Warga Keluhkan Sampah Menumpuk, DLH Pelalawan Sebut Banjir Ganggu Pengakutan Sampah ke TPA Kemang

Warga Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan mengeluhkan sampah yang menumpuk lantaran belum diangkut dalam dua pekan terakhir oleh petugas

Penulis: johanes | Editor: Ariestia
Tribunpekanbaru.com/Johannes Tanjung
Tumpukan sampah di Simpang Jalan Sakura - Jalan Lintas Timur Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau Minggu (26/1/2025). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan sebut pengakutan sampah terkendala akibat armada rusak dan banjir. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Warga Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan mengeluhkan sampah yang menumpuk lantaran belum diangkut dalam dua pekan terakhir oleh petugas hingga Minggu (26/1/2025).

Sampah milik warga di pemukiman dan areal perumahan belum terangkut oleh petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan. Seperti di Jalan Seminai, Jalan Akasia, dan lingkungan perumahan lainnya. Sehingga tumpukan sampai di sekitar perumahan mengeluarkan aroma busuk dan telah berulat. 

"Biasanya mobil sampah datang minimal sekali seminggu. Sekarang sudah dua Minggu belum ada diangkut," kata Andi warga Jalan Seminai, Pangkalan Kerinci kepada tribunpekanbaru.com, Minggu (26/1/2025). 

Keluhan terkait lambannya pengangkutan sampah di wilayah Kota Pangkalan Kerinci telah disampaikan masyarakat. Baik melalui pemerintah setempat hingga ke Media Sosial (Medsos). Namun petugas persampahan dari DLH Pelalawan belum bisa mengangkut seluruh sampah rumah tangga yang telah lama menumpuk.

"Kasihan anak-anak, bau sampah sudah menyengat. Semoga sampah secepatnya diangkut," ungkap warga lainnya. 

Kepala DLH Pelalawan, Eko Novitra saat dikonfirmasi terkait kendala pengangkutan sampah di Pangkalan Kerinci mengaku ada keterlambatan. Petugas harus bekerja ekstra dalam membawa sampah di jalan besar hingga ke komplek perumahan. Namun ada beberapa kendala yang dihadapi oleh pihaknya dalam memaksimalkan pengangkutan sampah. 

"Armada kita memang saat ini kurang. Setengah dari yang ada sekarang mengalami kerusakan," tutur Eko Novitra.

Ia menerangkan, sebanyak 20 unit mobil pengakutan sampah yang beroperasi selama ini. Mengutip sampah di sekitar Jalan Lintas Timur (Jalintim), Jalan Akasia, hingga jalan protokol lainnya. Termasuk areal perumahan serta pemukiman warga juga diangkut sesuai dengan jadwal dan pembagian wilayah operasional. 

Namun dalam dua bulan terakhir, 10 mobil sampah mengalami kerusakan mulai dari ringan hingga berat. Saat ini sedang dilakukan perbaikan di workshop, mengingat usia armada itu telah 10 tahun lebih. Alhasil pihaknya mengoptimalkan 10 mobil lagi untuk mengangkut sampah di Pangkalan Kerinci. 

"Jadi 10 mobil yang tersisa ini bekerja dua shift. Setelah sampah pada pagi dibawa ke TPA Kemang, sorenya petugas lain kerja lagi. Jadi sehari bisa dua kali," beber Eko Novitra. 

Kendala kembali dihadapi ketika banjir melanda Jalan Lintas Timur (Jalintim) Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras dalam sepekan terakhir. Pasalnya, semua sampah dari Pangkalan Kerinci diantara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Kemang. Mobil pengangkut sampah harus melewati areal banjir. 

Armada persampahan harus mengantri di areal banjir yang diberlakukan arus lalu lintas dengan sistem buka tutup. Alhasil mobil sampah yang bisa bekerja 2 kali dalam sehari, terpaksa hanya satu kali saja, akibat banjir di Jalintim Kilometer 83 Desa Kemang. 

"Pas berangkat mobil antri minimal 4 jam menuju TPA. Balik ke Pangkalan Kerinci antri lagi. Makanya kurang maksimal jadinya," tukas Eko Novitra.

Ia menyebutkan, pihaknya saat ini mengutamakan pengakutan sampah di Jalintim Kota Pangkalan Kerinci, termasuk di jalan protokol lainnya. Sedangkan di wilayah perumahan hingga pemukiman warga akan diupayakan apabila ada armada yang bisa dioperasikan di luar areal prioritas tersebut. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved