Senin, 4 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Curhat Ahli Waris Rumah Batin Senapelan, Merasa Kurang Diperhatikan

Rumah Batin Senapelan juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Pekanbaru.

Tayang:
Penulis: Theo Rizky | Editor: Ariestia
Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky
Cagar Budaya Rumah Batin Senapelan di Jalan Meranti, Kecamatan Senapelan Pekanbaru 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pekanbaru baru saja melewati hari jadinya ke-240, berbagai rangkaian acara penyelenggaraannya pun telah dilakukan dengan suka cita.

Meski berlangsung dengan sukses, namun sayangnya kemeriahan rangkaian ulang tahun yang digelar Pemerintah Kota pekanbaru tersebut tidak sampai ke Rumah Batin Senapelan.

Rumah panggung yang berada di Jalan Meranti, Kecamatan Senapelan tersebut memang tidak sepopuler Rumah Singgah Tuan Kadi di Jalan Perdagangan yang memiliki sejarah erat dengan Kesultanan Siak.

Tapi Rumah Batin Senapelan juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Pekanbaru

Kedua rumah itu hanya berjarak sekitar 1 kilometer, berbeda dengan Rumah Singgah Tuan Kadi, Rumah Batin Senapelan jarang tersentuh oleh kegiatan-kegiatan yang digelar pemerintah kota maupun provinsi.

Hal ini disampaikan ahli waris Batin Senapelan, Eva Riani.

Disampaikannya, ia merasa perhatian pemerintah terhadap Rumah Batin Senapelan masih minim

"Kadang-kadang kami sedih juga, ketika Hari Jadi Kota pekanbaru tidak ada agenda dari Pemerintah Kota Pekanbaru di sini," katanya kepada Tribun Pekanbaru, Rabu (17/7/2024).

Baca juga: Berdiri Gagah di Tepian Sungai Siak, Rumah Batin Senapelan, Saksi Bisu Berdirinya Kota Pekanbaru

Untuk menarik perhatian Pemda, ia bersama warga sekitar setiap tahun juga menggelar peringatan Hari Jadi Pekanbaru secara mandiri, seperti doa bersama mengenang Batin Senapelan.

"Istilahnya kalau gak ada Batin Senapelan, Pekanbaru gak ada, bagaimanapun tetap ada kaitan sejarahnya," ujar wanita yang juga ketua RT setempat itu.

Diceritakan Eva, Rumah Batin Senapelan merupakan Rumah Batin pertama yang menjadi saksi berdirinya Kampung Bandar Senapelan dan menjadi cikal bakal berdirinya Kota Pekanbaru.

"Batin itu kepala suku, salah satu orang yang pertama kali menempati Senapelan dan membuka Senapelan ini," katanya.

Eva tidak mengetahui pasti kapan rumah itu dibangun, namun menurut cerita yang ia dapatkan, rumah itu sudah berdiri sejak abad ke 17, lebih tua dari Rumah Singgah Tuan Kadi.

Sedangkan Batin yang pertama bernama Bujang Sayang, berlanjut turun temurun hingga sampai ke buyut Eva bernama Yasin yang merupakan Batin Senapelan terakhir.

"Masa kebatinan terakhir di Yasin, ia memiliki anak bernama Nontel dan sudah masuk masa kepenghuluan, Nontel inilah kakek saya," ujar Eva.

Nontel pun merupakan ahli waris yang masih mendiami rumah tersebut hingga tahun 90 an

Pada tahun 2018 lalu, Rumah Batin Senapelan ditetapkan menjadi cagar budaya, namun setelah penetapan, rumah itu tidak mendapat sentuhan apa-apa sama sekali.

"Tidak dipelihara, dibiarkan runtuh, tidak di apa-apakan sama sekali, jadi saya merasa sedih lalu saya datangi lurah," ujarnya.

Akhirnya ia bersama pihak kelurahan dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) mendatangi pihak terkait untuk meminta kejelasan terhadap Cagar Budaya Rumah Batin Senapelan.

"Kalau tidak ada respon dari pemerintah untuk apa ditetapkan sebagai cagar budaya, cabut saja cagar budayanya karena itu beban bagi kami, karena di SK penetapan itu ada nama saya, jadi seolah-olah saya mendapatkan sesuatu dari situ sementara pemerintah tidak memberikan apa-apa untuk pemeliharaannya," ujarnya.

Keluhan Eva didengar, selanjutnya Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, termasuk Kota Pekanbaru dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat turun untuk mengkaji, akhirnya di tahun 2022 Pemerintah Provinsi Riau menggelontorkan anggaran hingga Rp 344 juta untuk pemugaran Cagar Budaya Rumah Batin Senapelan.

Saat selesai, Gubernur Riau saat itu, Syamsuar menyerahkan kunci Cagar Budaya Rumah Batin Senapelan kepada ahli waris.

Namun setelah pemugaran, menurut Eva, hingga kini tidak ada bantuan apapun dari pemerintah terhadap rumah itu

"Pemerintah cuma melakukan pemugaran saja, tapi untuk biaya-biaya lainnya tidak pernah ada," sebutnya lagi.

Eva berharap pemerintah bisa lebih melirik Rumah Batin Senapelan sebagai bagian penting dalam sejarah Kota pekanbaru.

"Harapan saya tidak banyak, bagaimanapun sejarah Rumah Batin Senapelan masih ada sangkut pautnya dengan Kota Pekanbaru, tapi kami tidak pernah diperhatikan selama ini, sepertinya sejarahnya dihilangkan, kayak batin itu tidak ada perannya di Kota Pekanbaru, setiap ada kegiatan seperti Hari Jadi Pekanbaru, Batin tidak pernah dianggap, kami sedihnya di situ," kata Eva mencurahkan isi hatinya.

 

( Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky )

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved