Nyawa Kedua di Ujung Selat
Setiap hari, Fauzi turun dari rumah ke rumah. Menyapa warga. Memberikan pemahaman. Menjelaskan manfaat BPJS.
Penulis: Syaiful Misgio | Editor: M Iqbal
Dia tak pernah ragu menembus malam, jalan berlumpur dan hantaman ombak. Baginya, ini sebuah dedikasi tanpa pamrih. Kini, ia dianggap pelita dan nyawa kedua bagi mereka yang terbentur dengan akses layanan kesehatan.
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Jarum jam baru saja melewati angka 20.30 WIB pada Kamis malam, 24 Juli 2025. Di sudut Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Indragiri Hilir (Inhil), Riau, rumah Fauzi tampak tenang.
Tenaga medis yang sehari-hari melayani warga desa itu tengah menikmati waktu hangat bersama keluarganya.
Namun, ketenangan malam itu tak bertahan lama. Suara ketukan pintu memecah suasana.
Di balik pintu, salah seorang warga desa, bernama Sultan berdiri dengan wajah cemas dan suara terbata-bata.
Ia memohon bantuan Fauzi untuk memeriksa kondisi kesehatan anggota keluarganya yang mendadak drop.
Tanpa banyak tanya, Fauzi langsung bergegas menyiapkan perlengkapan medisnya, menyalakan sepeda motor, lalu melaju di tengah keheningan malam menuju ke rumah Fatimah, seorang nenek berusia 64 tahun yang terbaring lemas di rumahnya, di Dusun 1, Desa Kuala Selat.
Perjalanan malam itu tak mudah, udara dingin, gelap, dan jalan kampung yang sempit. Setibanya di lokasi, Fauzi langsung memeriksa kondisi Fatimah. Fauzi mendapati tanda-tanda gastritis kronis.
"Ada peradangan di lapisan dalam lambung, sudah lama sakitnya, kondisinya sudah kronis," ujar Fauzi.
Melihat kondisi Fatimah yang lemah, ia langsung menyarankan kepada pihak keluarga agar segara membawa Fatimah ke rumah sakit.
“Saya tanya ke keluarganya, ada BPJS nggak, katanya ada. Malam itu juga saya sarankan supaya langsung dibawa ke rumah sakit,” kata Fauzi menceritakan kejadian malam itu.
Fauzi adalah tenaga medis di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Kuala Selat. Sebuah desa terpencil di pesisir Riau yang hanya bisa ditempuh lewat jalur laut.
Butuh waktu lebih kurang lima jam lebih dari Kota Tembilahan, ibu kota Kabupaten Inhil, sekitar 12 jam dari Kota Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau.
Sarjana Keperawatan ini menganggap profesi tenaga kesehatan bukan sekadar pekerjaan dengan jam kantor, tapi panggilan jiwa yang siap dijalankan kapan saja.
Kapan pun warga membutuhkan, Fauzi harus selalu siap. Termasuk tengah malam, saat orang lain sedang tertidur lelap.
Ponselnya hampir tak pernah dimatikan. Karena kapan saja bisa ada warga yang menelepon minta bantuan pengobatan atau meminta untuk dibawa ke layanan kesehatan.
Di tempat yang jauh dari rumah sakit dan minim tenaga kesehatan, kehadiran sosok ayah satu anak ini ibarat nyawa kedua bagi warga di sana.
Tantangan
Di Desa Kuala Selat ini hidup sekitar 3.000 jiwa. Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari laut sebagai nelayan dan petani kelapa. Infrastruktur di desa ini jauh dari kata layak. Jalan masih tanah dan berlumpur saat hujan, gedung Puskesmas reot dan minim fasilitas.
Listrik hanya menyala saat malam hari saja. Siang hari listrik padam, sinyal telepon juga hilang. Warga pun tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar.
Di tengah keterbatasan itu, Fauzi menjadi tumpuan dan harapan. Dia bukan hanya sebagai perawat, tapi berperan sebagai penggerak, pendengar, penolong sekaligus penyuluh kesehatan.
Apalagi warga di desa ini masih banyak yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Riau tahun 2024 terkait kepemilikan jaminan kesehatan di Kabupaten Inhil terungkap bahwa cakupan perlindungan kesehatan penduduk Inhil memang tergolong rendah jika dibandingkan dengan 12 kabupaten kota lainnya di Riau.
Hanya 40,24 persen penduduk Inhil yang terdaftar sebagai peserta BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran). Sementara itu, yang masuk dalam kategori BPJS Non-PBI hanya 12,27 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lebih dari 47 persen penduduk Inhil belum tercatat memiliki jaminan kesehatan apapun. Angka tersebut menjadi salah satu yang terendah di antara kabupaten/kota lain di Riau.
Setiap hari, Fauzi turun dari rumah ke rumah. Menyapa warga. Memberikan pemahaman. Menjelaskan manfaat BPJS. Tapi pemahaman itu belum sepenuhnya tertanam.
“Masih banyak yang belum punya BPJS. Mereka ini baru mau daftar kalau sudah sakit parah. Padahal kalau sudah sakit berat, itu malah sulit. Bisa-bisa terlambat tertangani, karena harus mengurus ke sana-sini," keluh Fauzi.
Fauzi tahu, tantangannya bukan sekadar menyembuhkan yang sakit. Ia juga harus melawan stigma dan kebiasaan lama: bahwa jaminan kesehatan dianggap tak penting sebelum tubuh ambruk.
Banyak warga yang memilih menunda, bahkan berharap bisa mendapatkan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah karena kondisi ekonomi yang sulit.
“Mayoritas warga di sini nelayan atau petani kelapa. Penghasilan tidak tetap. Jadi wajar kalau mereka berharap dibantu iurannya dari pemerintah,” jelas Fauzi.
Namun ia tidak menyerah. Meski sebagian pasien datang dalam kondisi darurat tanpa jaminan kesehatan, ia tetap melayani. Mengusahakan pertolongan semampunya.
Dan di sela tugas medisnya, ia terus menyampaikan pesan yang sama: daftarlah sejak sehat, bukan setelah terbaring lemah.
“Kesadaran itu memang belum tumbuh sepenuhnya. Tapi kami tidak lelah mengingatkan. Karena saya tahu, di sini, satu-satunya harapan mereka ya kami di Pustu ini,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memperluas cakupan jaminan kesehatan, terutama untuk kelompok rentan. Peningkatan akses dan edukasi terkait pentingnya perlindungan kesehatan menjadi kunci dalam memperluas jangkauan jaminan sosial.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan. Namun keterbatasan akses ke daerah-daerah pelosok menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mengatasi hal itu, tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik, kini menjadi garda terdepan dalam mensosialisasikan pentingnya jaminan kesehatan kepada masyarakat.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Bagian Penjaminan Manfaat dan Utilisasi BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru, Delila Melati saat berbincang bersama Tribun di kantornya di Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru, Jumat (18/7/2025).
Menurutnya, petugas kesehatan di lapangan memiliki peran strategis karena mereka yang paling dekat dengan masyarakat.
"Kami memiliki keterbatasan dalam menjangkau pelosok negeri. Maka dari itu, tenaga medis di lapangan sangat kami andalkan untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat agar peduli serta sadar akan pentingnya mendaftar ke dalam program BPJS Kesehatan," ujarnya.
Apresiasi
Pengabdian Fauzi sebagai tenaga medis di pelosok negeri ini tak hanya menyentuh hati masyarakat setempat, tetapi juga mendapat perhatian dari pemerintah provinsi.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Sri Sadono Mulyanto, memberikan apresiasi atas dedikasi luar biasa Fauzi yang tetap setia melayani masyarakat di tengah berbagai keterbatasan.
“Fauzi adalah salah satu contoh nyata tenaga kesehatan yang bekerja dengan hati,” ujar Sri Sadono yang akrab disapa Ibeng ini.
Sebab kata Ibeng, tidak banyak tenaga medis yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil dengan medan sulit, fasilitas terbatas, dan tantangan geografis yang berat. Tapi Fauzi membuktikan bahwa pengabdian bisa melampaui batas administratif dan kenyamanan pribadi.
Ibeng menilai bahwa kehadiran tenaga medis seperti Fauzi di wilayah pelosok sangat penting untuk menjamin akses layanan kesehatan yang merata di seluruh pelosok Riau.
“Yang dilakukan Fauzi itu bukan pekerjaan mudah. Tapi justru dari sanalah kita belajar arti sebenarnya dari pelayanan publik. Pemerintah harus hadir untuk mendukung, bukan hanya memberi pujian,” kata Ibeng. (Syaiful Misgiono)
| SIAP-SIAP, Pekanbaru Job Fair 2026 Digelar Mulai 17 Juni Mendatang |
|
|---|
| SIM Keliling Pekanbaru Hari Ini Senin 18 Mei 2026 di Purna MTQ, Manfaatkan Masa Tenggang |
|
|---|
| Sentra Sayur di Lahan Lanud Pekanbaru, Di Poktan Mustang, Sayur dan Rejeki Tumbuh Seiring |
|
|---|
| Cuaca Riau Hari Ini Didominasi Cerah Berawan, Hujan Diprakirakan Turun Sore Hari |
|
|---|
| Tiga Daerah Rawan Narkoba di Pekanbaru Jadi Target Operasi Polisi Sekaligus, Ini Hasilnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/tenaga-pustu-kuala-selat-kateman-inhil-bawa-pasien-pompong.jpg)