Baraan, Tradisi Turun Temurun Warga Dusun 1 Pasar Tanjung Samak Sambut Idul Fitri
tradisi “Baraan” di Dusun 1 Pasar Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.
Penulis: Teddy Tarigan | Editor: M Iqbal
TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI - Perayaan Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang paling spesial bagi seluruh umat muslim di dunia.
Sambil bermaaf-maafan bersama keluarga, berbagai cara dan tradisi juga kerap dilakukan oleh masyarakat.
Namun ada yang spesial dan mungkin tradisi yang jarang ditemui di tempat lain yaitu tradisi “Baraan” di Dusun 1 Pasar Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.
Tradisi ini dilakukan masyarakat setempat setiap tahunnya selepas Salat Idulfitri, di mana masyarakat melakukan silaturahmi massal dari rumah ke rumah.
Pada hari pertama lebaran sejak pagi hari, para pria di dusun ini berkelompok dalam beberapa rombongan, biasanya mencapai tujuh kelompok.
Mereka berkeliling ke setiap rumah warga untuk bersalaman, bermaafan, dan mendoakan keselamatan bagi tuan rumah beserta keluarganya.
Nuansa kebersamaan begitu terasa saat para peserta baraan bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya.
Di setiap persinggahan, mereka disambut dengan hidangan khas Lebaran, mulai dari ketupat yang berpadu dengan kuah rendang, hingga berbagai kudapan tradisional yang menggugah selera.
Senyum dan tawa menghiasi setiap pertemuan, menjadikan momen ini lebih dari sekadar kebiasaan tapi juga wujud nyata dari persaudaraan yang erat di antara warga.
Bukan sekedar tradisi, Baraan adalah cerminan budaya gotong royong dan kebersamaan yang terus dijaga turun-temurun.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Dusun 1 Pasar Tanjung Samak tetap mempertahankan warisan ini sebagai bagian dari identitas mereka.
Ini sebuah perayaan kemenangan yang tak hanya bermakna secara spiritual, tetapi juga mempererat ikatan sosial dalam bermasyarakat.
Robert, seorang warga setempat yang sejak 3 tahun lalu kuliah beasiswa S3 Charles University, Praha, Republik Ceko juga tidak mau ketinggalan momen tersebut.
Walaupun lama tinggal di luar negeri, momen Baraan tetap menjadi momen melekat yang membuatnya selalu pulang ke kampung halaman.
“Tradisi ini mungkin tidak ada di daerah-daerah lain di Indonesia yaitu Baraan. Kami mengunjungi setiap rumah yang ada di dusun 1 pasar ini. Bayangkan setiap rumah yang mungkin dari 100 rumah,” ungkapnya.
Ia mengatakan tidak ada letih dirinya maupun teman-temannya yang lain saat melakukan tradisi ini, walaupun harus mengunjungi banyak rumah.
“Ini untuk menjaga silaturahmi kami, walaupun banyak kami yang sudah merantau dengan jerih payah susah payah kami semua kumpul di sini tidak bisa tergambarkan dan tidak ternilai pengalamannya.” Pungkasnya.
(tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)
| DPRD Meranti Hearing Program Beasiswa ADIK, Hanya Berlaku untuk Desa dan Kecamatan Tertentu |
|
|---|
| Festival Telaga Air Merah VI Resmi Dibuka, Pemkab Meranti Dorong Wisata Berbasis Kearifan Lokal |
|
|---|
| Festival Telaga Air Merah Dorong Promosi Digital Desa Wisata di Meranti |
|
|---|
| DKPP Kepulauan Meranti Pastikan Ratusan Hewan Kurban Layak dan Bebas PMK |
|
|---|
| Pemkab Meranti Pastikan Pasokan MinyaKita Kembali Tersedia, Penjualan Diawasi Sesuai HET |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/baraan-lebaran-idul-fitri-tanjung-samak-kepulauan-meranti.jpg)