Kamis, 30 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Mengenal Minyak Makan Merah, Dipakai untuk Program Makan Bergizi Gratis?

minyak makan merah berpotensi digunakan sebagai pangan fungsional, yakni sebagai salah satu bahan pangan yang anti-stunting.

Tayang:
KOMPAS.com/ ELSA CATRIANA
Minyak makan merah untuk program makan bergizi gratis 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Diketahui minyak makan merah akan digunakan untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG) yang segera dimulai.

Minyak makan merah itu merupakan produk dari koperasi petani.

Demikian dijelaskan Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi.

Dilansir dari berbagai sumber, minyak makan merah lebih sedikit melalui proses pemurnian dibandingkan kelapa sawit yang diputihkan. 

Proses pemurnian pada minyak kelapa sawit merah mempertahankan lebih banyak nutrisi, menjadikannya alternatif yang lebih sehat dibandingkan minyak kelapa sawit biasa.

Minyak makan merah adalah minyak yang diperoleh dari rafinasi tanpa pemucatan (bleaching) dan deodorisasi, dan melalui fraksinasi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil atau CPO) yang digunakan sebagai minyak goreng, bahan baku pangan, ditambahkan pada pangan, dikonsumsi langsung sebagai tambahan asupan zat gizi, atau sebagai fortifikan minyak goreng sawit dan bahan baku nutrasetikal.

Pengertian ini berdasarkan Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2023 tentang Tata Kelola Minyak Makan Merah berbasis Koperasi.

Baca juga: Marshanda Ungkap Alasan Lepas Hijab saat Curhat ke Andre Taulany: Aku Hancur Dulu

Baca juga: Analisis Penyebab Kecelakaan Pesawat Jeju Air: Serangan Burung Membahayakan Penerbangan

Kandungan minyak makan merah

Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), sebagaimana dilansir situs resmi Kementerian Pertanian, minyak makan merah masih mempertahankan kandungan senyawa fitonutrien, yang meliputi karoten sebagai sumber vitamin A, tokoferol dan tokotrienol sebagai vitamin E, dan squalene.

Untuk itu, minyak makan merah berpotensi digunakan sebagai pangan fungsional, yakni sebagai salah satu bahan pangan yang anti-stunting.

Asam oleat dan asam linoleat yang terkandung dalam minyak makan merah berfungsi untuk pembentukan dan perkembangan otak, transportasi dan metabolisme pada anak.

Minyak makan merah juga dapat digunakan untuk menumis bahan pangan, salad dressing, bahan baku margarine dan shortening, dan sebagainya.

Ahli gizi dari Universitas Airlangga Lailatul Muniroh mengatakan, Minyak Makan Merah (M3) memiliki beberapa kandungan bioaktif (fitonutrien) yang lebih unggul daripada minyak konvensional.

“Data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) tahun 2022 menunjukkan bahwa M3 mengandung konsentrasi Karoten sebesar 753 ppm, Vitamin E sebesar 1016 ppm, dan Squalene sebesar 348 ppm, yang mana kandungan ini lebih tinggi dibandingkan dengan minyak lainnya,” jelas Lailatul, dilansir situs Unair, beberapa waktu lalu.

Lailatul menguraikan, karoten yang berfungsi sebagai pro vitamin A dan antioksidan, memiliki peran vital dalam meningkatkan sistem imun serta kesehatan mata dan kulit.

Selanjutnya, vitamin E sebagai antioksidan berkontribusi pada kesehatan jantung dan mendukung fungsi kekebalan tubuh.

Sementara itu, squalene dikenal dengan manfaat antioksidan dan antiinflamasi, berperan penting dalam kesehatan kulit dan imunitas tubuh.

Penting untuk perkembangan otak

Lailatul juga menekankan potensi M3 dalam mendukung perkembangan otak anak.

“Minyak makan merah diklaim memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk anak-anak karena mengandung asam oleat dan asam linoleat, yaitu kelompok asam lemak omega-9 dan omega-6 yang penting untuk perkembangan otak anak”katanya.

Asam oleat, kata Lailatul, berperan dalam pembentukan membran sel otak, sementara asam linoleat merupakan komponen utama dalam pembentukan membran tersebut dan juga prekursor asam arakidonat, yang terlibat dalam transmisi sinyal seluler di otak.

Kedua asam lemak ini menyediakan bahan bakar untuk pembentukan membran sel otak dan mendukung fungsi sel normal otak.

Risiko potensial 

Dilansir dari Web MD, karena minyak kelapa sawit merah memiliki banyak penggunaan, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsinya sebagai suplemen atau memasukkannya ke dalam diet.

Pertimbangkan hal-hal berikut sebelum menggunakannya dalam memasak:

Kolesterol yang lebih tinggi

Meskipun vitamin E dalam minyak kelapa sawit merah dapat meningkatkan kesehatan jantung, aspek lain dari minyak ini dapat menyebabkan masalah jantung.

Dibandingkan dengan minyak nabati cair lainnya, minyak kelapa sawit merah kurang efektif menurunkan kolesterol dan bahkan dapat meningkatkan kadar kolesterol "jahat" LDL.

Sebagai contoh, sebuah penelitian menemukan bahwa minyak kelapa sawit meningkatkan kolesterol pada individu sehat dibandingkan dengan minyak zaitun.

Peningkatan risiko penyakit

Kelemahan lain dari minyak kelapa sawit merah adalah tingginya kandungan lemak jenuh dibandingkan minyak lainnya.

Minyak zaitun, yang sering disebut-sebut mengandung lemak sehat, memiliki kurang dari setengah jumlah lemak jenuh dibandingkan minyak kelapa sawit merah.

Karena lemak jenuh telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, ini membuat minyak kelapa sawit merah kalah dibandingkan minyak nabati lainnya.

(TRIBUNPEKANBARU.COM)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved