra mikro baru hingga 2024.

Sementara Regional CEO Office BRI Regional Pekanbaru, Kicky Andre Davetra menegaskan pihaknya akan terus membantu pelaku usaha untuk naik kelas.

Jika sebelumnya kredit Ultra Mikro telah selesai dan bisnis berjalan baik, BRI memiliki produk KUR yang cicilannya juga ringan.

 “Alhamdulillah dari BRI Kanwil Pekanbaru untuk pemasaran kredit hingga Februari 2024 kami tumbuh 16 persen secara year on year,” kata Dia kepada awak media saat menghadiri  launching program SERAMBI 2024 di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Riau Pekanbaru, Senin (25/3/2024).

Pertumbuhan itu, lanjut Kicky merepresentasikan perekonomian di Riau sedang bertumbuh.

Sebab, dari angka penyaluran kredit bisa tumbuh double digit.

“Secara bisnis portofolio kami, di Riau khususnya itu 90 persen penyaluran kredit kita di sektor UMKM. Semua produk layanan kami bisa dinikmati di unit kerja BRI yang tersebar di 12 kabupaten dan kota di Riau,” tuntasnya.

(TRIBUNPEKANBARU.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved