Selasa, 9 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Berita Pekanbaru

Demi Bertahan Hidup, Banyak Pengungsi Rohingya di Pekanbaru Jadi Buruh Kasar

Berkurangnya bantuan bagi pengungsi Rohingya di Pekanbaru membuat sebagian dari mereka harus mencari cara untuk bertahan hidup.

Tayang:
Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Muhammad Ridho
Tribun Pekanbaru/Nasuha Nasution
Ratusan pengungsi Rohingya masih bertahan di depan kantor perwakilan penyaluran dana sosial dan International Organization for Migration (IOM) di Jalan Wan Abdul Jamil, kawasan MTQ, Pekanbaru, Jumat (22/5/2026). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berkurangnya bantuan bagi pengungsi Rohingya di Pekanbaru membuat sebagian dari mereka harus mencari cara untuk bertahan hidup.

Di tengah keterbatasan yang ada, sejumlah pengungsi diketahui mulai bekerja bersama masyarakat lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan yang dijalani para pengungsi umumnya berada di sektor informal, seperti buruh bangunan, penggali parit, hingga berbagai pekerjaan kasar yang membutuhkan tenaga fisik.

Meski status mereka sebagai pengungsi membuat ruang gerak terbatas, sebagian warga tetap memanfaatkan tenaga mereka untuk berbagai proyek pekerjaan.

Seorang mandor proyek bangunan di Pekanbaru, Aldi, mengaku telah beberapa kali menggunakan jasa tenaga kerja pengungsi Rohingya untuk membantu pekerjaan proyek yang ditanganinya.

Menurut Aldi, para pengungsi tersebut dinilai memiliki etos kerja yang baik dan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.

Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk membayar mereka juga relatif lebih rendah dibandingkan tenaga kerja lokal.

"Mereka istirahatnya pas makan saja, dan kerjanya cepat. Tenaga-tenaga kuat," ujar Aldi kepada Tribunpekanbaru.com Minggu (7/6/2026).

Baca juga: Pengungsi Rohingya di Pekanbaru Mulai Meminta-minta Untuk Bertahan Hidup

Baca juga: Seminggu Gelar Aksi Tuntut Bantuan, Pengungsi Rohingya di Pekanbaru Mulai Lemas Akibat Tidak Makan

Ia mengatakan para pengungsi Rohingya kerap dilibatkan dalam pekerjaan berat seperti penggalian parit, pembuatan lubang pembuangan, hingga pekerjaan konstruksi yang membutuhkan tenaga fisik besar.

Aldi mengaku pertama kali mengenal para pengungsi tersebut melalui rekannya beberapa waktu lalu.

Sejak saat itu, ia beberapa kali mengajak mereka bekerja karena dinilai tidak merepotkan dan bersedia mengerjakan pekerjaan yang tersedia.

Meski memahami adanya persoalan legalitas terkait pekerjaan yang dilakukan pengungsi, Aldi mengaku memiliki pertimbangan kemanusiaan. 

Menurutnya, kondisi hidup para pengungsi yang serba terbatas membuat mereka membutuhkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan.

Selain bekerja sebagai buruh bangunan, sebagian pengungsi Rohingya juga memilih tinggal di kawasan pinggir Sungai Siak.

Mereka memanfaatkan sungai tersebut untuk mencari ikan sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved