Minta Bilik Asmara, Satu di Antara Pemicu Puluhan Napi Lapas Kutacane Aceh Kabur
Puluhan warga binaan pemasyarakatan (WBP), kabur dari Lapas Kutacane, Aceh, Senin (10/3/2025) petang.
TRIBUNPEKANBARU.COM - Puluhan warga binaan pemasyarakatan (WBP), kabur dari Lapas Kutacane, Aceh, Senin (10/3/2025) petang.
Tercartat 49 orang yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Kutacane, Aceh Tenggara itu.
Dari jumlah tersebut 14 sudah tertangkap, sedangkan 35 orang lainnya masih diburu.
Informasi tersebut diperoleh Serambinews.com dari Kepala Kantor Wilayah Pemasyarakatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas), Provinsi Aceh, Yan Rusmanto, pada Selasa (11/3/2024) pagi.
Salah seorang warga Aceh Tenggara, Eko Saputra, menuturkan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 18.20 WIB.
"Mereka kabur secara beramai-ramai, kabarnya lewat atap lapas," kata Eko, dikutip dari Serambinews.com.
Sedangkan berdasarkan video yang beredar luas di media sosial, para napi terlihat berlarian secara bergerombolan.
Mereka melompati pintu pagar depan lapas yang lepas untuk melarikan diri.
Situasi di depan lapas pun sempat kacau, dengan lalu lintas yang macet.
Mereka lari berhamburan hingga beberapa di antaranya terlihat mengadang pengguna jalan yang lewat di depan Lapas.
Pedagang takjil di depan Lapas tersebut juga kaget, bahkan berteriak ketika melihat begitu banyak penghuni Lapas yang kabur.
Semua yang kabur hampir tidak ada yang mengenakan sandal, apalagi sepatu.
Beberapa di antaranya malah terlihat lari tanpa baju, hanya mengenakan celana pendek saja.
Bobol Plafon, Dobrak Pintu, Lalu Kabur
Kejadian ini menambah daftar panjang kasus serupa yang kerap terjadi di Indonesia, di mana faktor kepadatan lapas yang melebihi kapasitas dan kelalaian aparat kerap menjadi pemicu utama.
Namun Kepala Lapas Kutacane, Andi Hasyim, mengatakan bahwa tidak ada unsur kelalaian petugas (para sipir) dalam kejadian itu.
Saat kejadian, tiga pintu pengamanan Lapas (pintu 1,2 dan pintu utama) dalam keadaan terkunci.
Sipir yang bertugas saat itu hanya enam orang.
Diakuinya, angka itu tak berimbang dengan rasio penghuni Lapas yang mencapai 368 orang.
Artinya, ada kerawanan jika terjadi mobilisasi penghuni sebanyak itu ke satu titik tertentu.
Menurut Andi, puluhan penghuni Lapas mendobrak pintu 1, 2, dan pintu utama, lalu kabur dengan melompati pagar besi halaman depan Lapas tersebut yang tidak begitu tinggi.
Versi lain menyebutkan, ada keributan saat penghuni Lapas antrean mengambil bekal berbuka puasa.
Kemudian para warga binaan menyerang petugas.
Ada yang nekat memanjat plafon dan membobol atap Lapas dan mereka pun berhasil kabur.
Andi Hasyim menambahkan bahwa salah seorang yang lari itu akhirnya mendatangi rumah salah seorang sipir untuk menyerahkan diri.
“Itu karena dia semula tidak ada rencana untuk lari. Hanya ikut-ikutan, terdorong oleh kawan-kawannya yang sedang kabur,” kata Andi Hasyim.
Andi mengimbau agar seluruh napi yang kabur itu segera kembali.
Percuma saja lari, karena semua data pribadi (identitas) mereka, bahkan fotonya, sudah dimiliki pihak Lapas dan segera disebar untuk diketahui publik.
Melalui koordinasi dan kerja sama dengan pihak Polres setempat juga dengan polres tetangga Kabupaten Aceh Tenggara, para pelarian itu ia yakin akan tertangkap kembali.
Minta Bilik Asmara
Andi Hasyim juga menyebut salah satu faktor pemicu larinya para warga binaan tersebut.
“Salah satu tuntutan mereka adalah supaya di dalam Lapas ini disediakan bilik asmara,” kata Andi Hasyim.
Bilik asmara adalah istilah internal Lapas, yakni ruangan khusus yang digunakan oleh napi untuk berhubungan biologis dengan pasanagannya yang sah saat datang berkunjung.
Bilik asmara juga disebut bilik cinta atau bilik mesra.
Sangat terbatas Lapas yang memiliki ruang khusus ini di Indonesia.
Namun, menurut Andi, pengadaan bilik asmara di dalam Lapas bukan kewenangannya.
Dia hanya bisa menyampaikan aspirasi itu kepada atasan langsungnya di provinsi, yakni Kakanwil Ditjenpas Provinsi Aceh.
Meski demikian, untuk kasus di Lapas Kutacane ini, penyebab pasti masih dalam penyelidikan.
Napi Narkoba Paling Banyak Kabur
Sementara itu, Kakanwil Ditjenpas, Provinsi Aceh, Yan Rusmanto mendapat laporan dari Kepala Lapas Kutacane, Andi Hasyim bahwa Lapas kelas II B tersebut dihuni 368 orang.
Sebanyak 319 orang di antaranya berstatus narapidana (napi).
Selebihnya merupakan tahanan titipan kejaksaan atau pengadilan negeri setempat.
“Yang lari itu sebagian besar napi Narkoba. Sedangkan napi dan tahanan kasus yang lainnya masih didata,” kata Yan Rusmanto.
(*)
| Istri Napi Ungkap Praktik Bilik Asmara Lapas Pamekasan: Bayar Rp 400 Ribu per Jam, Malu Saat Keluar |
|
|---|
| Tidak Ada Bilik Asmara Jadi Salah Satu Pemicu Puluhan Napi Lapas di Aceh Tenggara Melarikan Diri |
|
|---|
| Ditahan di Mapolres, Narapidana yang Kabur Akan Ditempatkan di Sel Khusus di Lapas Bengkalis |
|
|---|
| Antisipasi Narapidana Kabur Keluar Bengkalis, Tim Gabungan Perketat Penjagaan di Pintu Penyeberangan |
|
|---|
| Kronologi Penangkapan Narapidana yang Kabur dari Lapas Bengkalis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Jelang-Buka-Puasa-Puluhan-Napi-Kabur-dari-Lapas-Kutacane.jpg)