Kamis, 7 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Ramot Anto Bantu Warga Bertransaksi Lebih Mudah Lewat Brilink

Aktivitas Anto tak hanya berhenti di balik rak-rak toko. Di depan tokonya terpasang papan nama bertuliskan "BRILink". 

Tayang:
Penulis: Syaiful Misgio | Editor: M Iqbal
Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono
BRILINK - Untuk tahun 2025, BRI menargetkan nilai transaksi melalui BRILink berada di kisaran Rp 12-15 triliun. Namun, angka tersebut masih dalam tahap evaluasi dan akan disesuaikan dengan perkembangan di lapangan sepanjang tahun berjalan. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Di sudut Jalan Cipta Karya, Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru di lingkungan permukiman yang ramai penduduk, terdapat sebuah toko kelontong sederhana yang setiap hari tak pernah sepi dari kunjungan warga. 


Di balik etalase berisi sembako, sabun cuci, hingga jajanan anak-anak, Ramot Anto Hutauruk dengan ramah menyambut kedatangannya saya di toko nya. 


Tak banyak yang menyangka, Anto, sapaan akrabnya, bukanlah lulusan ekonomi atau bisnis. Pria 43 tahun ini merupakan alumni Fakultas Perikanan Universitas Riau, yang sejak 2021 memilih jalur berbeda, membuka usaha toko kelontong dari rumahnya sendiri.


“Awalnya hanya niat membantu perekonomian keluarga. Tapi lama-lama jadi rutinitas yang menyenangkan," ujar Anto sambil melayani konsumennya, Selasa (29/4/2025).


Namun, aktivitas Anto tak hanya berhenti di balik rak-rak toko. Di depan tokonya terpasang papan nama bertuliskan "BRILink". 


Ya, selain menjual kebutuhan harian, Anto juga menjadi agen BRILink—sebuah layanan perbankan yang memungkinkan warga melakukan berbagai transaksi tanpa harus ke bank.


Keputusan membuka layanan BRILink bukanlah tanpa alasan. Saat itu, kantor BRI di wilayah tersebut akan segera ditutup. Jarak ke kantor bank terdekat cukup jauh, dan hanya buka di jam kerja. 


Anto melihat celah dan kebutuhan. Ia mengajukan permohonan, dan tanpa kendala, disetujui.


Sejak saat itu, toko kelontong miliknya tidak hanya menjadi tempat belanja, tapi juga tempat warga mencairkan dana bantuan, mentransfer uang, hingga membayar tagihan. 


“Biasanya yang paling sering itu tarik tunai dan transfer,” katanya.


Menurut Anto, sekitar 40 persen pendapatan keluarganya kini bersumber dari layanan BRILink, sementara sisanya dari usaha kelontong. Uniknya, keberadaan BRILink justru mendorong penjualan di toko. Banyak warga yang sekalian belanja setelah mengambil uang. 


“Apa yang dibutuhkan masyarakat, sebisa mungkin kami sediakan. Supaya mereka nggak perlu jauh-jauh,” kata Anto, dengan pandangan penuh semangat.


Warga pun menyambut baik kehadiran Anto dan usahanya. Salah satunya Imanudin, warga sekitar yang rutin menggunakan jasa BRILink milik Anto. 


“Warga senang, transaksinya terjangkau dan cepat. Biaya administrasinya juga tidak mahal,” ujarnya.


Sementara Pimpinan BRI Cabang Lancang Kuning, Filipus Evan Adinda, menyebut, layanan keuangan digital BRI melalui Agen BRILink kini semakin dekat dengan masyarakat. Tak hanya hadir di tingkat kecamatan, keberadaan BRILink bahkan telah menjangkau hingga ke RT RW. 


Jumlah agen BRILink terus bertambah dan sangat membantu aktivitas transaksi warga, terutama yang jauh dari kantor BRI.


“BRILink sekarang semakin mendekat ke warga, jumlahnya juga terus bertambah. Di bawah Lancang Kuning kami punya 800 agen BRILink yang aktif,” ujar Filipus.


Ia menambahkan, layanan BRILink sangat membantu warga dalam berbagai transaksi keuangan seperti tarik tunai, setor tunai, transfer, hingga pembayaran tagihan.


“Masyarakat yang mau menabung tapi jauh dari lokasi unit BRI, bisa datang ke agen BRILink kita. Itu live 24 jam dan selalu hadir membantu,” jelasnya.


Kehadiran BRILink terbukti mendukung inklusi keuangan dengan memberikan kemudahan akses bagi masyarakat di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau layanan perbankan konvensional.


Berdasarkan data yang dirilis BRI Regional Pekanbaru mencatat sepanjang tahun 2024, transaksi melalui agen BRILink tercatat meningkat sekitar 3-4 persen, mencapai total 48,1 juta transaksi dengan nilai mencapai Rp 14,55 triliun. 


Layanan Laku Pandai ini semakin menjadi kebutuhan utama di wilayah-wilayah kepulauan dan perkebunan yang memiliki akses terbatas ke layanan perbankan konvensional.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved