Rabu, 8 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Sampah di Pekanbaru

Pekanbaru Harusnya Adopsi Pengolahan Sampah dari Daerah Lain

Persoalan sampah di Pekanbaru bukanlah hal baru. Setiap awal tahun, masalah ini terus berulang

Penulis: Alex | Editor: M Iqbal
istimewa
Muhammad Herwan 

Pemerhati Kebijakan Publik, Muhammad Herwan

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Persoalan sampah di Pekanbaru bukanlah hal baru. Setiap awal tahun, masalah ini terus berulang, seolah menjadi fenomena tahunan yang tak kunjung terselesaikan. Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan, tetapi persoalan sampah masih menjadi masalah utama kota bertuah ini. 

Dibutuhkan langkah serius dan berkelanjutan dari pemerintah kota serta partisipasi masyarakat untuk benar-benar menuntaskan permasalahan ini. Apalagi ini sudah menjadi persoalan yang rutin terjadi dari tahun ke tahun.

Beberapa daerah lain di Riau bahkan di luar Pekanbaru telah menunjukkan bahwa masalah sampah bukanlah hal yang mustahil untuk diatasi. Mereka memiliki berbagai solusi inovatif yang layak dicontoh. Misalnya, Kabupaten Klungkung di Bali yang menerapkan sistem pengolahan sampah berbasis komunitas melalui Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS). 


Sampah diolah langsung mulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga, industri, hingga komunitas lainnya. Model ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang efektif dapat dilakukan dengan komitmen yang kuat dan sistem yang terintegrasi.


Penanganan dan Pengolahan Sampah yang dilakukan di Klungkung Bali, justru tidak menghabiskan dana menggunakan dana APBD tidak juga memerlukan investor, bahkan sebaliknya memberikan peluang dan sumber pendapatan bagi masyarakat serta menjadi penambah PAD.


Di Pekanbaru, masalah sampah sering kali terkesan seperti proyek besar tanpa penyelesaian konkret. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa fokus utama bukan pada pengelolaan sampah itu sendiri, tetapi lebih kepada proyek yang melibatkan anggaran besar. Jika pemerintah kota serius, mereka seharusnya dapat mempelajari dan mengadopsi sistem pengelolaan sampah yang berhasil di daerah lain.


Peran masyarakat juga tidak kalah penting. Budaya membuang sampah sembarangan masih menjadi kendala utama. Masyarakat harus diajak untuk lebih peduli dan terlibat aktif dalam pengelolaan sampah. Edukasi mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik perlu ditingkatkan, sehingga pengolahan di tingkat rumah tangga dapat berjalan lebih efektif.


Program penghargaan seperti Adipura seharusnya dijadikan motivasi untuk memperbaiki tata kelola lingkungan, bukan sekadar proyek prestise. Fokus utamanya harus pada menciptakan kota yang bersih dan nyaman bagi warganya, bukan hanya untuk memenuhi indikator penilaian semata.


Secara teknis, ada banyak cara untuk mengelola sampah dengan lebih efektif. Beberapa waktu lalu, pengelolaan sampah sempat diserahkan kepada pengurus RT dan RW. Model ini dinilai cukup efektif karena pengawasan dan pengelolaan berada langsung di lingkungan masyarakat. Namun, program seperti ini memerlukan pendampingan dan dukungan yang konsisten agar dapat berjalan dengan optimal.


Selain itu, pemerintah kota perlu menggandeng berbagai pihak, termasuk BUMN dan organisasi sosial, untuk terlibat dalam pengelolaan sampah. Kemitraan ini dapat membantu dalam pendanaan, pelatihan, hingga penyediaan teknologi pengolahan sampah. Dengan kolaborasi yang solid, pengelolaan sampah dapat menjadi lebih terarah dan berkelanjutan.


Pengolahan sampah di sumbernya juga harus menjadi prioritas. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik dan logam dapat didaur ulang atau dijual ke industri daur ulang. Dengan memilah sampah sejak awal, beban tempat pembuangan akhir (TPA) akan berkurang, dan dampak lingkungan dapat diminimalkan.


Kunci utama dari solusi masalah sampah adalah keseriusan pemerintah kota untuk fokus pada penyelesaian masalah, bukan sekadar pencitraan. Pemerintah harus memiliki visi yang jelas, rencana kerja yang terukur, dan komitmen yang tulus untuk mengatasi permasalahan ini. Dengan begitu, masyarakat juga akan lebih termotivasi untuk berperan aktif.


Budaya masyarakat juga harus diubah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan harus dihilangkan, dan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan harus terus ditanamkan. Jika semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, bersatu untuk mengatasi masalah ini, bukan tidak mungkin Pekanbaru akan menjadi kota yang bersih, nyaman, dan layak huni.

(Tribunpekanbaru.com/Alexander)
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved