Senin, 4 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Proyek Energi Terbarukan Harus Libatkan Masyarakat, Terapkan Prinsip Berkelanjutan

diskusi panel bertajuk "Community Empowerment for the National Energy Transition" yang digelar di Paviliun Indonesia Pada Konferensi perubahan Iklim

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sesri
ISTIMEWA
Diskusi panel bertajuk "Community Empowerment for the National Energy Transition" yang digelar di Paviliun Indonesia Pada Konferensi perubahan Iklim COP28 UNFCCC, Dubai, Uni Emirat Arab 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari solusi menghadapi perubahan iklim harus menerapkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan dalam pelaksanaannya.

Di lapangan proyek yang dibangun juga perlu melibatkan masyarakat mengingat beragamnya potensi EBT di Indonesia.

Demikian terungkap dalam diskusi panel bertajuk "Community Empowerment for the National Energy Transition" yang digelar di Paviliun Indonesia Pada Konferensi perubahan Iklim COP28 UNFCCC, Dubai, Uni Emirat Arab, Sabtu (2/12/2023).

Hadir sebagai pembicara pada sesi tersebut Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Haris Yahya, Corporate Secretary PT Pertamina Brahmantya S Poerwadi, Ketua Yayasan Bambu Lestari Monica Tanuhandaru, dan Program Officer International Renewable Energy (IRENA) Ilina Stefanova.

Haris menekankan bahwa pemanfaatan EBT sebagai transisi energi harus melibatkan masyarakat sebagai bagian dari aksi menghadapi perubahan iklim.

"Keterlibatan masyarakat untuk pengembangan EBT sangat penting. Terlebih, Indonesia memiliki potensi EBT yang beragam," katanya.

Potensi EBT Indonesia diperkirakan mencapai 3.687 GW. POtensi tersebut terdiri atas energi hydro sebesar 95 GW, bioenergi (57 GW), tenaga angin (155 GW), geothermal (23 GW), tenaga arus laut (63 GW). Sementara EBT yang sudah termanfaatkan baru sebesar 12.762 MW saja..

Untuk mendorong pemanfaatan EBT, Indonesia mendorong peningkatan bauran energi. Pada tahun 2025 mendatang, EBT diharapkan bisa berkontribusi hingga 23 persen dari penyediaan energi primer nasional.

Baca juga: Agroforestri di Perhutanan Sosial Mampu Berkontribusi pada Pencegahan Perubahan Iklim

Brahmantya S. Poerwadi menjelaskan pihaknya bersinergi bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi, untuk mendorong kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta kemandirian energi dalam pengembangan EBT. Tiga program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) Pertamina adalah Desa Energi Berdikari, Desa Wisata Pertamina dan Hutan Pertamina.

Dia menjelaskan, Pertamina memiliki 76 program komunitas untuk Desa Energi. Rinciannya, 57 program merupakan program pembangkit listrik tenaga surya, 12 program pengelolaan sampah menghasilkan gas metana dan biogas, empat program energi mikrohidro, dua program konversi energi biodiesel dari limbah rumah tangga, serta satu program pembangkit listrik tenaga campuran angin dan surya.

Kemudian ada 57 pembangkit listrik tenaga surya untuk menghasilkan energi listrik, 12 program yang menghasilkan gas metana dan biogas, 4 menggunakan energi mikrohidro, 2 program biodiesel yang dikonversi dari limbah rumah tangga, dan 1 program hybrid antara energi surya dan angin.

Program DEB menghasilkan total energi 287.519 watt peak dari pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik tenaga hybrid (matahari dan angin), dan mikro hidro. Selain itu juga menghasilkan 609.000 m3 per tahun dari gas metana dan biogas, serta 6.500 liter biodiesel per tahun.

76 program Desa Energi Berdikari ini sudah memberikan keuntungan bagi 4.113 rumah tangga dengan total dampak ekonomi sebesar Rp1,93 miliar per tahun serta mengurangi emisi sebesar 714.859 ton CO2eq per tahunnya.

"Kami memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai solusi kebutuhan energi masyarakat yang semakin meningkat. Pertamina berkolaborasi dengan berbagai elemen pemangku kepentingan, karena Pertamina meyakini energi bersih dan mudah diakses, akan membuka jalan bagi pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian berkelanjutan," jelas Brahmantya.

Program kedua, yakni Program Desa Wisata untuk mewujudkan masyarakat mandiri berkelanjutan. Program ini mendukung pemerintah untuk menargetkan destinasi pariwisata super prioritas, dimana saat ini Pertamina mendukung pengelolaan 794 homestay yang merupakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Program ini memberikan dampak bagi 5.500 orang penerima manfaat, dengan peningkatan ekonomi masyarakat hingga Rp600 juta per tahun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved