Meraih Untung dengan Bunga Ziarah
Para peziarah berdatangan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Suak Santai, Kelurahan Kampungdalam, Kecamatan Siak, Jumat (28/2/2025).
Penulis: Mayonal Putra | Editor: M Iqbal
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Para peziarah berdatangan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Suak Santai, Kelurahan Kampungdalam, Kecamatan Siak, Jumat (28/2/2025). Ini ziarah hari terakhir menjelang masuknya bulan suci Ramadan 1446 H.
Sepeda motor dan mobil berjejer di badan jalan depan TPU. Setiap makam sudah ramai diziarahi. Suasana begini sudah terjadi sejak seminggu belakangan. Sebagaimana kebiasaan, menziarahi makam orang tua dan nenek moyang setiap menjelang masuknya bulan puasa.
Menziarahi kubur bukan sekadar tradisi. Melainkan amalan yang dianjurkan dalam agama Islam. Ziarah juga bukan sekadar menghormati dan mendoakan keluarga atau leluhur yang sudah meninggal, namun juga mengingatkan diri sendiri akan kematian dan kehidupan akhirat.
Ritual yang dilakukan peziarah dimulai dengan membersihkan kubur, menaburkan bunga, serta mendokan almarhum atau almarhumah yang sudah wafat. Biasanya peziarah membawa sejumput perlengkapan, seperti air suci, bunga dan lain sebagainya.
Momentum itu dimanfaatkan para pedagang bunga. Peziarah tidak perlu lagi membawa bunga dari rumah. Cukup dengan membelinya di pinggir TPU.
Ani (40) warga Siak, selalu memanfaatkan momentum ini setiap tahun. Ia meraup untung dari penjualan bunga dan air suci untuk peziarah.
“Paling tidak dua kali setahun, jelang Ramadan dan Idul Fitri,” ujarnya saat ditemui di depan TPU Suak Santai, Jumat (28/2/2025).
Pada momentum jelang Ramadan 1446 H ini, Ani telah mempersiapkan barang daganganya sejak dua minggu sebelumnya. Seminggu jelang Ramadan, Ani membawa seluruh barang dagangannya itu ke depan TPU. Dekat dengan pintu masuk.
“Alhamdulillah, lumayan untuk membantu keuangan keluarga,” ujarnya.
Ani telah meracik berbagai bunga dari rumah. Racikan ini dimix dengan irisan daun pandan. Aroma bunga ziarah yang dijual Ani ini begitu terasa. Bila aroma ini tercium saat lewat di jalan Sultan Ismail, depan TPU itu, tandanya banyak peziarah datang membeli bunga milik Ani.
Bunga yang dionggok di atas meja itu tampak indah. Warna bervariasi, aroma harum dan khas menyeruak dan memberi kesan saat ditabur di atas pusara.
Bunga dan air suci yang dijual Ani tidaklah mahal. Hanya Rp 5.000 untuk satu kantong plastik dan air suci juga Rp 5.000 perbotol.
“Sehari lumayan banyak terjual, dapat sampai Rp 200 ribu,” ujarnya.
Seorang peziarah yang datang dari Pekanbaru, Abdul (34) berterimakasih kepada Ani. Sebab, dengan bunga ziarah yang tersedia di pemakaman membuat Abdul tidak perlu membawa bunga dari Pekanbaru.
“Karena pusara kakek dan nenek kami di sini, maka kami sekeluarga, terlebih ibu saya, selalu datang setiap tahun. Untung ada Kak Ani jual bunga di sini,” katanya.
Abdul menyebut menabur bunga di pusara bukanlah wajib dalam Islam. Namun sebagai tanda kalau makam sudah diziarahi.
“Sekalian memperindah makam, dan wangi bunga,” katanya.
Menurutnya, harga bunga yang dijajakan para pedagang tergolong cukup murah. Hanya dengan modal Rp 10 ribu saja sudah mendapat 1 plastik bunga dan sebotol air suci.
“Sebaiknya kita beli di depan TPU daripada kita cari dulu, tentu juga membantu para pedagangnya,” katanya.
(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)
| 20 Koperasi Merah Putih di Siak Rampung Dibangun, Akhir Bulan Ditargetkan Jadi 35 Unit |
|
|---|
| Siswi SMP di Siak Diduga Dibentak Penyidik hingga Menangis, Alami Tekanan Saat Pemeriksaan |
|
|---|
| Harga Tempe dan Tahu di Pasar Siak Masih Stabil, Sejumlah Bahan Pokok Lain Ikut Bertahan |
|
|---|
| Kebutuhan Hewan Kurban di Siak Diproyeksi Naik hingga 3.970 Ekor, DKPPP Perketat Antisipasi PMK |
|
|---|
| Klaim Kemiskinan di Siak Turun, Wabup Syamsurizal: Menjadi 4,40 persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/pedagang-bunga-ziarah-di-TPU-Suak-Santai-Siak.jpg)