Rabu, 15 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Diskannak Siak Tanam Bahan Baku Pakan Hewan Ternak

Pemkab Siak mendorong peningkatan populasi hewan ternak 2025 dengan membantu peternak menanam tanaman pakan sebagai bahan baku.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: M Iqbal
Tribunpekanbaru.com/Mayonal
TANAMAN UNTUK PAKAN - Kepala Diskannak Siak Kaharuddin, TNI dan Polri beserta peternak di Kampung Berumbung Baru, Dayun berfoto bersama saat penanaman tanaman pakan hewan ternak di lahan pinggir jalan, Januari 2025. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Pemkab Siak mendorong peningkatan populasi hewan ternak 2025. Salah satu upaya untuk membantu para pertenak adalah dengan menanam tanaman pakan sebagai sumber bahan baku pakan ternak. 


Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak) Siak Kaharuddin mengatakan, pihaknya telah melaksanakan gerakan tanam serentak hijauan pakan ternak. Program itu juga untuk untuk mendukung terbentuknya kampung jantan mandiri tanaman pakan


“Alhamdulillan kita telah melakukan gerakan ini di Kampung Berumbung Baru, Kecamatan Dayun sejak Januari 2025,” ujarnya, Rabu (12/2/2025). 


Bibit Hijauan Pakan Ternak yang ditanam ada 3 jenis, yaitu gamma umami 1.500 stek, biograss 3.500 stek dan indigofera 350 batang (polybag). Lokasi penanaman berada di pinggir jalan arah ke lapangan blok 9 A kampung Berumbung Baru, Dayun.


 "Penanaman tanam pakan ini tidak membutuhkan lahan yang luas,” katanya.


Di kampung Berumbung Baru ini, pihaknya menamam di space pinggir jalan. Pihaknya sekaligus mengedukasi para peternak, bahwa menanam tanaman pakan bisa di lokasi yang tidak luas, seperti memanfaatkan pinggiran jalan, lahan tidur atau di sela kebun sawit.


 “Upaya ini sekaligus untuk menstimulus peternak agar menciptakan bank pakan secara mandiri, sehingga para peternak tidak kesulitan mencari bahan pakan saat dan setelah proses replanting sawit dilaksanakan,” katanya. 


Kaharuddin menjelaskan, selama ini pola peternak itu ekstensif. Sapi  dilepas di kebun sawit untuk mencari makan sendiri. 


“Kalau sawit memasuki masa replanting, sapi tidak boleh dilepas, jadi sudah pasti mereka harus mengubah pola, dan banyak peternak yang tidak siap dengan hal ini," ujarnya.


Pada masa replanting hingga masa tanam dan perawatan sawit, setidaknya peternak tidak boleh melepas ternaknya selama 3 - 4 tahun. Hal ini dilakukan para pemilik kebun agar saat bibit yang ditanam tidak dimakan oleh hewan ternak.


 "Ya sampai pohon sawit cukup tinggi dan pelepahnya tidak terjangkau oleh sapi," katanya.  


Menurut Kaharuddin, jika tidak dilakukan penanaman, maka ada banyak peternak yang menjual ternaknya dalam jumlah besar. Akibatnya, populasi ternak akan menurun drastis dan para peternak juga akan merugi karena sapi dijual di bawah harga pasar. 


Berdasarkan informasi yang dihimpun, Akibat replanting peternak terpaksa harus menjual ternaknya lebih murah.  Bahkan dengan kisaran harga Rp 2-3 juta. 


“Dan ini tentu saja di bawah harga pasar. Coba kita hitung, saat ini ada sekitar 700 ekor sapi yang akan dijual, kalau perekor dikurangi Rp 2 juta saja, sudah Rp 1.4 milyar kerugian peternak di Berumbung Baru, ini yang mau kita cegah, sehingga peternak tidak menjual sapi - sapinya,” katanya.


Program penanaman tanam pakan ini menjadi salah satu solusi agar selama masa replanting peternak masih mempunyai cadangan pakan. Tujuannya polulasi hewan ternak di kabupaten Siak dapat dipertahankan bahkan bertambah. 


“Program ini juga kita upayakan di kampung lain, sehingga nanti peternak di kabupaten Siak mempunyai cadangan pakan ternak yang cukup,” katanya.

(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved